Keberadaan gereja seakan menjadi potret Hamba Tuhan, para Pendeta, juga jemaatnya. Gereja kaya, Pendeta kaya, serta jemaat kaya. Bagaimana mereka hadir di tengah-tengah realita kemiskinan masyarakat Indonesia yang hingga Maret 2010 mencapai 31 juta jiwa, walaupun telah mengalami penurunan 1,5% dari tahun sebelumnya.
Terkesan negatif dan aneh kalau seorang Pendeta terlihat kaya di tengah-tengah kehidupan umat yang masih miskin. Apakah Alkitab menyoroti hal yang sama terhadap kekayaan hamba Tuhan di jamannya?
Realita
Alkitab menuliskan dalam Perjanjian Lama bahwa Abraham, Ishak, Ayub adalah orang paling kaya di jamannya (Kejadian 13:2, 26:13, Ayub 1:1-3; 42:10). Bahkan sesungguhnya Tuhanlah yang membuat orang kaya dan miskin (1 Samuel 2 :7). Namun demikian, Pendeta Gilbert Lumoindong mengingatkan, kaya bukan tujuan, tetapi bonus dari Tuhan, karena ada teguran bagi mereka yang ingin kaya (I Timotius 6 :9).
Hal senada disampaikan Romo Franz Magnis Suseno bahwa kekayaan itu muncul hanya pada permulaan. Manusia diberi hidup yang panjang, diberkati, dilengkapi kekayaan seperti Abraham, Ishak, dan Yakub namun para nabi melihat bahwa yang penting itu kekayaan yang dapat dibawa pada kematian.
Dalam Perjanjian Baru kemewahan sama sekali tidak muncul, kekayaan mudah membuat orang menjadi keras hati dan sombong. “Pokoknya, kita ini perlu mengikut Yesus yang hidup dalam kesederhanaan. Kita tidak boleh terikat pada kekayaan karena untuk apa menimbun harta di dunia, sebab ngengat dan rayap akan memakannya,” tandas Romo Magnis tajam.
Semua orang secara khusus terpanggil untuk melayani Tuhan dalam iman. Harus mempraktekkan, bagaimana, itu tergantung gereja dan kesadaran seseorang bahwa kekayaan itu godaan. “Kalau gereja memamerkan kekayaan berarti mengianati pemakluman Injil,” ujar Romo Magnis.
Romo Magnis mengingatkan, sebaiknya tidak perlu memamerkan sebuah keunggulan yang bersifat materiil. Bahkan menurut kata Yesus, kita tidak perlu pamer sama sekali, karena itu rahmat. Orang yang pamer adalah orang yang tidak punya kepercayaan diri/harga diri, karena mereka perlu simbol. Kesederhanaan lebih baik daripada memamerkan kekayaan, kata Romo yang sederhana ini.
Kekayaan seorang hamba Tuhan adalah dalam iman, kebaikan, kasih, ucapan syukur, buah-buah Roh, kreativitas, dan ide-ide kemajuan. Kekayaannya adalah untuk dapat mengulurkan tangan bagi yang memerlukan, serta dapat bertanggung jawab bagi anak-anaknya. Sebaliknya yang berlebihan adalah mereka yang hidup dalam kemewahan, berfoya-foya tambah Pendeta Gilbert.
Potret
Gereja yang kaya itu puji Tuhan! tapi gereja yang kaya harus memiliki program-program yang dahsyat, ungkap Pendeta Gilbert. “Gereja kita oleh anugerah Tuhan diberkati. Karena itu kita mulai membangun klinik, LBH, serta bantuan-bantuan sosial lainnya; baik untuk sekolah Alkitab, beasiswa, serta pelayanan-pelayanan sosial lainnya. Ketika pelayanan mendapat banyak, sudah sepantasnya Pendeta mendapat yang proposional, sesuai dengan talenta dan kerja kerasnya bagi kemuliaan Tuhan.”
Pendeta Gilbert menambahkan, “sebaiknya masing-masing tidak iri hati, namun selalu memiliki hati pelayanan dan sukacita. Karena berkat dan penghasilan tidak boleh menjadi tujuan pelayanan, itu bonus dari Tuhan. Fokus kita tetap pada ketaatan.”
Sebaliknya gereja menjadi jauh dari tujuan kalau hanya mengutamakan kekayaan dan mengabaikan orang kecil dan sederhana. Romo Magnis berkisah, “saat saya membeli martabak disapa seorang pembeli yang sedang menanti pesanannya. Wanita itu mulai membuka percakapan. “Romo, saya orang Katolik. Dulu saya bergereja di gereja x tapi kini saya tidak mau ke sana lagi,” kisahnya.
Romo Magnis menimpali, “mengapa?” Dengan wajah sedih dan kurang simpati wanita itu berucap: “Saya tidak kerasan lagi ke gereja itu. Setelah gereja itu direnovasi menjadi besar, jemaat bertambah. Apa yang mereka pakai seperti mobil mewah serta pakaian indah, menyebabkan ketidak nyamanan untuk saya yang miskin bergereja di sana.”
Realita hidup bergereja pun menjadi sulit, ketika kekayaan dipertontonkan. Pernyataan ini mengagetkan, bahkan membuat Romo Magnis merasa terpukul. Jika gereja tidak lagi menjadi tempat untuk orang kecil dan sederhana, dimanakah mereka dapat bertumbuh?
?Lidya Wattimena