Remaja belia berkecimpung di dunia seni musik dan vokal. Berkat kepiawaian dalam olah vokal dan bermain suling Batak, musisi belia Sammy L Tobing sudah melanglang buana ke 5 benua. 31 negara sudah disinggahinya. Kepiawaiannya itu telah terasah sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Dua bulan mempelajari nada dan mengatur nafas, anak penuh talenta ini sudah mahir memadukan keduannya (vokal dan suling Batak).
Kecepatan belajar membuatnya bersinar di usia muda. Jiwa seni remaja kelas satu SMP ini mengalir dari sang Ibu, Semiramis Zizlavsky yang menyukai seni lukis. Kecintaan terhadap suling Batak anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sam L Tobing dan Dr. Semiramis Zizlavsky ini berawal saat melihat video klip Viky Sianipar. Keinginannya mempelajari suling batak mendapat sambutan baik dari musisi Korem Sihombing. "Bang Korem, selain mengajari saya, juga memberikan saya 16 suling, dan saya ingin memajukan seni budaya batak,“ aku Sammy.
Dua kali Sammy tampil dalam Opera Batak di TIM (Taman Ismail Marzuki). Pernah main di kampung halamannya sendiri di Tarutung Medan dan Austria di kota Wina. Di Tarutung ia membawakan lagu gereja, sementara di Austria Sammy membawakan lagu pop Batak berjudul Beringin Sabatola. Anak muda berprestasi berkat seni yang digelutinya itu juga gemar menghibur teman dan keluarga, juga di sekolah Minggu di gerejannya yang tak jauh dari rumah. “Saya juga mengikuti sekolah Minggu di gereja, memainkan piano dan bernyayi bersama,” katanya.
Menurutnya, bernyanyi dan suling bukan sebagai cita-cita menjadi seorang seniman sampai tua. Tetapi, itu (bernyanyi dan memainkan suling Batak) tetap dijalani semuannya sebagai sampingan, bukan menjadi perkerjaan tetap saya. Soal ilmu pengetahuan, Sammy lebih tertarik kepada pembuatan pesawat terbang dan ia memang sudah pernah mengikuti latihan pilot di Belanda tahun 2000.
“Impian saya merancang sebuah pesawat seperti Pak B.J Habibie. Rencananya, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas langsung berangkat ke Jerman, mengejar cita-cita membuat pesawat,” ungkap Sammy semangat.
Selain berbakat merancang pesawat, ia juga mempunyai jiwa sosial seperti sang ayah Sam L Tobing yang tak pernah bisa melihat orang susah dipinggir-pinggir jalan – selalu memberikan nasi kotak pada mereka. Karena ini menjadi kemulian Tuhan di muka bumi.
Sammy menambahkan, jika di sekolah dia banyak mendapat pelajaran ekskul (ekstra kulikuler) kebudayaan daerah seperti angklung dan Tari Bali. Sammy melihat kebanyakan temannya lebih senang menggunakan alat musik yang sudah terkenal, mereka jarang mau memainkan alat musik dari daerahnya sendiri. “Selain mereka membawakan budaya diluar, seharusnya juga membawakan alat musik dari budayanya sendiri agar orang tahu kemajemukan kebudayaan seni di Indonesia,” harapnya.
Andreas Pamakayo