GEREJA-gereja Advent umumnya tidak merayakan Natal. Sejarah Advent berawal tahun 1860, di Battle Creek, Michigan mengadakan perkumpulan yang menunggu kedatangan Yesus. Bagi mereka, Yesus belum datang. Dari perkumpulan itu lahir Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, waktu itu dianggap bidat. Lalu, tanggal 21 Mei 1863 secara resmi mengorganisasikan perkumpulan mereka menjadi sebuah organisasi. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh terbentuk pada tanggal 21 Mei 1863. Gereja ini yang pada awal kelahirannya dipelopori oleh Hiram Edson, James S.White dan istrinya Ellen G.White, Joseph Bates dan J.N. Andrews.
Tetapi, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh kemudian mulai berkembang dari pergerakan William Miller. Di Indonesia sendiri, aliran ini mulai dari Sumatera Utara, di Tanah Batak, dipimpin Immanuel Siregar. Pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1900 oleh seorang pendeta Amerika. Tahun 1861, Immanuel mengembangkan sayap. Awal aliran ini dengan tegas menolak merayakan Natal, dan menolak pernyataan Rasul Paulus yang menyebut bahwa masalah surga bukan masalah makan minum. Bagi Advent, justru sebaliknya, bahwa surga juga soal makan minum. Itu sebab, soal makan-minum diatur.
Narasumber REFORMATA, seorang pendeta yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, bahwa Advent sendiri tidak konsisten soal merayakan Natal. “Dulu, mereka tidak merayakan Natal, baru kemudian belakangan ini menerima Natal, dan itupun tidak sepenuhnya. Lucunya, ada Advent yang merayakan, tetapi umumnya gereja-gereja Advent sendiri tidak merayakan.” Bagi Advent sendiri juga tidak ada kata sepakat tentang menolak atau menerima merayakanan Natal. Chris Poerba dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) pernah menulis Advent Tidak Merayakan Natal. Tulisan itu muncul sesuai keterangan Niemand Sinaga, pendeta Gereja Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh, yang gereja-nya terdapat di bilangan jalan Salemba. “Advent tidak merayakan Natal, kan itu tidak disuruh dalam Alkitab, kalau kita harus merayakan Natal. Biasanya Natal kan dirayakan pada tanggal 25, tapi itu kan masih diperkirakan kalo tanggalnya segitu dan tidak ada seorang pun yang tahu,” ujar Niemand memberi alasan.
Sesama Advent, tetapi tidak sepakat soal bisa-tidaknya merayakan Natal. Sammy Munaiseche S.Ag, Asisten Pendeta di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Cawang, Jakarta ini, mengatakan Advent merayakan Natal, tetapi bukan di tanggal 25 Desember. “Tanggal 25 Desember itu bukan hari kelahiran, ulang tahun Yesus. Kami percaya akan kelahiran Yesus. Faktanya adalah di Lukas 1:26. Yesus lahir sesudah pembuangan, bulan pertama itu bulan Maret. Jika 6 bulan ke depan berarti bulan Agustus. Dari Agustus hitung September, Yesus dikandung, maka asumsinya lahir di bulan Mei-Juni,” ujar pendeta lulusan Universitas Klabat (Unklab), Airmadidih, Manado.
Lagi-lagi Sammy membuat alasan. “Jadi Yesus tidak mungkin lahir di tanggal 25 Desember. Itu ada hubungan dengan sejarah kekafiran dewa matahari, demikian tidak perlu dirayakan. Kami melihat, perayaan Natal lebih ke aplikasinya. Yang penting kelahirannya di hati kita,” katanya.
Hal senada datang dari, pendeta L. Situmorang. M.Mim, Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), Konfrensi DKI Jakarta dan sekitarnya, mengatakan pada REFORMATA, bahwa merayakan Natal, kata Situmorang, tidak tertulis dalam Alkitab kapan pastinya Yesus Lahir. Alkitab tidak menganjurkan untuk kita merayakan Natal. “Kelahiran Yesus tidak pasti kapan, kalau kita lihat dari segi musim Desember, di Palestina itu dingin. Padahal, saat itu gembala di luar padang, berarti musim panas. Sedangkan Desember itu musim dingin. Padahal, kalau kita baca di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Jadi, waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak,” katanya berasumsi.
Tetapi lucunya, Situmorang pun tidak bening menjelaskan mengapa Advent melarang perayaan Natal. Alasannya masih klasik. “Kita tidak melarang siapapun yang mau merayakan Natal, tapi kita tidak menganjurkan merayakan Natal 25 Desember. Kalau kita merayakan bukan fokus pada tanggal Yesus lahir, tapi pada pengorbanannya. Ada beberapa keluarga/lembaga yang merayakan, tapi tidak fokus pada tanggal, melainkan pada kasih karunia Yesus mau berkorban untuk menyelamatkan manusia.”.
Bagi Situmorang, menerima Natal, tetapi tidak ada, tidak terlalu mengutamakan perayaan. “Biarlah perayaan Natal bukan kita fokuskan pada tanggalnya, tapi kepada kasih karunia Yesus yang lahir di hati kita. Ada beberapa gereja dan keluarga Advent yang memasang pohon Natal di hari Natal, tidak masalah,” ujarnya menjawab.
?Lidya Wattimena