Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

Dari Os Papua Hingga Papua Merdeka

Posted : 22 Desember 2011

PAPUA memang tanah yang istimewa, melimpah kekayaan alamnya, hampir setiap sudut tanah Papua menyuguhkan keindahan, seperti alam laut dan gugusan pulau Cendrawasih.

Dalam buku Yorrys TH Raweyai bertajuk Mengapa Papua Ingin Merdeka, diceritakan bahwa penemuan arkeologi di pedalamam Papua menunjukan bahwa penduduk asli Papua sudah ada sejak 10 juta tahun lalu. Hidup sejak era Pleistocene. Bukti tersebut ditemukan arkeolog dari Universitas Groningen, Belanda ketika melakukan penggalian di kawasan Danau Ayamary, Vogelkop. Penggalian itu dilakukan tahun 1995 hingga 2001.

    

“Os Papua”

Antonio d’ Abrau, adalah pelaut Barat yang diklaim pertama kali menginjakkan kaki di Papua. Antonio

menemukan sebuah daratan besar ketika memimpin ekpendisi laut Portugis, tahun 1551. Pulau itu dinamakan “Os Papua” atau Ilha de Papo. Di tahun 1522, pelaut Portugis Fransisco Serono, dan Don Jorgge De Menese, tahun 1526, semakin intensif melakukan pelayaran. Lalu, tahun 1945 pelaut  Spanyol, Inggris, dan Belada sikut-sikutan menguasai alam Papua yang masih perawan.

Melalui Belanda, tahun 1600, ketika William Jansen dan anggota ekpedisinya mendarat di Pulau Kai dan Pantai Barat Daya Papua. Munculnya persaingan dagang dan adanya upaya perluasan wilayah dari pelaut Eropa, khususnya dari Inggris, memaksa pemerintah Belanda membuat bukti-bukti bahwa Papua merupakan daerah jajahan mereka, bukan daerah merdeka.

Ketika dua misionaris asal Jerman, Carl W. Ottow & Johann G. Geissler, menginjakkan kaki pertama kali di Mansinam, Papua, pada 5 Februari 1855, daerah ini pun sudah dijajah Berlanda. Belanda kemudian mendirikan pos pemerintahan yang lebih representatif di Manokwari dengan menjadikannya pusat pemerintahan Nederlands Nieuw-Guinea, setingkat afdeling. Kekuasaan pemerintahan kolonial semakin dikukuhkan ke seluruh Papua.

Lalu, Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, mengambil ancang-ancang untuk mempertahankan Papua. Pada 27 September 1961, Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda, Joseph Luns, melontarkan “Rencana Luns” ke Majelis Umum PBB. Intinya, ada organisasi atau otoritas internasional yang mengambil alih Irian Barat dan mempersiapkan penduduknya menentukan nasib sendiri. Usulan Luns tentu saja ditolak oleh Menlu Dr. Soebandrio dengan alasan merusak kesatuan nasional dan integritas teritorial Indonesia.

Di tengah perseteruan dua menlu itu, beberapa elite Papua, anggota Nieuw Guinea Raad, seperti Nicolaas Jouwe, P Torey, Markus Kaisiepo, Nicolaas Tanggahma, dan Eliezer Jan Bonay, di kemudian hari menjadi Gubernur Irian Barat pertama, mengatur pertemuan pada 19 Oktober 1961 yang mengundang 70 pemimpin Papua, 17 di antaranya diangkat sebagai anggota Komite Nasional. Inilah yang kemudian diklaim sebagai Kongres Nasional Papua pertama. Dari sana dihasilkan manifesto politik, mulai 1 November 1961.: Pertama, Bendera kami dikibarkan bersebelahan dengan bendera Belanda; kedua, Lagu kebangsaan kami, Hai Tanahku Papua, dinyanyikan bersama dengan lagu Wilhelmus; ketiga, Nama tanah air kami adalah Papua Barat; dan terakhir Nama rakyat kami adalah orang Papua.

Pada 1 Desember 1961, Belanda membolehkan penaikan bendera “bintang kejora” dan pelantunan lagu Hai Tanahku Papua di Hollandia. Luncunya Hari Tanggal-Bulan-Tahun itulah yang disebut hari Kemerdekaan Papua. Tak heran jika Bung Karno melalui Trikora, 19 Desember 1961, pada butir pertamanya menyebutkan, “Bubarkan Negara Boneka Papua bentukan Belanda kolonial.” Lalu, Soekarno memerintahkan merebut Irian Barat. Pecahlah pertempuran Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia, yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, seorang Kristen.

    

Gerakan OPM

Perjanjian New York 1962 antara Indonesia dan Belanda di bawah tekanan politik AS, lalu penyerahan Papua oleh UNTEA kepada Republik Indonesia dari tangan Belanda pada 1963, menandai keberhasilan diplomasi Indonesia di bawah Soekarno.

Februari 1964, OPM lahir, pertama di Manokwari, tepatnya di Sanggeng. Pertemuan pertama di rumah keluarga Watofa, pertemuan ini dihadiri oleh seluruh komponen masyarakat di Kota Manokwari. OPM sendiri sebenarnya awalnya bernama Organisasi Pembebasan Papua Merdeka (OPPM). Oleh pemerintah Republik Indonesia menyebut OPM (Organisasi Papua Merdeka), yang dicap pemberontak, makar terhadap negara. Dari sana para anggota OPM ini mendirikan di seluruh daerah kepala burung (Vogel Kop) pulau Papua dengan dibentuknya tujuh (7) Batalyon Kasuari dan dibantu oleh beberapa Komandan Peleton.


Theys

Mendiang Theys Hiyo Eluay adalah satu tokoh perlawanan Papua.  Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) ini  mulai terkenal pasca memproklamirkan Negara Papua Barat tanggal 12 November 1999 di kediamannya di Sentani, kota kecil yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Jayapura. Selaku “Pemimpin Besar Bangsa Papua,” dia memimpin upacara peringatan ulang tahun kemerdekaan Papua Barat di halaman Gedung Dewan Kesenian Irian Jaya, Jayapura, dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 1999.

Theys, pada 1969, menjadi anggota Penentuan Pendapat Rakyat di Irian Jaya. Selama tiga periode menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat I Irian Jaya dari Golkar. Itu pula yang membuatnya bersikukuh bahwa yang Theys lakukan adalah menuntut kembali kedaulatan rakyat Papua, yang menurutnya telah diserahkan dari pemerintah Kolonial Belanda.

Selanjutnya, tahun 2000, musyawarah Besar (Mubes) di Jayapura, 23-26 Pebruari. Pada 29 Mei – 4 Juni, dia menyelenggarakan Kongres Nasional II Papua Barat di GOR Cenderawasih Jayapura, yang melahirkan tujuh poin resolusi. Salah-satunya adalah pengukuhan Theys sebagai ketua dewan tersebut. Dia mati terbunuh, dan sampai sekarang masih misteri, siapa yang membunuhnya.

 ? Hotman J.Lumban Gaol

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.5924 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net