Panti Asuhan Tunas Mahardika
“Happy ya ya ya
Happy ye ye ye
Aku senang jadi anak Tuhan
Siang jadi kenangan malam jadi impian
Cintaku semakin mendalam”
Itu lagu rohani anak yang sering dinyanyikan Marshall, si gendut, yang saat ini berumur kurang dari tiga tahun. Anak asuh Panti Asuhan Tunas Mahardika (PATM) itu, sudah dapat dipastikan, setiap menjelang tidur, akan bergaya melenggak-lenggok, memegang sebuah tabung kecil, bekas bungkus vitamin yang di umpamakan sebagai microphone, menyanyikan lagu medley Happy ya ya ya dan Hari ini harinya Tuhan, di kamarnya. Tapi siapa sangka dibalik kelucuan dan keriangan bocah kecil yang jarang menangis itu tersimpan kisah kelam.
“Marshall, si gendut, dari kecil jarang nangis, tapi kalau marah, dia bisa beberapa menit mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan suara, dalam kondisi nangis. ...emosinya tidak keluar kali ya.., kata Pdt. Mellisa Sugihermanto, pendiri sekaligus pembina di Yayasan Tunas Mahardika. Menurut Mellisa itu karena “dia (Marshall), tiga bulan di rumah sakit tidak ada yang mengambil, tanpa ada yang membelai, dibiarkan saja“ terang Melissa.
Visi Dalam Mimpi
Kisah Marshall adalah satu bagian cerita yang mewarnai dinamika keseharian PATM. Panti asuhan yang berdiri sejak 28 oktober 2005 silam itu memiliki kisah unik dan lika-liku yang sangat panjang. Bagaimana tidak, berdirinya panti enam tahun lalu itu ternyata buah dari pergumulan yang sangat panjang, sejak tahun 1994-an. Di tahun 1994 mimpi itu datang. Mimpi Pdt. lie Hwee Ling, melihat banyak bayi-bayi tergeletak di dalam sebuah ruangan, berulang kembali pada tahun 1995. Pada saat itu lie berjanji kepada orang yang ada ditempat itu, kalau suatu saat dia akan kembali, tapi Lie melupakannya, hingga mimpi itu terulang lagi untuk mengingatkan dia.
Visi itu terus digumuli oleh Lie. Dia juga membagikan cerita itu kepada rekan sepelayanannya Ev. Aya Susanti dan Pdt. Mellisa Sugihermanto. Tapi karena masing-masing sibuk dengan pelayanan, visi itu belum juga diaktualisasi, hingga di tahun 2005 mereka memberanikan diri untuk memulai.
Bukan soal mudah mengawali sesuatu yang baru. Pengurus kecil PATM, di awal berdiri sempat terkendala dengan masalah dana.
“Yang pertama memang kita tidak ada dana, lalu kita berdoa pada Tuhan. Tuhan, kalau memang mau mulai, kita ndak ada duit untuk kontrak rumah, ehh.. ada yang kasih. Akhirnya kita mulai.” kenang Mellisa.
Tidak hanya kendala masalah materi atau dana, kendala lain yang dirasa cukup berat justru datang dari pandangan orang-orang terhadap panti. “ada banyak pandang orang, kalau kamu buka panti asuhan, itu bikin orang makin berani berbuat dosa.”
Namun itu semua bisa terlewati. Satu demi satu perlengkapan untuk panti disiapkan terlebih dahulu. Walaupun belum ada satu pun anak yang diasuh, Mellisa dan beberapa rekan pengurus lain terlebih dahulu menyiapkan rumah, sarana prasarana, menyiapkan box-boxnya, termasuk mencari ibu asramanya. “Setelah itu baru kita dapatkan tiga anak, semuanya bayi. Mengapa bayi, karena diharapkan bisa lebih mudah dibentuk, tukas Gembala GKI Terang hidup, ketapang utara Jakarta barat ini.
Keinginan mendirikan panti juga tidak terlepas dari keprihatinan Melissa dan rekan-rekan tentang maraknya freesex di mana-mana. Pergaulan bebas yang luar biasa, situasi dan kondisi, ditambah jaman yang begitu egois, sehingga orang yang berbuat pun tidak mau bertanggungjawab. Lahirlah anak-anak yang menjadi korban orang tua. Disamping itu, alumni Sekolah Tinggi Teolog Jaffray Jakarta ini juga percaya bahwa teladan kepedulian Allah dalam Perjanjian Lama (PL) yang begitu mengasihi orang-orang miskin, baik secara materi, miskin rohani, atau miskin dalam arti tertindas, haruslah diaktualisasi.
The golden age
Anak adalah anugerah Tuhan yang begitu besar, karena itu haruslah dijaga, rawat dan dididik semaksimal mungkin, apa lagi jika umur anak kurang dari empat tahun. Sebab empat tahun pertama yang sering disebut juga sebagai golden age (masa keemasan) ini adalah masa yang penting, masa di mana anak mampu menyerap dengan cepat setiap rangsangan yang masuk. Dengan Visi dan Misi-nya “Mengoptimalkan tunas-tunas muda yang Tuhan percayakan menjadi pribadi-pribadi dewasa yang berilmu dan berbudi luhur bagi kemulian-Nya“, Panti Tunas Mahardika mengupayakan semaksimal mungkin cara untuk mendidik anak-anak di masa keemasan ini dengan baik.
