Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Gereja & Masyarakat

Terapi Bagi Anak Miskin Berkebutuhan Khusus

Posted : 10 Januari 2012

Yayasan Penuai Berkat Rahmat,

Pengalaman memang guru yang paling berharga.  Dengan pengalaman, orang dapat menelaah, menilai dan belajar sesuatu,  melakukan sesuatu, tidak hanya bagi diri, tapi juga orang sekitar.  Pengalaman adalah inspirasi untuk sebuah aktualisasi. 

Adalah Grace Lucia Wijanta, pendiri sekaligus ketua Yayasan “Penuai Berkat Rahmat” (YPBR) yang banyak memetik makna dibalik pengalaman yang dilalui bersama Justin, putra pertamanya yang berkebutuhan khusus. Pergulatan dengan dunia Autisme diawali Grace ketika Justin berusia 2 tahun, didiagnosa mengidap Autisme. Perjuangan menjadi orang tua, mendidik, mencarikan sekolah, sampai memberi terapi adalah pengalaman luarbiasa berharga bagi Grace dan suami. Pengalaman sulitnya akses informasi tentang kondisi anaknya, ditambah tekad Grace untuk memperjuangkan hal ini mengantarkannya mendirikan MSCC, My Special Child Centre, sebuah rumah terapi untuk anak berkebutuhan khusus (pengidap Autisme).  Tujuan utamanya tak lain karena ingin membantu para orang tua.  Pengalaman itu diwanti-wanti betul oleh Grace kepada tim-nya.  “Saat mendirikan ini, saya ingatkan betul ke tim saya, kita tidak boleh pelit informasi, orang tua mau tanya apa saja tidak boleh disembunyikan.”

Autisme Bukan Monopoli Orang Kaya

Bergulirnya waktu, semenjak MSCC berdiri pada 29 November 2007,  Grace kembali dihantarkan Tuhan untuk melihat visi pelayanan yang lebih luas lagi, bahwa Autisme bukanlah monopoli orang kaya – anak orang miskin sekalipun bisa. Mahalnya biaya sumberdaya manusia (SDM), khususnya terapis, dan tenaga professional lain, seperti Psikolog, juga ketersediaan peralatan terapi membuat biaya menjadi mahal.   Untuk ukuran mereka yang orangtuanya kurang beruntung, tentu menjadi kendala utama.  Visi ini kemudian direspons dan dia ktualisasi Grace bersama rekan-rekan pengurus dengan mendirikan Yayasan “Penuai Berkat Rahmat,” sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan kemanusiaan. Yayasan ini yang kemudian menaungi MSCC dan sekolah berkebutuhan khusus,  SCHH, Sekolah Cikal Harapan Hati.

YPBR berdiri setahun yang lalu, tepatnya pada 1 April 2010, bertepatan dengan Hari Autisme Sedunia.  Hari itu sengaja dipilih karena dinilai sebagai moment yang tepat untuk mensosialisasikan masalah autisme dan anak berkebutuhan khusus kepada khalayak, di samping karena memang YPBR bergerak di bidang pendidikan khusus bagi anak-anak yang special pula.

Pandangan Miring Tentang Anak Autis

Di masyarakat luas, sedikit orang tahu tentang apa itu Autisme.  Autisme yang secara umum adalah bentuk gangguan perilaku itu dianggap sebagai sebuah gangguan mental atau idiot, padahal, itu tidak benar.  Anak-anak spesial ini dicap miring hanya karena mereka punya dunia sendiri dan perilaku yang berbeda. “Umumnya ABK lebih senang menyendiri, lebih sensitif, sosialisasi mereka juga kurang, komunikasi mereka jelek sekali, karena memang verbalnya itu terbatas,“ jelas Grace.  

Jumlah pengidap Autis, yang menurut Grace meningkat tajam, ditambah stigma negatif oleh masyarakat – karena informasi yang mereka dapat sangat minim – memaksa Grace dan rekan-rekan berbuat sesuatu agar ABK tidak mengalami penolakan dan dapat diterima baik di masyarakat.  “Agar masyarakat juga tahu kalau anak-anak autis, atau anak-anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), bukan seperti anak-anak yang mereka sebut sebagai anak idiot, gangguan mental, itu yang mau kita netralisir.  Kita lebih concern ke situ, tegas Grace.

Sosialisasi dilakukan tidak hanya dengan menyebarkan poster atau flyer, yang dilakukan yayasan yang beralamatkan di Jl. Griya Agung Blok N3 No.54-55, Komplek Ruko Griya Inti Sentosa, Jakarta Utara ini juga dengan memberi penyuluhan kepada guru-guru di sekolah tentang bagaimana perkembangan anak usia dini yang dikomparasi dengan anak pengidap Autis. Namun demikian, daya, SDM dan upaya mereka lagi-lagi terbatas. Saat ini hanya bisa dilakukan di seputaran Jakarta Utara saja.
Tidak itu saja, YPBR juga kerap memanfaatkan moment-moment tertentu seperti hari kemerdekaan, hari autis, atau hari ulang tahun yayasan mereka untuk menggelar berbagai bentuk acara yang bertujuan untuk mensosialisasikan autisme, seperti seminar tentang anak berkebutuhan khusus, atau berkunjung ke panti asuhan.  Pada 3 Desember 2011 mendatang,  menyambut Natal, sekaligus merayakan ulang tahun MSCC ke 4, YPBR mengajak ABK dan orang tua untuk berkunjung ke Yayasan Yatim Piatu Tuna Ganda Di Palsigunung Cimanggis.  Yayasan yang memiliki filosofi “LEBIH Melayani Dengan ketulusan“ ini hendak mengajarkan kepada ABK tentang arti sebuah empati, kasih, dan melihat bahwa mereka masih beruntung jika dibanding dengan orang dengan cacat ganda. 

