NIKAH campur, atau nikah beda agama, mungkin tidak ideal bagi banyak orang. Namun bagi Oci Tanubrata, hidup bersama istri yang tidak seiman, justru membuatnya semakin dekat dengan Tuhan. Pria kelahiran Cirebon, Jawa Tengah pada 1950 ini menikah dengan seorang putri tokoh agama yang berdomisili di Malang, Jawa Timur. Keluarga istri sebenarnya ngotot agar keduanya menikah di Pengadilan Agama. Namun karena Oci tidak mau menikah berdasarkan agama calon istrinya, akhirnya pasangan ini menikah di kantor catatan sipil pada 1981.
Kini pasangan ini dikaruniai dua anak yang sudah beranjak dewasa. Namun kedua anak yang semasih kecil lebih dekat ke ibu mereka, akhirnya mengikuti keyakinan ibu mereka. Padahal tadinya Oci dan istri sepakat bahwa menyangkut agama anak-anak, hal itu akan diserahkan berdasarkan pilihan anak-anak. Namun karena di masa itu Oci yang bekerja sebagai marketing sales sering bepergian dan jarang berkumpul dengan keluarga, maka anak-anak lebih dekat ke ibu mereka.
Tentang hal ini, Oci mengaku tidak bisa mengubah keadaan. Hanya Tuhanlah yang mampu mengubah hati seseorang. Namun sebagai pengikut Tuhan Yesus, Oci selalu berusaha memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan di mata keluarga besar sang istri, dia memang tampak “istimewa”. Bahkan mertua lebih menyayangi dia ketimbang menantu-menantunya yang lain. Salah satu keistimewaan itu adalah ketika Oci mampu mempertahankan pernikahan sekalipun berbeda keyakinan. Sementara di pihak keluarga yang lain, bila terbentur pada sesuatu masalah, begitu mudah untuk bercerai.
Oci yang sudah pensiun dari pekerjaan sejak 5 tahun lalu, mengaku selalu berusaha mengambil hikmah dari kehidupan keluarganya. Perbedaan keyakinan antara dia dan istri serta kedua anaknya, membuat dia semakin dekat dengan Tuhan. Meskipun banyak upaya dari pihak lain agar dia meninggalkan Tuhan, dia justru semakin bersemangat untuk menggali kebenaran Alkitab. Selain rajin dan rutin mengikuti ibadah di gereja, dia juga belajar di sekolah Alkitab.
Banyak hal atau pengalaman hidup yang membuat Oci semakin yakin akan penyertaan Tuhan. Misalnya, beberapa tahun lalu, dia bisa terhindar dari perbuatan nista yang sangat dibenci Tuhan, setelah memohon kekuatan dari Tuhan. Tentang ini dia bercerita sewaktu dirinya masih muda, dan punya banyak teman yang bekerja di perusahaan perminyakan (off shore). Sebagai orang yang bekerja di tengah laut, sering mereka harus berada di laut selama berminggu-minggu. Dan jika ada waktu kembali ke daratan, yang pertama mereka cari biasanya adalah wanita penghibur. “Waktu itu saya ingat betul ada tempat di kawasan Pasar Rebo yang menjadi tempat favorit mencari wanita,” kenang warga Pondok Aren, Tangerang ini.
Waktu itu biasanya teman-temannya yang lain sudah langsung “larut” dengan kehidupan malam yang menyediakan banyak kepuasan dan kenikmatan. Bisa dimaklumi, mereka sudah berminggu-minggu di tengah laut, dan bila berada di darat, maka yang pertama dicari adalah wanita. Oci sebenarnya juga ingin mengikuti jejak rekan-rekannya, apalagi dia juga sudah membooking perempuan. Dalam kebimbangan, dia berdoa minta Tuhan memberikan petunjuk. Dan setelah berdoa, dia merasa betapa kuasa Tuhan membimbing hatinya sehingga tidak sampai jatuh ke lembah kemaksiatan yang sangat dimurkai Tuhan itu. “Itulah salah satu pengalaman betapa Tuhan itu menyertai jika kita berserah pada-Nya,” kata Oci yang sejak beberapa tahun lalu hanya punya sebelah mata yang berfungsi.
Nyaris buta
Ada lagi pengalaman batin yang menyadarkan Oci bahwa Tuhan ternyata sering mengabulkan permintaan kita tanpa kita sadari. Setelah pensiun, dia banyak bekerja di dapur rumahnya, karena mereka membuka usaha kue. Suatu hari ketika sedang sibuk, mata kirinya yang masih berfungsi itu dirasakan tidak beres. “Seolah ada kecap menetes-netes di penglihatan saya,” kisahnya. Akhirnya dia ke dokter mata. Menurut dokter, pembuluh darah di mata pecah dan darah itu mengendap di retina. Dokter itu hanya memberikan obat. Namun dia mulai merasakan ketakutan yang luar biasa. Soalnya bila siang hari di luar, tidak ada masalah dengan penglihatannya. Namun ketika di rumah, semua orang yang dia lihat bagaikan siluet. Dengan panik dia pun bergegas ke seorang dokter ahli mata yang terkenal jago. Di situ ketahuan kalau trombositnya super, di atas rata-rata normal.
Tiga hari kemudian dia di operasi. “Waktu operasi saya takut banget. Mata saya kan tinggal satu. Kalau operasi gagal, saya tidak punya mata lagi. Maka tiada jalan lain saya pasrahkan saja kepada Tuhan. Biarlah apa yang terjadi sesuai dengan kehendak-Nya,” tutur jemaat Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran ini. Dalam operasi, dokter melubangi matanya supaya darah yang menggumpal keluar. Setelah itu dokter menaruh semacam bola silikon ke matanya. Sekalipun demikian pandangan matanya belum begitu normal. “Tiang listrik tidak ada yang lurus saya lihat,” katanya mengingat bagaimana bingung dan gelisahnya dia ketika itu. Namun dia terus-menerus berdoa supaya Tuhan memulihkan matanya.
Suatu waktu, dia diajak temannya untuk latihan menembak. Dulu dia memang hobby berburu, tetapi sudah sembilan tahun tidak pernah memegang senjata lagi. Dari sembilan peluru yang dia tembakkan dari jarak 300 meter, ternyata enam tepat mengenai sasaran. Di situ dia tahu bahwa matanya itu sudah normal. “Tanpa saya sadari, enam bulan saya sudah sembuh,” urainya seraya tidak henti-hnbeti mengucap syukur pada Tuhan. “Di satu pihak saya minta kesembuhan, tetapi saya tidak memperhatikan bahwa Tuhan sudah memberikan kesembuhan itu. Saya benar-benar malu sama Tuhan, dan sampai berlutut minta ampun dan berterimakasih,” ujarnya berbinar. Bahkan matanya yang tinggal satu itu kini lebih tajam dibanding sebelumnya. Jika tadi harus pakai kacamata kalau jarak jauh, kini tidak perlu lagi. “Dokter boleh ahli dalam peralatan, tetapi kesempurnaan kesembuhan, tetap Tuhan,” katanya. ? Hans P Tan