Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Khusus

Natal Bukan Ulang Tahun Yesus

Posted : 10 Januari 2012

Pendeta Herlianto, M.Th, Ketua Yayasan Bina Awam

Tanggal 25 Desember disebut sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, tetapi sampai saat ini masih terus menjadi diskusi yang tidak pernah selesai...
Umat Kristen di abad pertama tidak merayakan hari Natal, bagi mereka, kekristenan berpusat pada rangkaian perjamuan malam menjelang hari kematian Yesus dengan puncak kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang dikenal sebagai hari Paskah. Baru di abad ketiga, gereja Timur, gereja Orthodox, merayakan Epifani atau disebut manisfestasi pada tanggal 6 Januari. Itu untuk merayakan hari pembaptisan Yesus di sungai Yordan, yang kemudian sekaligus mencakup peringatan kelahirannya. Perayaan Epifania masih dirayakan gereja Timur hingga kini dengan memberkati air baptisan dan sungai Yordan. Di gereja Barat, hari Epifani juga dirayakan untuk mengingat kunjungan para Majus, sejak abad keempat, Epifani diperingati untuk mengenang peristiwa  sekitar manifestasi kelahiran Yesus di Betlehem.
Selanjutnya, pada tahun 274, di Roma, Kaisar Aurelius menetapkan perayaan hari kelahiran Matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember), karena hari itu Matahari mulai menampakkan sinarnya. Umat Kristen umumnya sudah meninggalkan upacara itu, namun, dengan kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen baru di Roma masih merayakannya, sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran Matahari’ itu menjadi perayaan kelahiran Matahari Kebenaran. Dengan maksud, mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan “Natal.” Lalu, tahun 336 perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain.

Lalu, mengapa selama ini ada polemik bahwa 25 Desember itu adalah tanggal dan bulan penyembahan dewa matahari?
Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa Matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa Matahari kepada Tuhan Yesus Kristus.  Caranya, dengan menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember.  Tujuannya, tak lain agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi yang berkaitan dengan dewa Matahari. Sejak itu umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa Matahari.Umat kristen umumnya merayakan empat minggu Advent sebagai persiapan menuju hari kenangan, menghadapi kenangan kehadiran Firman yang menjadi daging.

Ada semacam hal yang tidak bisa terang-benderang disingkapkan, misalnya tanggal sesungguhnya kapan Yesus lahir?
Mengenai tanggal tepatnya kelahiran Yesus memang tidak jelas, apalagi waktu itu penanggalan Gregorian juga belum ada. Selain perkiraan bulan Mei-Juni, ada juga pendapat yang mengemuka bahwa Yesus dilahirkan di bulan Tishri (September–Oktober), yaitu pada hari Raya Pondok Daun, di mana iklimnya menunjang. Argumentasi ini didasarkan waktu penugasan imam besar Zakharia masuk ke Bait Allah, sekitar bulan Siwan (Mei–Juni). Ini juga memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun. Karena tidak bisa menentukan tanggal yang tepat, maka baiklah kita mengikuti tradisi gereja yang menentukan tanggal 25 Desember, yang penting, kita bisa merayakannya secara serempak dalam suasana keesaan gereja yang Am di seluruh dunia dan puji-pujian kepada Tuhan disenandungkan pada hari itu di TV, Radio, iPod dan alat komunikasi modern lainnya selain di rumah umat Kristen.

Aliran advent disebut aliran gereja yang  tidak merayakan Natal, alasannya karena dianggap itu bukan hari kelahiran Yesus Kristus.
Pada umumnya orang Advent merayakan hari Natal, namun, ada juga yang menolak karena merayakan hari Natal dianggap sebagai kebiasaan kafir. Sumber-sumber adventist sendiri termasuk pandangan Ellen Gould White tidak melarangnya, melainkan menganjurkannya sebagai hari peringatan yang rohani, bukan untuk bersuka ria sesuai adat kafir dan duniawi.

Lalu bagaimana dengan Kristen Protestan yang sudah terbiasa merayakan Natal sejak awal Desember hingga bulan Januari?
Umat Kristen melakukan kebiasaan merayakan Natal sekitar tanggal-tanggal di bulan Desember sampai dengan Januari. Natal sebagai kenangan tahunan ‘kehadiran Firman yang Menjadi Daging’ yang kita rayakan dengan sukacita, dimana damai sejahtera Allah dihadirkan, tentu perlu dan baik untuk dirayakan, namun kita tidak perlu terikat dengan harinya. Kita juga perlu meninggalkan dongeng-dongeng yang dicampuradukkan dalam perayaan Natal, seperti gambaran Santa Claus dengan kereta terbang yang ditarik oleh rusa kutub.  Itu campuran tradisi uskup St. Nicholas dengan dewa Odin Norwegia.

Sebaliknya, umat  Katolik merayakan Natal setelah tanggal 25 Desember. Apa yang melatarinya?
Umat Katolik merayakan Natal pada tanggal 25 Desember karena itu keputusan Paus untuk menggantikan perayaan saturnalia. Tapi Ensiklopedia Gereja yang ditulis A. Heuken S.J. menyebutkan, bahwa Natal bukan ulang tahun Yesus, tetapi perayaan keagamaan Sabda Allah turun ke dunia. Dan yang penting, perayaan Natal, terutama adalah peringatan yang dimaksudkan agar Kristus lahir di dalam hatinya, dan agar tahun demi tahun hubungan pribadi itu berkembang, sehingga dengan demikian mengubah dirinya dari dalam hati. Ia mengutip ucapan Angelus Silesius yang berbunyi: “Seandainya pun Yesus dilahirkan seribu kali di Betlehem, tetapi bukan di dalam hati, Anda tetap tidak diselamatkan.”

Apa makna Natal sesung-guhnya untuk orang percaya?
Seperti ucapan romo Heuken diatas, bahwa: “perayaan Natal terutama merupakan peringatan yang bermaksud supaya Kristus lahir di dalam hatinya dan agar tahun demi tahun hubungan pribadi itu berkembang, sehingga dengan demikian mengubah dirinya dari dalam hati.” Bagi gereja-gereja, sekalipun ada tambahan perayaan natal pada hari-hari lain di bulan Desember sampai dengan Januari, merayakan pada tanggal 25 Desember baik sekali sebagai bentuk keseragamaan, agar semua umat Kristen (baik Katolik, Protestan, maupun Advent) di seluruh dunia dapat serentak mengenang kembali kehadiran “Firman Yang Menjadi Daging” yang menghadirkan kasih, sukacita dan damai sejahtera Allah di bumi, diiringi lagu-lagu Natal yang syahdu.
                ?Lidya Wattimena

 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3963 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net