Melayani dengan Hati
“Hati“ menjadi kata kunci dalam menangani ABK. Itu pula yang ditekankan di YPBR kepada para terapisnya.  Bekerja di bidang ini sebenarnya adalah bentuk pelayanan, kata Grace, karena itu dituntut tidaksaja bertanggungjawab secara moral kepada anak dan orang tua, tapi juga kepada Tuhan.  Eveline Nurlina Kartawijaya, sekretaris YPBR, menambahkan, menangani anak-anak yang berkekurangan itu  harus mempunyai ikatan dengan anak, kalau tidak, dari pertama anak akan menolak dan berdampak pada progress anak sendiri kelak. Ada kesehatian antara anak dengan terapis. Mereka tidak bekerja sebagai professional yang semata mencari uang, tapi bekerja dengan hati. Itu akan terlihat pada hasilnya.


Sementara itu, terkait kebutuhan spiritualitas anak yang diterapi, YPBR mengembalikan sepenuhnya kepada orangtua.  “kalau untuk kebutuhan spiritual anak, kita kembalikan ke orang tua. Spiritual itu tugas orangtua. Tugas kita hanya mendidik supaya anak ini berperilaku lebih baik,” tegas Grace.  Kendati demikian, Grace sangat senang membagikan pengalaman bagaimana dia mengenalkan Tuhan dan ajaran agama ke anak  kepada teman-temannya yang menanyakan hal itu.  “Anak-anak seperti ini tidak bisa mengonsumsi sesuatu yang abstark, yang perlu diajarkan orang tua adalah memberi contoh dan teladan, termasuk dalam ritual-ritual keagamaan seperti berdoa sebelum makan,” terang Grace

Anak Kurang Beruntung Bisa Terapi

Mengingat ABK, khususnya yang papa, adalah juga karya tangan Tuhan yang amat sangat luar biasa, karena segambar dan serupa dengan Dia, YPBR memandang mereka juga berhak ditolong.  Dalam menolong ABK dari keluarga kurang beruntung, YPBR menerapkan sistem subsidi silang. Tapi, bukan berarti seluruh biaya terapi ditanggung oleh YPBR, orang tua juga diwajibkan berkontribusi.  “kepada orang yang ndak mampu, kita tanyakan mereka mampunya seberapa. Mereka turut berkontribusi. Selanjutnya kita akan berusaha membantu untuk mencarikan donatur untuk membantu anaknya,“ kata Grace.  Prosesnya pun menurut Grace tidaklah terlalu rumit dan jlimet.  Keluarga ABK yang kurang mampu dapat terlebih dahulu datang, bertemu dengan pengurus untuk diinterview.  Diharapkan membawa surat keterangan miskin dari lurah dan rt, lalu pihak yayasan akan mensurvey.  Hasil survey akan menentukan apakah ABK memang layak dibantu atau tidak.

Proses selanjutnya adalah proses seperti terapi pada umumnya, yaitu melakukan Asesmen (proses mengumpulkan informasi dan mengukur performans ABK), untuk menentukan terapi apa yang tepat.  Sebab, terapi tidak hanya satu macam, ada beberapa macam, seperti terapi okupasi, terapi sensor integrasi, terapi wicara dan lainnya.  Terapisnya pun berbeda-beda, bergantung pada terapi apa yang akan dilakukan. Ini juga menetukan apa yang diperlukan anak.  Untuk mengetahui progress anak, Grace dan timnya akan memberi laporan evaluasi kepada orang tua seiap tiga atau enam bulan. 

Sebagai ketua di YPBR, sekaligus ibu dari anak pengidap Autis, Grace mengingatkan kepada orang tua agar menerima dengan legowo dan ikhlas keadaan anaknya. Jika orang tua menolak, menurut Grace, ABK tidak akan maju. “Jangan pernah menargetkan kepada anak seperti ini terlalu tinggi. Sebab, kalaupun ada ABK yang berprestasi, itu semata karena anugerah, bukan fokus, sebab ABK umumnya fokus mereka rentan,” terang Grace.  Yang dilakukan ABK, ujar Grace, adalah hal yang disukai. Misal kharisma, penderita autis yang bisa mengahapal dan menyanyikan 250 lagu.  Itu adalah kesenangan dia yang digali oleh gurunya, sehingga dia bisa menghafal dan menyanyikan 250 lagu.  Grace juga menghimbau agar prestasi anak disesuaikan dengan anak, bukan keinginan orang tua.   
Bagi Grace yang namanya autis itu tidak kenal dengan istilah kaya atau miskin.  Namun, dengan kaca mata rohani, Grace  melihat bahwa Allah tidak akan mungkin memberi sesuatu yang manusia tidak mampu hadapi. 

Slawi


 

20
1 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4097 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net