Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Loper Koran Ingin Punya Rumah

Posted : 22 Desember 2011
Ungkap Nababan, Loper Koran.jpg

Ungkap Nababan, Loper Koran

DEMI menghidupi keluarganya Ungkap Nababan rela menjadi sub agen loper koran di Kota Jakarta yang keras ini. Sejak pukul.03.30 subuh, Ayah dua orang anak ini sudah menggelar dagangannya, majalah dan koran di deretan halte DEPSOS Salemba, Jakarta Pusat hingga pukul 8 malam.
Wajah dekil berbalut debu dan panas di siang hari tidak memupuskan semangatnya untuk tetap bekerja. 1500 eksemplar dari 14 item media cetak yang dijual mengharuskan dirinya memiliki modal sedikitnya 2,5 juta rupiah per hari, dengan hanya mendapatkan keuntungan yang tidak menentu, sekitar 100 ribu rupiah per hari.
Keuntungan yang tak seberapa itu harus digunakan untuk menyekolahkan 2 anaknya, kebutuhan makan dan keperluan harian dengan penuh perjuangan. Tak heran jika sang istri pun harus turun lapangan menjual koran di jalanan. Miris, namun itulah realita yang harus dijalani.
“Puji Tuhan walau harus bekerja keras, tapi bersyukurlah kalau kami tetap diberikan kesehatan dan pekerjaan dari-pada menganggur,” ungkap Nababan pilu. “Kesulitan kami ketika ada gangguan dari Trantib, atau ketika yang mengambil koran kabur tanpa membayar,” kisah pria kelahiran Siborong-Borong, 12 Desember 1964 ini sambil tersenyum kecut.
PERJUANGAN
Nababan hampir seharian mangkal di Halte DEPSOS tanpa punya tempat resmi untuk mengedarkan koran atau majalah yang dimilikinya. Walau demikian, tidak memupuskan semangatnya untuk tetap bekerja seperti ini sejak tahun 1983.
Makanan seadanya dibawa dari rumah, menghindari pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan harian Nababan. “Sejak kecelakaan, engsel kiri saya lepas sehingga istri saya yang harus turun ke jalanan. Saya yang mengawasi barang, orderan, dan menjual minuman sebagai tambahan di halte ini,” tambah Nababan jujur.
“Saya ingin pulang kampung jika sudah selesai bertanggung jawab untuk kedua anak kami,” perih Nababan menahan keletihan dan beratnya kehidupan. “Kini ada penurunan pendapatan,” tambah Nababan mengakui naik turunnya keadaan pasar yang digelutinya.
Nababan, istri, dan kedua anaknya kini menempati rumah sederhana yang telah menjadi milik orang lain, akibat dililit kreditan barang oleh sang istri demi mem-backup kebutuhan keluarga. “Semoga kami bisa memiliki rumah itu lagi,” harap Nababan menahan impiannya.
Dalam kondisi yang sulit, Nababan tetap dapat menyekolahkan kedua anaknya. Dirinya tidak berhenti bekerja keras untuk bertanggung jawab atas keluarganya. Ketika ditanya apa hobinya, Nababan tertawa kecut sambil berucap: “Seharian penuh bekerja di sini, tak ada waktu lain untuk memikirkan kesenangan,” tandas warga jemaat HKBP Pulo Mas ini lirih.
Pakaian kumal yang digunakan, serta dekilnya kulit akibat terpaan debu dan sengatan matahari masih dapat membuat Nababan tersenyum untuk terus berjuang menyelesaikan tanggung jawabnya. Kerasnya kota Jakarta tidak memupuskan harapan Nababan untuk tetap bekerja dan tidak ingin menganggur. Dibalik kesulitan yang dirasakan, Nababan masih tetap dapat bersyukur bahwa kesehatan dan pekerjaannya adalah bagian dari kebaikan Tuhan atas hidupnya.
Tak terlupakan harapan Nababan kala Natal tiba, “Semoga dapat rejeki dan dapat merayakan natal bersama keluarga,” doa Nababan penuh harap.
     ?Lidya Wattimena
 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3802 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net