Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Jejak

Menno Simons (1496 -1561) Percaya Alkitab, Singkirkan Tradisi

Posted : 30 Nopember 2011

Penganiayaan, hidup seng-sara dan dikejar-kejar orang sebagai “buronan,” itu hal biasa.  Demi prinsip dan ajaran yang dipegang, hal itu ikhlas dijalani.  Menno Simmons adalah satu dari segelintir orang yang menjalani.  Demi pandangannya yang tertuju hanya kepada satu sumber – Alkitab – dan karenanya otomatis harus mengesampingkan sumber lain seperti tradisi, dia sempat di musuhi.  

Menno Simons dilahirkan di desa kecil Witmarsum, Propinsi Friesland, Belanda, di tahun 1496. Putra peternak penghasil susu sapi ini dikenal cakap dalam bidang bahasa, khususnya bahasa latin dan Yunani.  Itu didapat Menno saat dia mengikuti studi pelatihan untuk menjadi seorang imam. Namun sayang, duduk di bangku kuliah, belajar bahasa, tidak dimanfaatkannya untuk meneliti Alkitab dalam bahasa asli. Dikemudian hari Menno menilai hal itu sebagai kebodohan.  

Menno ditahbiskan sebagai imam Katolik Roma pada tahun 1515 di Utrecht, lalu diangkat sebagai pendeta di desa ayahnya, di Pingjum pada tahun 1524.  Pergulatan Menno di dunia teologi diawali pada tahun 1526 atau 1527.  Pertanyaan seputar doktrin transubstansi memba-wanya pada penggalian kitab suci yang lebih serius.  Isu teologis lain yang juga menggelitik Menno adalah soal baptisan anak. Dia menolak bap-tisan anak dan hanya menerima baptisan dewasa, berdasarkan penggaliannya pada kitab suci.  

“Kita tidak memiliki satu perintah pun dalam Alkitab, bahwa anak-anak harus dibaptis atau bahwa para rasul melakukannya.  Oleh sebab itu, kami mengaku dengan sadar bahwa baptisan anak adalah pe-mikiran manusia dan merupakan pemutarbalikan dari ketetapan-ketetapan Kristus.  Adalah sangat mengerikan bagi yang berada di tempat suci kalau di tempat itu ia tidak pantas berdiri.” Seperti dikutip dalam buku Runtut pijar dari Dat Fundament des Christelycken Leers.

Akumulasi penolakan Menno pada ajaran tradisional membawa dia pada keputusan untuk mundur dari jabatan Imam pada 12 Januari 1536, dan bergabung pada kelompok Anabaptis yang mulai berkembang saat itu.  Di Anabaptis, pengaruh Menno kian meningkat, bahkan makin besar.  Bahkan sejarawan Baptis William Estep, menyarankan agar sejarah mereka dibagi menjadi tiga periode: “sebelum Menno, di bawah Menno, dan setelah Menno”. Menno sangat penting, karena kehadirannya dalam gerakan Anabaptis di utara pada situasi yang sulit.  Dia membantu tidak hanya untuk mempertahankan itu, tetapi juga untuk menetapkan gerakan Reformasi Radikal.

Menno melayani selama dua puluh lima tahun pasca penolakannya terhadap Katolik.  Sebelum dia meninggal pada  31 Januari 1561 di Wüstenfelde , Holstein, Menno sudah meninggalkan warisan yang luar biasa dalam dunia teologi.  Ajaran dan teologinya kemu-dian diteruskan oleh para pengikutnya yang kemudian dikenal sebagai Menonit.  Sama seperti tokoh-tokoh reformator lainnya, Menno juga mendasarkan ajarannya pada Alkitab. Baginya, Alkitab adalah tolok ukur yang paling tinggi bagi semua ajaran gereja. Berbeda dengan sebagian reformator  yang tetap menggunakan tradisi bapa-bapa gereja sebagai salah satu dasar berteologi. Menno menolak itu, kecuali bila ajarannya telah terbukti benar menurut Alkitab. Ia menjadi salah satu contoh orang yang mengabaikan tradisi ketika menginterpretasi kitab suci.  

Orang-orang di zamannya gemar betul menyiksa diri demi peningkatan kualitas rohani.  Menno berbeda, dia menolak praktek asketisme yang gemar menyangkal diri dengan menyiksa tubuh.  Menurutnya, asketisme tidak harus didefinisikan sebagai praktik-praktik fisik, tetapi dalam bentuk kegiatan kelompok yang dirancang untuk membangun kembali hubungan sosial antara individu dan lingkungan sosial.          Slawi/dbs

 

 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4093 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net