Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Khusus

Katolik Tidak Merayakan Natal Sebelum 25 Desember

Posted : 10 Januari 2012

Tanggal 25 Desember adalah hari besar bagi umat, namun, buat sebagian jemaat Kristiani seperti Gereja Advent, tak merayakannya. Menurut Hendrik R.E.Assa salah satu jemaat Advent, memang menyarankan kalau bisa misa Natal pada tanggal 25 Desember tidak diperingati. Mengapa? “Tidak ada di dalam Alkitab yang menyatakan Tuhan Yesus lahir pada tanggal 25 Desember.”

“Natal 25 Desember itu dari persekutuan gereja-gereja jaman dulu, kita hanya yakin Tuhan Yesus itu pernah hadir, pernah ada di dunia, tetapi kalau dia lahir-tidaknya bukan pada tanggal 25 Desember. Kita hanya memaknainya bahwa Tuhan Yesus pernah ada dan lahir ke dunia, itu yang kita yakini,” ungkap Hendrik R.E. Assa, di Jakarta, Rabu (2/11).

Lalu bagaimana dengan paskah? “Advent mengakui bahwa Tuhan Yesus disalibkan, justru itu kita membuat perjamuan kudus sama dengan perjanjian kudus yang dilakukan Tuhan Yesus, sebelumnya membasuh kaki para muridnya,” tegas Hendrik.

Dia menambahkan, Advent juga tak memakan daging babi. Memang betul Yesus mengatakan bahwa manusia menguasai alam di dunia, tapi bukan berarti untuk memakan semua binatang yang hidup. “Tuhan berkata hendaklah kamu memakan buah-buahan dan biji-bijian, itu yang kita pegang dan memang ga bisa makan itu,” tandasnya.

Advent sendiri tidak pernah tegas mengatakan merayakan Natal. Dan kalau pun merayakan Natal tak seperti perayaan Natal di gereja-gereja arus utama. Ada kesan Advent abu-abu, apalagi ini menyakut Kristologi.  

Melihat pro-kontra ini, Romo Benny Susetyo melihat itu hak Advent. “Kalau ada perbedannya seperti itu, iya sudahlah, kita terima, ngga usah dipersoalkan, dan tidak boleh orang lain memaksa Advent,” ungkap Romo Benny Susetyo saat ditemui di Gedung PP. Muhamadiyah, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (10/11).

Romo Benny menambahkan, di dalam Kristen perbedaan biasa. Kita saling menerima perbedaan, itu soal cara penghayatan, masing masing tak bisa disamakan. Karena ini persoalan imam dan kepercayaan.

“Kalau mereka tidak mau merayakan 25 Desember, itu hak mereka. Pandangan mengenai kelahiran Tuhan Yesus boleh berbeda-beda, tafsiran mereka, kalau mereka merayakan 1 Januari, ya hak mereka. Tetapi Kristenan arus utama sepakat menyatakan tanggal  dan bulan, 25 Desember sebagai Natal resmi,” ujarnya.

“Jadi ngga perlu dipersoalkan. Kita menghormati, asal mereka tidak memaksakan kehendaknya, bahwa yang paling benar dia. Itu menjadi masalah. Tetapi selama proses berjalan secara alami dan diyakini oleh jemaatnya iya oke-oke saja,” tambahnya lagi.

Romo Benny menambahkan, Katolik mempunyai sejarah yang telah ada selama ratusan tahun, yang terus dihayati dan diilhami terkait kelahiran Tuhan Yesus. “Katolik punya tradisi ratusan tahun, belum merayakan Natal jika belum tanggal 25 Desember, sebelum tanggal 25 yah belum Natal. Karena kita merayakan Advent terlebih dahulu selama empat minggu karena untuk menggambarkan sejarah mulai dari kelahiran sampai fase Tabisah. Dan tradisi Katolik sudah diimani empat ratusan tahun lebih,” tambah Sekretaris Eksekutif Komisi Waligereja Indonesia (KWI), ini.

Sementara itu, seperti dikutip dari REFORMATA Edisi 134, hal yang paling penting dalam Natal, menurut Pastor Dr. Bernard Boli Ujan SVD, adalah makna dari perayaan-Nya.  Natal, kata Doktor dalam bidang liturgi di Pontifico Institutio Liturgico Sant Anselmo, Roma ini, adalah memperingati kelahiran-Nya, dan bukan merayakan hari ulang tahun-Nya. “Kita memperingati kelahiran-Nya dan makna dari kelahiran itu sebagai terang yang membawa cahaya dan menghilangkan kegelapan.”

Terkait tanggal 25 Desember yang diadopsi dari hari dewa matahari, Bernard berpendapat, pestanya adalah pesta kafir, tapi itu contoh dari proses inkulturasi, baik secara ritual maupun secara teologis.  “Jadi bukan kita mengambil alih begitu saja sebuah perayaan kafir, tapi kita memberi makna baru kepada perayaan itu.  Dan makna baru itu adalah makna Kristen, tandas Bernard.

Puncak dari semua itu, kata Bernard, adalah Yesus sebagai Allah yang maha tinggi telah rela turun menjadi kecil, sebagai manusia, dipandang tidak berarti apa-apa, tetapi dengan cara itu Dia mau menyelamatkan manusia yang berdosa. Ia adalah terang yang mengalahkan kegelapan, tambah Pastor Bernard.

?Andreas Pamakayo/Slawi

Tags : katolik, natal
0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.399 sec | TOP
Tags : Katolik Natal
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net