“Kita sebisanya lakukan dengan yang ada. Sebagai pengurus, saya akan berusaha sesering mungkin datang menjenguk mereka, karena di masa yang disebut dengan golden age ini akan lewat.“ kata Lucia Fidelia Wuwungan, yang akrap di panggil Lola, bendahara di PATM.
Untuk mewujudkan harapan dan impian mewujudkan anak yang berilmu dan berbudi luhur, bagi kemuliaan Tuhan, sesuai dengan visi dan misi-nya, disiplin dan mandiri menjadi kata kunci dalam keseharian di panti yang berada di Bumi Serpong Damai, tepatnya di Sektor 1.3 ext. Palm merah V/BN No.23, Serpong – Tangerang ini.
“Kita mau anak-anak ini menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Dari sekarang kita minta mereka mengerjakan hal-hal yang bisa dilakukan sesuai umurnya. Melipat selimut, pispot dibawa ke belakang, doa secara bergilir, kursi harus mereka bawa sendiri. Itu untuk kemandiriannya.” Jelas Melissa
Tidak itu saja, anak-anak juga diajarkan untuk tidak egois, hanya memikirkan diri sendiri. Di PATM anak-anak diajarkan agar dapat menjadi berkat bagi sesama, bukan menjadi pribadi egosi. Untuk itu, PATM, dalam programnya juga disisipkan agenda untuk mengunjungi panti asuhan lain, dan berbagi pada anak jalanan. Anak-anak PATM juga dilatih untuk menolong rekan atau adiknya, dilatih agar mereka menjadi orang yang jangan hanya terus melihat pergumulan diri, tapi juga mau keluar.
Kasih Sayang orang Tua
Anak di Panti Asuhan seperti PATM, memang tidak seberuntung anak-anak lain yang mendapatkan kasih sayang dari Ayah-Bunda mereka sendiri secara penuh. Tapi bukan berarti Anak Panti tidak mendapat kasih sayang yang cukup, apa lagi di usia ke emasan, 0-4 tahun pertama. Untuk memenuhi kebutuhan pokok ini, PATM bekerja sama dengan para Volunteer, beberapa diantaranya adalah pengurus, untuk mendampingi, mengasihi dan mendidik ke sebelas anak, 3 perempuan dan 8 laki-laki itu dengan penuh kasih sayang.
“Kita pengurus atau diluar pengurus, menyediakan waktu, dalam arti, datang memberi kasih sayang kepada mereka, ada Mami Siska, Mami Lola, atau Papi Budi. …jadi mereka rasa tetap dimiliki dan memiliki, meskipun bukan orangtua kandung,” terang Mellisa.
Di PATM, anak asuhnya juga diperhatikan betul minat dan bakatnya. Seperti yang senang bernyanyi atau bermain musik, PATM akan memberikan les musik, les vokal atau diikutkan ke paduan suara gereja. Ada juga yang les balet, atau les renang. Meskipun umur terbesar anak di PATM baru enam tahun dan yang terkecil hampir menginjak tiga tahun, namun bakat dan minat mereka sudah mulai terlihat. Karena itu PATM terus akan mengembangkan minat dan bakat setiap anak yang unik itu.
Hal spiritual, di PATM menjadi sesuatu yang utama. Disamping setiap pagi dan malam anak diwajibkan untuk berdoa, memuji dan mendengarkan Firman Tuhan melalui metode cerita, anak-anak juga diawasi dengan ketat. Pendampingan dan pembelajaran juga terus dilakukan, termasuk pembatasan akses Televisi. Film-film yang ditonton pun disortir sedemikian rupa. Tidak hanya sampai di situ, anak juga di beri penjelasan tentang apa yang ditontonnya dengan metode cerita.
“Mieke (salah seorang Volunteer) ini yang mengarahkan, misal kartun Ben10. Ben10 itu kalau dia pakai kekuatan untuk kejahatan, kekuatannya hilang. Tapi kalau kukuatannya dia pake untuk menolong orang, untuk baik, akan muncul. Anak- anak suka sekali. Jadi spiderman, Ben10, atau Powerrangers dikisahkan ulang dalam bentuk cerita,“ jelas Mellisa.
Pembekalan dan pendampingan tidak hanya ditujukan pada anak saja, tapi juga pengasuh. Ada jam-jam doa, hampir setiap hari yang juga digunakan untuk evaluasi kinerja. Jika ada salah atau sesuatu yang kurang akan diingatkan pada kesempatan itu. “Kita mengajarkan pengasuh agar menerapkan kasih dengan disiplin secara simbang. Sebab kalau mereka terlalu mendisiplin anak, maka mereka akan berontak, sebaliknya, kalau terlalu mengasihi tanpa disiplin, anak akan manja,“ jelas Melissa. ?Slawi