Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Konsultasi Keluarga

Ayah Berhutang Anak Tertekan

Posted : 28 Oktober 2011

Bimantoro

Konselor  yang terhormat, Nama saya JD, pria, berumur 28 tahun. Saya menulis ini karena saya sudah muak dengan kondisi di rumah. Khususnya terhadap Ayah saya sendiri. Ayah itu orangnya tidak bisa dipercayai, dan seringkali mengelabui kami sekeluarga di rumah. Ayah saya pernah kabur dari suatu kota karena masalah hutang yang amat-sangat besar, sehingga kehidupan keluarga jadi berantakan, dan akhirnya kami pindah di kota lain. Memalukan memang, tapi itu kenyataannya. Saya sendiri tinggal di kota lain (kota yang berbeda dengan ayah), tapi terpaksa kembali ke kota yang sama dengan ayah, karena dia kembali berhutang gila-gilaan, dan saya takut ia merugikan dan menghancurkan keluarga kami lagi. Saya tidak tahu apakah dia memiliki gejala kejiwaan? Karena dia selalu berhutang kemana saja, dan termasuk membayar hutangnya dengan hutang. Beruntung belum ada debt-collector datang ke rumah kami untuk saat ini. Tapi sebelumnya sudah banyak orang yang ingin membunuh atau memenjarakan dia. Terus terang saya sangat khawatir dengan keselamatannya, meski di sisi lain saya amat sangat marah, dan jengkel terhadapnya. Ayah kembali berhutang sejak ibu meninggal 2 tahun lalu. Saya sendiri anak bungsu, namun kedua kakak (perempuan) sepertinya tidak perduli, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dalihnya selalu keluarga mereka sendiri dan suami yang melarang mereka ikut campur. Tapi saya sebagai orang yang tinggal dengan ayah juga sudah amat sangat tidak tahan. Pernah suatu saat saya ingin menyerahkan ayah kepada orang yang dia hutangi, dan membiarkan dia bertanggung jawab atas tindakan yang dia lakukan sendiri. Meski setelah itu saya juga tidak rela. Tapi apa yang harus saya lakukan ya pak? Saya sendiri ingin memiliki kehidupan sendiri dan tidak pusing dengan urusan Ayah ini. Mohon bantuannya ya pak.
JD
somewhere.

Salam JD, membaca dan mendengar email yang JD sampaikan kepada kami, sungguh terasa kekecewaan, kemarahan, dan kekesalan yang JD rasakan terhadap ayah. Memang tidaklah mudah, mengatasi kemelut seperti ini dengan berjuang sendiri. Pasti perasaan lelah atau capek, jenuh, dan tertekan akan selalu kita rasakan selama masalah ini belum tuntas. Apalagi mengingat JD adalah satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarga, maka pada umumnya perasaan untuk mengambil tanggung jawab sangatlah besar.  Ditambah kondisi saudara-saudara perempuan JD yang memang sepertinya tidak mampu memberi kontribusi apa-apa. Sehingga tidak heran, kalau dalam situasi seperti itu kita merasa habis tenaga dan tidak lagi ingin dipusingkan dengan masalah ini. Andaikan ada solusi untuk menghilang dari situasi dan kondisi ini, kita pasti akan segera mengambilnya.
Saya yakin, seperti orang kebanyakan, kita pasti menginginkan kehidupan keluarga yang tenang, nyaman, dan damai, serta tidak terlalu banyak perubahan dan pergolakan dalam keluarga. Tapi jika kita mengalami sebaliknya, maka kita akan bertindak begitu reaktif dan tanpa kita sadari kita bisa menjadi orang yang agresif pula. Meski di satu sisi kita sadari, sikap kita ini tidak memberikan dampak positif terhadap pribadi atau persoalan yang kita hadapi sekarang ini.
Mengenai ayah, sayang JD tidak menceritakan sejak kapan kira-kira masalah ini muncul dan menjadi sebuah pola dalam diri Ayah. Sebetulnya permasalahan ini adalah kondisi yang unik dimana ada berbagai macam pemicu yang bisa membuat seseorang terlibat masalah hutang-piutang secara dalam. Misalnya meninggalnya Ibu, mungkin selama ini Ibu yang menjalankan roda ekonomi dalam keluarga, sehingga ketidakhadirannya itu membuat Ayah terpaksa menghutang. Sedikit demi sedikit lalu menjadi bukit.  Atau juga karena terbentur keinginan memiliki usaha, sehingga terpaksa meminjam modal namun ternyata gagal.  Ini pun bisa membuat hutang menjadi menggunung. Apalagi dengan adanya faktor krisis moneter Negara yang terjadi, itu pun akan mempengaruhi.
Namun dari yang JD katakan, bahkan dalam tulisan JD yang menduga bahwa Ayah memiliki gejala kejiwaan, saya menduga bahwa masalah ini memiliki faktor pendorong yang lebih kompleks daripada sekedar pemicu tadi. Ada kemungkinan bahwa Ayah telah memiliki pola, kebiasaan berhutang dan tidak bertanggung jawab ini sejak mudanya, bahkan mungkin sebelum menikah. Kebiasaan ini biasanya berhubungan erat dengan sistem keluarga dari Ayah.  Entah keluarga Ayah adalah keluarga yang tidak mampu, dan seringkali mengandalkan orang lain, sehingga membentuk kebiasaan yang sama dengan Ayah.  Atau bisa juga Ayah berangkat dari keluarga yang sangat miskin, sehingga baik keluarga maupun Ayah sendiri terbiasa berhutang.  Dan untuk menaikan status perekonomian keluarga, usaha atau bisnis, Ayah juga mengandalkan hutang. Bahkan ada kemungkinan di mana muncul orang-orang tertentu yang jika tidak hutang maka ia merasa rugi.  Sikap yang muncul dari orang-orang tersebut adalah sikap yang tidak bertanggung jawab dan merugikan orang lain serta keluarga. Kondisi ini seperti penyakit yang seolah-olah merupakan keharusan (tidak bisa tidak) untuk terus menerus berhutang demi kebutuhan atau kepuasan diri.
Jika benar apa yang telah disebutkan tadi ada dalam diri Ayah, maka sejujurnya amatlah sulit bagi kita secara pribadi untuk menolong ayah.  Apalagi jika kita mengharapkan perubahan yang signifikan. Kita akan kewalahan, dan memiliki kekesalan yang sangat. Padahal hati kecil kita sangat tidak ingin mengambil peran dan beban ini.  Memang, sebetulnya ada hal-hal lain dalam komponen hidup kita yang harus kita kerjakan dengan baik, daripada memenuhi pikiran kita dengan pemikiran bagaimana membereskan hutang-hutang Ayah.
Sungguh kita perlu bersujud bertelut dan memohon Roh Kudus mempertobatkan hati Ayah. Di sisi lain kita juga perlu membawa Ayah kepada konselor professional yang bisa membantu memberikan kesadaran, dan memikirkan strategi-strategi perubahan yang bisa dilakukan oleh Ayah dan juga keluarga.  Bahkan ada baiknya kita membawa serta diri kita, juga saudara-saudara yang lain sehingga kita bisa tetap kompak dalam menghadapi masalah ini. 
Silahkan hubungi Lifespring Counseling and Care Center di 30047780, atau kunjungi website kami di www.my-lifespring.com. Tuhan Yesus saja yang memberkati Saudara. JD. 

Tags : anak, ayah, hutang
100
1 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4256 sec | TOP
Tags : Anak Ayah hutang
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net