Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Konsultasi Keluarga

Lulus Konseling Urung Menikah

Posted : 22 Desember 2011

Bimantoro

DEAR Konselor, pertanyaan saya adalah, bolehkan pasangan yang sudah mengikuti (lulus) katekisasi pra nikah dan tinggal menunggu waktu untuk pemberkatan, membatalkan rencananya?  Kami sudah berpacaran selama tiga tahun. Namun, kami sudah saling kenal sejak kuliah di universitas yang sama. Orangtua saya sangat cocok dengan dia, sebaliknya, orang tua dia pun sudah dekat dengan saya. Tapi, semakin mendekati pernikahan rasanya saya semakin sulit menerima dia. Pasangan saya orangnya selalu mau mengatur, dia mengharapkan saya sebagai isteri selalu mau mendengar dan menurut. Memang , selama pacaran saya selalu menurut apa yang dia inginkan. Awalnya saya merasa itu memang sudah seharusnya.  Tetapi, melihat kebebasan teman-teman saya dalam menjalankan hidup, bebas traveling kemana saja, rasanya, di usia yang mendekati 30 tahun ini saya masih ingin menikmati kebebasan, paling tidak sampai saya puas, sebelum akhirnya harus jadi ibu dan mengurus rumah tangga seperti yang diinginkan pasangan saya. Pasangan saya posisi kerja dan penghasilan sangat baik, sehingga dia minta saya berhenti bekerja setelah menikah nanti. Mohon sarannya.
Gadis L
Di Jakarta

Dear Gadis L, Pernikahan adalah tahapan baru dalam hidup yang seringkali diikuti dengan krisis-krisis, terutama dalam masa penyesuaian. Krisis yang terjadi ini bisa saja dimulai ketika persiapan pernikahan, di mana kita kemudian membanding-bandingkan kehidupan yang sedang kita jalani dan kehidupan yang akan kita jalani dalam ikatan pernikahan. Apalagi, dalam persiapan pernikahan biasanya muncul konflik-konflik dalam berbagai hal, dari mulai menentukan tanggal, tempat, baju, bahkan mungkin siapa saja yang akan diundang, serta berapa budget yang akan dikeluarkan. Membayangkan kehidupan yang akan dijalani ditengah konflik-konflik persiapan pernikahan, tentu bisa menimbulkan ketakutan-ketakutan tertentu, yang akhirnya membuat kita berpikir untuk menunda atau membatalkan pernikahan.  Tetapi, sebelum Gadis L memutuskan apa yang akan dilakukan, ada beberapa hal yang ingin saya utarakan sebagai berikut:
1. Pernikahan  membutuhkan komitmen dalam menyesuaikan peran. Memasuki dunia pernikahan, selain mencoba mengenal kelebihan dan kekurangan pasangan, membangun keintiman dan kedekatan, juga memerlukan komitmen untuk menyesuaikan peran apa yang akan dikerjakan dalam kehidupan pernikahan. Kita memang tidak akan bisa sebebas dulu lagi. Segala sesuatu yang kita kerjakan harus mempertimbangkan pasangan dan (nantinya) anak. Belum lagi tuntutan masyarakat tentang peran sebagai isteri, sebagai ibu, sebagai menantu, bisa membuat kita ada dalam tekanan tertentu.  Orang bisa merasa tidak nyaman jika tidak mempersiapkan diri secara mental untuk menyesuaikan perannya. Hal inilah yang sebetulnya sangat perlu kita pikirkan saat mempersiapkan pernikahan, sehingga kita bisa mengantisipasi kemungkinan krisis dan konflik yang akan terjadi. Pertanyaannya adalah, apakah kita termasuk pribadi yang tidak mau menyesuaikan diri, artinya punya kemampuan tapi tidak mau digunakan; atau mau tapi tidak tahu caranya; atau kita merasa bahwa belum saatnya: atau hal-hal lain. Nah, jawaban anda akan sangat menentukan, apakah sebaiknya rencana ini akan diteruskan, atau di tunda, atau dibatalkan. Tapi apapun keputusan anda, rasanya menikah atau tidak pun kita tetap punya tanggung-jawab untuk menyesuaikan peran kita dalam setiap siklus kehidupan dijalani. Peran saat masih sekolah tentu berbeda dengan saat sudah bekerja.  Bahkan seiring waktu berjalan, dalam kehidupan, kita akan terus menerus di hadapkan pada perubahan peran sesuai dengan konteks kehidupan – menikah ataupun tidak.
2. Hal yang kedua, adalah mempertanyakan kembali tujuan pernikahan anda. Hal ini penting, karena ada yang menganggap pernikahan hanyalah siklus hidup yang harus dijalani oleh setiap manusia. Lahir, besar, menikah, mempunyai keturunan, dan akhirnya mati. Ada juga yang menikah hanya karena takut kesepian di hari tua, ingin punya keturunan, ingin meningkatkan level kehidupan,  karena tuntutan keluarga, atau sekadar karena kebutuhan seksual. Banyak latar belakang orang mau menikah.  Pertanyaannya adalah,  apakah anda melihat pernikahan ini sebagai sebuah rencana Tuhan dalam kehidupan anda untuk kemuliaan nama-Nya.  Apakah anda menikah dalam kesadaran, bahwa pernikahan adalah lembaga yang diciptakan oleh Tuhan supaya setiap individu didalamnya mengalami pertumbuhan iman dan kedewasaan.  Artinya, ada tujuan yang Tuhan tetapkan dalam pernikahan anda, di mana melalui pasangan, anda akan semakin mengenal DIA dan memuliakan DIA dalam hidup. Pernikahan bukan sekadar memenuhi siklus hidup sebelum mati – dengan demikian pernikahan bukanlah suatu kewajiban mutlak sehingga anda terpaksa menikah. Saya percaya hal ini telah dibicarakan dalam katekisasi pernikahan yang anda ikuti bersama pasangan. Tetapi, kalau ternyata anda belum memahami,  anda tentunya bisa bertanya pada Pembina/Pendeta tentang tujuan pernikahan Kristen, atau pada konselor pernikahan yang ada dikota anda.
3. Hal ketiga adalah, jika ternyata anda memutuskan untuk melanjutkan rencana  pernikahan, anda perlu berdiskusi dengan pasangan tentang harapan-harapan dalam pernikahan. Harapan-harapan yang akan dibicarakan, tentunya harapan kedua belah pihak dan bukan hanya salah satu pihak. Perlu ada komunikasi dan negosiasi, supaya harapan yang dibawa tidak merubah pasangan menjadi pribadi yang bukan dirinya. Dalam arti, tidak lagi memiliki keunikan, dan sekadar menyenangkan pasangan yang lahir dari keadaan terjebak dalam pernikahan. Menyenangkan pasangan bisa baik ketika harapan pasangan yang kita terima sesuai dengan prinsip-prinsip Kristiani, dan pernikahan ini membuat relasi kita dengan pasangan dan Tuhan menjadi semakin baik.  Tetapi bisa juga sebaliknya, ketika harapan yang kita coba penuhi ternyata membuat relasi kita dengan pasangan dan Tuhan   menjadi tidak sehat, karena harapan itu kita kerjakan dalam kemarahan dan kekecewaan.Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan anugerah untuk anda memasuki kehidupan pernikahan yang memuliakan namaNya.

 

80
1 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.1424 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net