KEHIDUPAN para Pendeta di kota-kota besar seperti Jakarta terlihat makmur, “diberkati Tuhan,” itu yang sering diucapkan. Contohnya, seorang Pendeta berinisial AT memiliki sejumlah rumah mewah di Indonesia maupun luar negeri, hobi mengoleksi mobil mewah, menyukai kehidupan gaya high profile, selalu ingin disorot. Gaya hidupnya tidak beda dengan para miliuner kelas kakap. Salahkah?
Belum ada penelitian khusus terkait kekayaan seorang Pendeta dalam jumlah dan wujud. Namun apa yang terlihat oleh mata, melukiskan masih banyak contoh Pendeta lain yang hidup dalam kekayaan dengan menonjolkan apa yang dimiliki. Rumah besar, mobil mewah, pakaian bermerek, serta gaya hidup yang semakin jauh berbeda dari kehidupan umat Tuhan yang hidup dalam kesederhanaan. Salahkah?
Pendeta tidak lagi dilihat sebagai pembimbing umat, melainkan dewa atau raja yang berkuasa. Tak heran jika gereja menjadi kerajaan, tempat kekuasaan Pendeta. Gereja bukan lagi rumah Tuhan yang menyatuhkan umat untuk hidup dalam cinta kasih. Sebaliknya, perbedaan yang semakin jauh menganga.
Lalu, bagaimana dengan kehidupan para Pendeta sederhana yang hanya tinggal di rumah kontrakan, memakai motor butut, namun tetap harus melayani jemaat yang secara ekonomi-pun memprihatinkan?
Tak jauh berbeda dengan Pendeta di desa, yang hidup memprihatinkan. Untuk melayani mereka harus berjalan kaki naik-turun gunung, bahkan menyeberangi sungai. Pendapatan mereka hanyalah pemberian hasil kebun seperti pisang, singkong, sayur-sayuran dan buah-buahan. Kalaupun pelayanan mereka didukung dari pusat, pengiriman jatah bulanan pun tidak rutin, dan dalam jumlah yang kecil.
Mengapa ketimpangan ini terjadi di tengah-tengah kehidupan para rohaniawan yang seharusnya berpihak pada kesederhanaan dan belas kasih?
Antara Kewajiban dan Godaan
“Kekayaan merupakan godaan dan ancaman,” ucap Romo Fran Magnis Suseno, tokoh Katolik dan budayawan Indonesia. “Tidak perlu mencurigai orang kaya, tapi dia harus sadar dia berada di dalam bahaya khusus. Sangat sulit tidak termakan oleh semangat untuk mengandalkan kekayaan dan bukan Allah. Tidak lagi miskin dalam roh,” tambah Romo Magnis dengan mengingatkan Injil Tuhan: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.
Pendeta Gilbert Lumoindong, Gembala Gereja Bethel Indonesia, Glow Fellowship Centre, ketika dinilai sebagai Pendeta kaya dengan kehidupan gerejanya yang mewah menanggapi. “Kalau GBI jemaat Glow FC disebut sebagai gereja mewah; saya bilang itu FITNAH! saya sangat tersinggung. Kalau dibilang gereja kaya; saya berkata “AMIN”.
Kalau saya dibilang Hamba Tuhan kaya jawab saya “AMIN!”: “ Jadilah padaku seperti imanmu“. Doa saya kita semua dapat menjadi kaya dalam segala hal, hidup berkualitas, menjadi berkat, namun membuang kehidupan dalam kemewahan.” tutur Gilbert penuh antusias.
Kekayaan bagi setiap orang percaya adalah kewajiban (I Kor 1:5; II Kor 8:2; II Kor 8:7; I Tim 6:18). Menurut Pendeta humoris ini, kekayaan bicara tentang kualitas hati dan hidup seseorang. Sedangkan kemewahan lebih bersifat kebiasaan hidup yang berfoya-foya dan memuaskan daging (Yak 5:5; Wahyu 18 :7).
“Semua orang benar pasti kaya dalam segala hal, namun tidak hidup dalam kemewahan. Sebaliknya hidup dalam sukacita dan ucapan syukur dalam segala sesuatu,” simpul Gilbert pasti.
Jika kekayaan menjadi kewajiban, maka akan sedikit orang miskin disekitar kita. Karena kualitas hidup dalam kasih Tuhan akan menggerakan setiap anak Tuhan ambil bagian dalam kesulitan orang lain.
“Kesederhanan lebih menge-sankan daripada kemewahan,” tandas Romo Magnis meng- ingatkan kehidupan seorang Kristen yang mengikuti Kristus yang dipercaya. ?Lidya Wattimena