Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
www.inspirasijiwa.com
Sebagian orang tidak menemukan jawaban yang memuaskan, terhadap realita penderitaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Seringkali orang bertanya: “Jika Allah ada, dan jika Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan banyak kejahatan terjadi di dunia ini? Mengapa Allah membiarkan pengalaman-pengalaman tragis terjadi di dalam kehidupan banyak orang?” Pertanyaan itu lebih sering diajukan, jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang yang dianggap baik. Bukan pelaku kriminal, tetapi orang-orang yang sangat setia beribadah, dan melayani. Misalnya ketika mereka mengalami penyakit kronis yang mematikan, ada dokter yang salah mengoperasi, sehingga lumpuh atau makin parah. Mungkin saja anaknya diperkosa, bisnisnya gagal total, atau orang yang sangat dikasihi meninggal dunia, dan sebagainya.
Bagaimana mengaitkan kebaikan dan kasih Allah, dengan peristiwa-peristiwa ‘buruk’ yang terjadi dalam kehidupan seperti itu? Dan bagaimana kita mampu melihat dari perspektif Allah, ketika Ia mengijinkan penderitaan berat terjadi, menimpa diri kita, atau keluarga kita. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mendefinisikan beberapa hal terlebih dahulu, seperti kata ‘hal buruk’dan “orang baik.”
Suatu kali seorang muda datang kepada Tuhan Yesus dan berkata: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kemudian Tuhan Yesus : “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik, selain dari pada Allah saja.”(Mrk 10:17-18). Tuhan Yesus menegaskan, bahwa di dunia ini tidak ada orang yang baik, dan hanya Allah saja pribadi yang baik. Seperti tertulis dalam kitab Roma “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” (Roma 3:10-12).” Hal ini juga mengingatkan kita bahwa kebaikan yang ada pada manusia, khususnya pada orang-orang Kristen, bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi bersumber dari kehadiran Allah di dalam dirinya. Dengan pemahaman ini, sebetulnya sulit membuat pertanyaan, “mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?”, karena orang baik itu tidak ada. Alkitab selalu menekankan, bahwa seseorang menjadi baik, setelah ia diselamatkan, dibenarkan, dan diampuni dosa-dosanya, bukan pada dirinya ia benar dan baik ,tetapi oleh anugerah Allah (Ef 2:8-10) .
Yang Buruk tidak Selamanya Buruk
Definisi tentang suatu yang buruk pun, dapat dipahami berbeda-beda oleh setiap orang. Bagi yang seseorang suatu peristiwa sangat buruk, namun bagi yang lain biasa-biasa saja. Selain itu, apa yang kita anggap buruk pada awalnya, ternyata justru merupakan kebaikan pada akhirnya. Bukankah kita sering mengalaminya? Dalam tragedi 11 September 2001 di New York, diceritakan tentang seorang karyawan yang sangat ketakutan dipecat dari pekerjaannya, karena ia terlambat masuk kantor hari itu, namun ketika tiba di area perkantoran, ia sudah melihat kematian ribuan orang yang ditimpa reruntuhan bangunan. Saat itu menjadi suatu rasa syukur, bukan karena menoleransi keterlambatannya, namun karena ia selamat dari tragedi itu. Demikian juga jika kita, melihat pengalaman hidup Yusuf di Alkitab, ketika penderitaannya dimulai dengan kebencian dan iri hati saudara-saudaranya. Hal itu berlanjut dengan menjual Yusuf kepada bangsa lain, dan terus menerus Yusuf berada dalam kesusahan di negeri orang. Pada akhirnya, ia sendiri yang menyimpulkan bagaiman Allah merajut yang baik melalui peristiwa buruk: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kej 50:20).
Mengapa ‘Hal Buruk’ Terjadi?
Contoh yang lebih tegas bagi lagi adalah pengalaman kehidupan Ayub. Ketika Ayub mengalami tragedi kematian sepuluh anak-anaknya, dan kehilangan semua kekayaannya, termasuk kesehatan, bahkan provokasi dari isterinya yang sangat sinis. Respon Ayub adalah, mengoyakkan jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujud dan menyembah. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Dalam semua peristiwa itu, Alkitab menyaksikan bahwa Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut,(Ayub 1:21-23). Alkitab menyaksikan, bagaimana Ayub tidak mempersalahkan Allah dalam peristiwa itu. Ayub menerima dengan iman, bahwa Allah memang berdaulat atas setiap peristiwa, dan Allah adalah sumber pemberi segala sesuatu. Pada akhirnya, Ayub sendiri menyimpulkan, bagaimana peristiwa tragis dalam hidupnya mempertemukannya secara pribadi dengan Allah, yang Agung sang pencipta.
Beberapa hal yang dapat kita simpulkan, mengenai mengapa ‘hal buruk’ terjadi pada kehidupan orang percaya. Penderitaan dapat terjadi, sebagai cara dan alat Allah untuk menyatakan rencana, dan kehendak-Nya bagi kita. Hal yang sering dikaitkan dengan topik ini, juga adalah faktor kehendak bebas, (freewill), yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia. Kejatuhan manusia dalam dosa, (Kej. 3) memang dimungkinkan oleh karena adanya faktor freewill, namun tanpa freewill, manusia juga tidak bisa berbuat apa pun. Kasih tidak akan ada dalam diri manusia tanpa kehendak bebas, kasih menjadi indah dan sempurna, oleh karena ada kehendak bebas yang sudah dimurnikan oleh kasih Kristus di kayu salib, (Yoh 3:16; 1Yoh 4:9-10).
Hal-hal buruk atau penderitaan, dapat terjadi oleh karena hukum sebab akibat, kesalahan kita sendiri, kecerobohan, kelalaian atau kesengajaan seseorang melakukan sesuatu, yang merugikan diri sendiri atau orang lain, termasuk kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini. Dampak kejatuhan yang terjadi di taman Eden, juga merupakan penyebab utama penderitaan manusia, dan di sana juga Tuhan memberikan kutukan kepada manusia dan alam semesta (Kej 3:14-17). Kejahatan manusia begitu besar, dan sifatnya menyebar (Kej 6:5, Yer 17:9). Di satu sisi ada peristiwa-peristiwa yang dapat kita mengerti, dan terima sebagai cara dan alat Allah membentuk dan mengendalikan hidup kita, di sisi lain banyak misteri yang tidak dapat kita pahami. Namun Alkitab juga menegaskan, bahwa hidup yang kita miliki, adalah hidup karena anugerah dan dalam kasih Allah (Maz 103). Ketika kita tidak mampu memahami agenda Allah, atau ketika Ia mengijinkan dan membiarkan sesuatu yang “buruk” terjadi dalam hidup kita dan dalam dunia ini, maka kita harus memiliki kepekaan untuk memahami maksud-maksud Tuhan. Hanya dengan pengenalan akan Tuhan dan memahami Firman-Nya, maka kita dapat memahami maksud-maksud-Nya dalam hidup ini. Hidup penuh syukur, menerima kedaulatan-Nya dan taat pada-Nya, adalah cara terbaik menghidupi hidup yang dianugerahkan Allah. Soli Deo Gloria.