Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Konsultasi Keluarga

Seks Dan Keutuhan Keluarga

Posted : 27 September 2011

Bimantoro

Dear Konselor, saya Vina (40 tahunan), sudah menikah 10 tahun, dan punya dua anak. Pertanyaan saya adalah apakah hubungan seks itu penting bagi kehidupan pernikahan? Bagi saya rasanya kesetiaan dan tanggung-jawab lebih penting, apalagi saya bekerja dan kesibukan bekerja serta mengurus dua anak seringkali membuat saya malas melayani suami. Mencintai seseorang kan seharusnya tidak harus rutin berhubungan seks? Perlu diketahui kami sudah tidak berhubungan selama lebih dari enam bulan tetapi kami masih tidur sekamar. Akhir-akhir ini suami saya mengeluh pada mama saya tentang hal ini. Ini membuat saya tambah jengkel dan lebih malas lagi melayani dia. Rasanya suami saya hanya mau enaknya saja sendiri dan tidak mau tahu kelelelahan saya. Seharusnya dia sadar,  kalau saya tidak bekerja bagaimana keluarga bisa sampai ke level kehidupan saat ini. Mohon sarannya.
Vina
Bandung

Vina, tuntutan hidup saat ini rasanya memang bisa membuat kehidupan wanita menjadi tidak mudah, di samping harus mempertahankan fungsi sebagai ibu yang melahirkan anak, kemudian membesarkan anak, juga harus tetap menjaga fungsi sebagai ibu rumah tangga yang memastikan semua urusan rumah tangga beres, ditambah lagi harus bekerja membantu suami untuk kelangsungan hidup keluarga. Tekanan kondisi tersebut bisa membuat kita menjadi lelah, sehingga tanpa kita sadari kita menjadi lebih fokus pada hal-hal yang menurut kita lebih utama yaitu bagaiman bertahan hidup dan kemudian mengurangi perhatian kita pada relasi yang harus dibangun bersama pasangan kita.
Sebagai masukan untuk Vina, saya mengajak Vina untuk merenungkan beberapa hal sebagai berikut: 1) Dalam pernikahan, saya melihat paling tidak ada tiga hal penting yang harus dijaga yaitu: Komitmen, Keintiman dan Hasrat (ketertarikan secara) fisikal. Ketiga hal tersebut idealnya terbentuk seperti sebuah segitiga sama sisi, di mana pasangan suami isteri terus menjaga keseimbangan ketiganya. Pernikahan tanpa komitmen tentunya akan menjadi pernikahan yang tidak bertanggung jawab di mana bisa saja terjadi perselingkuhan atau tidak mau bertanggung-jawab untuk kehidupan keluarga atau menyesuaikan peran dalam kehidupan yang tentunya berbeda antara kehidupan bujangan dan pernikahan. Hal yang kedua adalah keintiman. Menjaga komitmen tentu penting, tetapi rasanya menjaga komitmen saja, walaupun baik bagi pernikahan itu sendiri, rasanya kurang lengkap ketika pasangan tersebut tidak lagi mempunyai keinginan untuk menikmati waktu bersama seperti rekreasi atau makan malam berdua atau pergi berdua, atau kegiatan berdua lainnya yang diharapkan bisa semakin mendekatkan pasangan satu dengan lainnya. Yang ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah Hasrat Fisikal, di mana hubungan seks adalah salah satu sarana yang membuat ikatan pernikahan menjadi semakin kuat. Hubungan seks tidak selalu diakhiri persetubuhan, tetapi bisa juga terjadi dalam sentuhan-sentuhan baik itu dalam bentuk dekapan, berpegangan tangan, saling tatap di mana perasaan cinta dikomunikasikan melalui bahasa tubuh dan membuat masing-masing merasa yakin bahwa pasangannya masih mencintainya. Jadi hubungan seks pun tidak sekadar memuaskan libido / kebutuhan biologis semata. Ketika hubungan seks hanya dilihat sebagai sarana memuaskan libido / kebutuhan biologis semata, maka bisa saja muncul perasaan-perasaan negatif yang akhirnya membuat kualitas dan keinginan untuk berhubungan menjadi semakin berkurang. Firman Tuhan dalam Kejadian 2: 24 bisa direnungkan untuk mendasari hal pertama ini.
2) Peran istri sebagai Penolong yang Sepadan (Kej 2: 18), tentunya tidak boleh melampaui apa yang seharusnya dikerjakan kaum pria / suami, artinya apa pun yang dikerjakan oleh isteri, walaupun kemudian hasilnya bisa lebih baik dari suami, tentunya tidak boleh sampai membuat suami kehilangan peran sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu suami sebagai kepala (Efesus 5: 23). Dalam konteks inilah, Tuhan menghendaki para isteri untuk mendukung suami sehingga mereka bisa menjalankan peran yang diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan mereka. Peran istri menjadi penolong yang sepadan tentunya merupakan tanggung-jawab yang luar biasa, bukan hal yang mudah. Untuk itu apa pun yang isteri lakukan (secara sukarela) seharusnya membuat suami semakin baik dalam melaksanakan peran mereka dan bukan sebaliknya membuat mereka menjadi pribadi yang tidak matang baik secara spiritual maupun secara psikologis.
Dari kedua hal tersebut di atas, perlu Vina renungkan, yang pertama, kira-kira apakah yang dikerjakan selama ini semakin membuat suami menjadi suami yang memuliakan Tuhan? Yang kedua, kalau Vina merasa sudah melakukan hal yang terbaik bagi keluarga, apakah Vina juga sudah melakukan hal yang terbaik bagi pernikahan Vina (relasi suami isteri)? Berkaitan dengan hal yang kedua tersebut, coba Vina pikirkan apakah betul bahwa keinginan suami untuk berhubungan semata-mata untuk memuaskan kebutuhan biolois, atau jangan-jangan merupakan cara dia untuk lebih mendekatkan diri pada istri dan meyakinkan dirinya bahwa dalam pernikahan ini masih ada hasrat untuk saling memuaskan dan melengkapi, sehingga tiga hal penting dalam pernikahan (komitmen, keintiman dan hasrat fisikal) tetap terjaga dengan baik. Kiranya Tuhan Yesus Kristus menolong Vina dalam masalah yang Vina hadapi.v

Tags : keluarga, seks
0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.386 sec | TOP
Tags : Keluarga Seks
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net