Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Dari Redaksi

Kemiskinan Mendera Papua

Posted : 22 Desember 2011

Shalom. Selamat Hari Natal untuk kita semua. Pembaca yang budiman, di edisi akhir tahun 2011, tepatnya edisi 146 di bulan Desember ini, REFORMATA mengajak pembaca yang budiman untuk berdoa bagi kebaikan Papua. Masih segar di benak kita tentang insiden yang menewaskan warga sipil di Papua beberapa waktu lalu. Pengibaran bendera Bintang Kejora ketika Kongres Papua III di Lapangan Zakeus, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, 19 Oktober 2011 lalu. Kongres tersebut dibubarkan paksa pihak kepolisian, hingga berujung pada tewasnya tiga orang warga. Karenanya, Laporan Utama kali ini kami sajikan  tentang “Papua”.

Ironis memang. Sudah 66 tahun negara ini merdeka, tetapi Papua, sampai saat ini masih merasa dijajah dan didera kemiskinan. Kita tahu, wilayah yang sangat subur, kekayaan alam dan tambang yang begitu melimpah. Di perut bumi Papua tersimpan kekayaan yang maha dahsyat, tetapi rakyat Papua masih hidup dililit kemiskinan.

Kepala Biro Pusat Statistik provinsi Papua J.A.Djarot Soesanto, merilis data kemiskinan tahun 2006, bahwa setengah penduduk Papua, 47,99 % itu miskin. Kemiskinan di Papua jelas terlihat di depan mata. Contoh nyata, adalah kelaparan di Yahukimo tahun 2009 yang sempat menjadi perbincangan. Menurut Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia (Yakpesmi), pada Agustus 2009, sedikitnya 113 warga Yahukimo tewas akibat kekurangan asupan gizi.

Dari total 113 orang yang tewas, Menurut Koordinator Yakpesmi, Izak Kipka, berasal dari tujuh kecamatan, yakni, distrik Langda, Bomela, Seradala, Suntamon, Walma, Pronggoli, dan Heryakpini. Bencana kelaparan di Kabupaten Yahukimo ini bukan kali pertama. Tujuh tahun lalu bencana serupa pernah menimpa kabupaten ini menewaskan sedikitnya 55 orang. Sementara ratusan lainnya kritis akibat kekurangan asupan gizi.

Tahun 2005, data BPS mencatat daerah miskin di Papua sekitar 1.028.2 jiwa. Tahun 2006 penduduk miskin sekitar 816.7 jiwa, dan tahun 2007 sekitar 793.4, tahun 2008 tercatat sekitar 793.4, tahun 2009 sekitar 760.3 dan pada tahun 2010 tercatat sekitar 761.6 jiwa. Itu versi BPS.

Suara Pembaruan Selasa, (1/11) membeberkan data, bahwa persentase penduduk miskin Papua berada di atas rata-rata nasional. Pada 2010, penduduk miskin di Papua mencapai 36,80 persen dan Papua Barat 34,88 persen, sedangkan rata-rata nasional 13,32 persen. Di bidang pendidikan, tingkat partisipasi anak sekolah usia 7 tahun sampai 18 tahun hanya 65,76 persen, sedangkan tingkat nasional mencapai 79,53 persen. Demikian juga dengan pelayanan bidang kesehatan yang masih minim, antara lain tercermin dari angka kematian bayi di Papua yang mencapai 30,84 persen dan Papua Barat 31,76 persen, padahal tingkat nasional tercatat 26,89 persen.

Ada asumsi, ini karena pertambahan penduduk yang sangat cepat di Papua. Data pemerintahan Papua pada 2010 mengatakan penambahan penduduk Papua dari 2001-2011, 5,5%. Jika ini benar, maka angka 5,5% merupakan penambahan penduduk tercepat dalam sejarah dunia. Data tahun 2010 jumlah penduduk  di  Provinsi  Papua sebanyak 2.851.999 jiwa  terdiri  dari laki  laki  1.510.285 jiwa (52,95%)  dan  perempuan  1.341.714 jiwa (47,04%). Papua Barat 760.855 jiwa 402.587 laki-laki, dan perempuan 368.268 jiwa.

Peneliti dari Universitas Sidney Australia, Dr. Jim Elinslie, menyebut pada 1972, jumlah penduduk non Papua 36.000 sementara orang Papua 887.000 orang, pada tahun 2011 non-Papua.1.900.000 orang Papua 1.700.000 orang Papua 2030 populasi orang Papua 2.371.200 dan non Papua diperkirakan 13.228.800 dan total jumlah penduduk 15.600.000 dengan prosentasinya Papua 12,2 % dan non Papua 84,80 %. Artinya, warga asli Papua pelan-pelan akan hilang. Papua ada 312 suku, dan umumnya masih belum dijangkan dan tersentuh pembangunan.

Masalah Papua ibarat benang kusut. Perlu kesabaran untuk mengurai akar masalahnya. Sedaridulu ada golongan yang menginginkan “merdeka.” Masalah Papua cerminan dari sebuah sikap pemerintah yang tidak punya keseriusan dalam mensejahterakan Papua. Daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang kaya, permukaan buminya disaput kawanan hutan seluas 42 juta hektare.

Dengan kekayaan aneka flora dan fauna, ditambah kekayaan yang berada di perut Bumi Cendrawasih seperti: tembaga, emas, perak, minyak bumi, nikel, dan marmer. Sungai-sungai dan lautan yang terbentang, menjadi panorama yang indah. Maka tak berlebihan tanah Papua disebut Mutiara dari Timur. Nyatanya, kedasyatan alamnya tidak menghasilkan kesejahteran untuk orang Papua sendiri. Masyarakat asli malah kian terpinggirkan. Ibarat ayam mati di lumbung padi. Salam.

                            ? Redaksi

   

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.5194 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net