Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Garam Bisnis

Membangun Percaya Diri Rakyat

Posted : 30 Nopember 2011
gilad-shalit.jpg

Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id

TIDAK masuk akal rasanya melihat satu prajurit muda Israel, umur 22 tahun, Gilad Shlit, ditukar dengan 1027 tawanan Palestina. Sebandingkah nilai balas yang diterima negeri tersebut? Sekarang kita lihat secara efek psikologis terhadap pertumbuhan rasa percaya diri dan perilaku yang di timbulkannya. PM Netanyahu tentu berhitung dengan amat teliti, karena pesan yang ia sampaikan kepada tentara dan penduduknya sangat dalam. Dalam istilah leadership, ia sudah menghitung semua cost–benefit-nya, sebagai negara yang dikelilingi oleh gabungan negara Arab, yang secara tradisional bermusuhan dengannya, melalui pembebasan itu. Negara yahudi ini mengirim satu pesan tunggal kepada penduduknya, seperti seorang ibu mengirim penegasan kepada anaknya:  “Engkau berharga di mataku,anakku. Berapapun ongkos yang harus aku keluarkan untuk membawamu pulang, akan aku lakukan. Engkau bukan orang sembarang. Ibu tidak akan membiarkan Engkau Sendiri”. 


Dengan pesan seperti itu, semua hulubalang negeri yahudi ini akan merasa aman, merasa secure. Mereka akan tahu tidak pernah ditinggal sendirian. Merekapun akan berjalan dengan tegap, karena merasa dirinya amat bernilai. Bayangkan saja perasaan yang timbul dalam diri Anda, kalau Anda sendiri yang di tukar dengan 1027 sandera.   Secara Public Relation, Hampir semua media pers dunia memberitakan hal ini, dan pemberitaan ini tentu memberikan angin yang positif bagi pemerintah Israel. Jadi mereka sebenarnya amat cerdik dalam memainkan strategi ini.

Membangun Kepercayaan diri Warga Negara
Setiap orang akan otomatis menjadi PeDe (percaya diri),kalau ia bisa berkata pada dirinya sendiri: “saya ini amat berharga, punya nilai yang tinggi, dan ia juga tahu ia kepunyaan siapa”. Jadi kalau seorang anak tahu ibunya itu jendral besar misalnya, tentu ia akan lebih pede daripada kalau ibunya orang biasa saja.
Lalu siapa yang bisa memberi kita stempel seperti itu, sehingga kita bisa tampil wajar, tidak takut-takut, tidak merasa kecil dan tidak layak. Orang yang merasa kecil dalam dirinya, sering kompensasi, mengkritik orang, mengancam dan tidak bisa melihat kebesaran dalam diri orang lain, tanpa ia sadari, dan tidak senang melihat orang lain maju.  Salah satu input yang penting adalah stempel dari orang tua dirumah, guru di sekolah atau atasan di kantor,  karena stempel itu manjur kalau di berikan oleh otoritas di atas kita, dan kita akan lebih percaya kalau diucapkan oleh orang  yang lebih senior.  Paling manjur, stempel itu kalau diucapkan oleh Negara, sebagai Ibu Pertiwi.

Teladan Negara Besar.
Strategi inilah yang dilakukan negara besar Amerika Serikat pada Agustus 2009, misalnya dengan mengutus mantan presiden Bill Clinton untuk membebaskan warganya, Laura Ling, wanita keturuanan Asia, yang ditahan Pemerintah Korea Utara 4 ½ bulan lamanya. Atau seperti yang di lakukan Israel kemarin.
Gilad seorang serdadu biasa, kopral muda umur 19 tahun, ditawan Hamas sekitar 5 tahun, kini sersan. Meskipun amat mahal, dan harus ditukar dengan 1027 orang untuk seorang kopral, Impact emosionalnya terhadap perkembang PeDe Tentara dan warga negara akan sangat tinggi.  Press Dunia memberitakan pesan ini menjadi headline sejagat. Orang bisa tidak suka atau punya sentimen pribadi dengan US atau Israel, itulah pesan yang sudah mereka kirimkan.


Tugas kita sebagai leader, sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai atasan adalah ikut memberi nilai, mengesahkan stigma nilai yang amat berharga itu kepada orang yang dipercayakan kepada kita. Maka mereka akan tumbuh dengan percaya diri yang hebat ketika besar, dan mental opositif akan berkurang.
Previledge yang dimiliki oleh Negara
Sebagai Negara, Ibu Pertiwi punya kewajiban dan previlage yang amat besar untuk memberi stigma positif pada anaknya, apakah anaknya disiksa sebagai TKW, dihukum gantung, dihukum pancung atau di tawan di negeri orang.  Meskipun satu orang, meskipun hanya prajurit kecil, Negara sejatinya harus bisa mengirim pesan: “jangan macam macam sama anakku, di manapun ia berada, mereka berharga di mataku’. Dengan langkah itu pula Ibu Pertiwi mengirim pesan ke 245 juta anaknya yang lain. Kalau itu yang terjadi, kita semua akan punya instrinsic values yang amat besar, bisa tampil tenang, aman, dan tidak punya pikiran  yang liar.  Kita menjadi tenang karena tahu tidak dibiarkan sendirian, ada Mama Pertiwi yang selalu mengingat anaknya dengan matanya yang tajam.


Kalau anak-anak Ibu Pertiwi itu secara kolektif menyumbang sekitar ¾ dari dapur belanja negara melalui pajak, maka anak-anak negeri adalah shareholder dari negara. namun sayang, alih-alih negara menyebut dirinya Ibu Pertiwi, dan tahu diri, ia justru membusungkan dada, menyebut dirinya Pemerintah (istilah ini peninggalan kolonial tampaknya, punya kata dasar: tukang perintah). Di negeri lain, yang diberi mandat itu hanya menyebut dirinya “Administration”, dan ini pun membuat anak-anak merasa makin Pede, ketimbang dihadapkan dengan kata “pemerintah”, maka impresinya  yang sampai adalah: tegap, kumis melintang, telunjuk teracung, memberikan Perintah. 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201120102009
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4092 sec | TOP
Tags : Percaya Diri
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net