NATAL adalah hari raya umat Kristen dalam memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Sejarah mencatat, pada awalnya perayaan Natal bukan perayaan Kristen, tetapi Hari Raya Paskahlah yang dirayakan. Natal baru mulai dirayakan tahun 336 sesudah masehi (SM).
Dalam bahasa Inggris Natal dikenal dengan Christmas. Kata Christmas sendiri berasal dari kata Cristes maesse, frasa dalam Bahasa Inggris diartikan Mass of Christ, atau Misa untuk Kristus. Kadang kata Christmas disingkat menjadi X’mas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen mula-mula. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama yang menerangkan nama Kristus Yesus. Seiring waktu, lambang ini seringkali digunakan sebagai simbol suci.
Perayaan Natal sendiri pernah menjadi perdebatan panjang. Sejak abad ke-3 hingga abab ke-15 Natal dirayakan tanpa pergunjingan. Baru di masa pascareformasi gereja, satu gerakan keagamaan melarang perayaan Natal. Tahun 1600-an, Natal sempat dilarang di Inggris, Jerman dan Amerika oleh kelompok yang menamakan dirinya Puritan. Alasannya, Natal adalah hari raya kaum kafir, penyembah berhala. Hingga ada ancaman waktu itu bagi yang merayakan Natal akan diganjar hukuman.
Menarik untuk kembali digali, sejak dulu, banyak kelompok yang mencoba menafsir tentang kelahiran tanggal dan bulan kelahiran Yesus. Tetapi, selalu saja penuh reka-rekaan. Ada yang menyebutkan: lahir 20 Mei, ada juga yang menyebut 19 April, 6 Januari, dan 17 November. Namun, para bapak gereja, pada konsili pertama, telah sehati mengatakan bahwa tanggal kelahiran Kristus tidak dicatat.
Di berbagai literatur, menyebut Yesus Kristus lahir sesudah 44 tahun meninggalnya Julius Caesar. Kelahiran Yesus menjadi titik-tolak sejarah dunia, tahun kelahiran-Nya dihitung tahun satu masehi.
Seorang ahli sejarah gereja, Dr J.R. Hutauruk, setuju, bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu tanggal dan bulan kelahiran Yesus. “Jika ada yang menyebutkan tanggal dan bulan 25 Desember itu dulunya untuk penyembahan berhala, itu benar. Memang itu dulu untuk untuk penyembahan berhala,” ujarnya pada REFORMATA, Rabu (23/11) lewat selulernya.
“Kita tidak menutup fakta sejarah kalau tanggal 25 Desember itu dulunya adalah tanggal dan bulan penyembahan berhala,” ujarnya.
Ungkapan yang sama juga datang dari pendeta Herlianto mengatakan, Kristen abad pertama tidak merayakan hari Natal, bagi mereka, kekristenan berpusat pada rangkaian perjamuan malam menjelang hari kematian Yesus dengan puncak kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang dikenal sebagai hari Paskah.
"Namun, dengan kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen baru di Roma masih merayakannya, sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran Matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’," ujar Herlianto.
Sementara saat ditanya mengapa gereja Advent tidak merayakan Natal? Hutauruk mengatakan, sebenarnya kita harus tahu dulu, bahwa Advent baru hadir menjelang abad ke-19. Advent sendiri disebut sekte waktu itu. Jadi, kalau Advent merasa lebih murni karena menjalankan tradisi Yahudi, tidak merayakan Natal karena alasan dulunya Natal adalah penanggalan berhala, sesungguhnya salah. Kita tidak menyebut tanggal 25 Desember tanggal kelahiran Yesus. Hanya saja, kita tidak boleh memaksakan pendapat kita, betapa benarnya suatu pendapat.
Hutauruk menjelaskan, dalam tradisi Kristen misalnya, sebelum Natal pada malam 24 Desember malam, perayaan 25 Desember, maka sebelumnya sudah ada minggu penantian atau juga disebut Minggu Advent. Ada tahapan, harus sabar mengikuti empat minggu penantian atau Advent yang disebut minggu permenungan, pertobatan serta pengharapan.
“Dengan begitulah kita bisa merasakan sungguh-sungguh, menghayati penantian umat Perjanjian Lama, yang begitu panjang akan kedatangan Messia dan sekaligus penantian gereja akan kedatangan Kristus kembali. Hanya saja, saya melihat melihat perayaan Natal yang kadangkala hambar tanpa makna dan pemenungan, belum 25 Desember, masih awal bulan, perayaan-perayaan Natal sudah berjibun.
“Kita belum bisa sepakat bawah setelah 25 Desember baru ada perayaan. HKBP sendiri sudah pernah hendak mencoba menerapkan, agar mengindahkan Natal hanya boleh dirayakan sesudah 25 Desember. Tetapi itu juga gagal. Saya kira, Katolik lebih berhasil menerapkan hal itu, bahwa perayaan Natal baru boleh dirayakan sesudah 25 Desember, sedangkan kita tak mengindahkan itu,” ujar mantan Ephorus HKBP, ini
?Hotman J. Lumban Gaol