Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Hikayat

Klenik

Posted : 10 Januari 2012
Klenik.jpg

 Hotman J. Lumban Gaol

Bila kita dengar kata “klenik,” barangkali yang tiba-tiba muncul di benak kita adalah ruang untuk kesehatan. Klenik bukan klinik, klenik lebih klenis. Kata klenik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan mistik, sebagai sebuah kegiatan perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai banyak orang dengan mempersembahkan harapan-harapan mereka. Mistik sendiri diartikan sebagai hal gaib yang tidak terjangkau nalar manusia.

Klenik, mistik, itu adalah kekuatan gaib yang tidak dijangkau akal manusia. Maka disebut hal yang tidak terjangkau nalar itu adalah misteri. Ada yang salah. Sering orang menyebutkan ini terkait soal percaya pada Tuhan, dan menyebutnya dengan iman. Inilah fenomena. Bahasa manusia sepertinya terlalu sederhana membahasakan sebuah fenomena. Tetapi terlalu naif juga kalau semua kejadian kita sebut gaib, tanpa ada nalar hadir menakar, meniadakan ruang untuk mengkritisi hal yang muskil.

Hakikatnya, kita harus menghormati fakta. Tetapi semua yang tidak masuk akal harus dikritisi. Fakta juga tidak boleh mentah-mentah ditelan tanpa dikritisi. Semua kejadian bisa saja disebut klenik jika bergantung pada perspektif bagaimana sesuatu itu terjadi. Nyatanya, dunia ini dipenuhi orang-orang yang percaya pada klenik, percaya yang gaib, percaya mistik. Gereja pun larut, menjual mujizat untuk sebuah kesohoran; mistis dibalut seremoni ibadah gereja melalui mujizat minyak urapan.

Sebagai orang yang diterangi firman Tuhan, tentu kita percaya pada kekuasaan Tuhan. Bukan menyebut yang mistik itu tidak ada. Di antara ada-tidak-ada, tapi ada, itu klenik.

Bicara soal klenik, kita tentu membicarakan kekuatan satan, kekuatan jin. Bicara soal jin, mau-tidak-mau juga harus bersinggungan dengan apa yang gaib. Hal seperti ini bukan sesuatu yang asing.  Masyarakat Batak masa lalu misalnya, percaya kalau ingin kaya mendadak pelihara “Begu Ganjang.” Begu Ganjang dipelihara untuk mencuri  harta orang lain, tetapi ada tumbal si begu meminta tumbal. Antara percaya dan tidak percaya dengan keberadaan kekuatan gaib, di sinilah klenik yang menjadi berhala.

Kata berhala sebagai kata benda memiliki arti patung, dewa, penggunaan kata berhala kemudian meluas menjadi makhluk atau benda; matahari, bulan, malaikat, hewan. Apa saja yang dipercaya selain Tuhan, termasuk percaya “minyak urapan” itu adalah berhala.

Sementara kata kerja dari memberhalakan berarti memuja dan mendewakan. Benda bisa pula dijadikan sebagai obyek menyembah, sebagai pujaan, seperti memberhalakan sesuatu. Pemujanya mengatakan “tuhan yang harus disembah.” Pertanyaannya, tuhan atau Tuhan, yang mana?

Kalimat memberhalakan pun meluas, seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada Tuhan. Misalnya, lebih takut kepada seseorang yang memiliki pitonggam, (karisma) gaib dibanding rasa takut kepada Tuhan. Dalam tradisi orang Yahudi berdoa selalu menyebut Tuhan sebagai Dia yang memberkati. “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu,” demikian kata pemazmur mengoreskannya. Sama seperti kita diberkati oleh Tuhan, demikian kita hendak memuji Tuhan. Tapi privilese, hak keistimewaan pada Tuhan sering kita tempatkan sebagai sesembahan saja. Lalu, mengistimewakan yang tidak sesungguhnya istimewa, tidak layak, itulah klenik.

Salah satu klenik yang dipraktikkan adalah pada patung. Amat tipis bedanya. Tujuan penciptaan patung untuk menghasilkan karya seni yang dapat bertahan selama mungkin. Patung umumnya diolah menggunakan bahan orisionil, dari bahan-bahan yang berkualitas, tetapi kadang kala ada yang menempatkan keindahan itu jadi pujaan.

Sesungguhnya  memberhala-kan patung ini sudah terjadi pada agama-agama, pada kepercayaan-kepercayaan yang politeisme seperti terjadi di Timur. Juga muncul dalam sejarah agama samawi. Patung, antara seni dan sesembahan memang agak beda tipis. Patung di Bali misalnya bisa dipakai sebagai sesembahan, bisa juga dianggap keramat.

Dulu, patung dijadikan sebagai berhala, simbol tuhan atau dewa yang disembah. Tetapi, seiring waktu, dengan makin rasionalnya cara manusia berpikir, patung itu tidak lagi dijadikan berhala, melainkan hanya sebagai karya seni semata. Tapi itupun masih tarik-ulur; ada yang sudah menempatkannya sebagai barang seni dan ada yang masih menyebutnya barang kramat. Lihat juga arca. Mungkin juga dalam Hindu kuno di India, di Nusantara, dalam agama Budha di Asia, Konghucu, kepercayaan bangsa Mesir kuno dan bangsa Yunani kuno. Ada unsur mistisnya, itulah klenik. Sebab, itu adalah cara iblis mengelabui umat-Nya.

Klenik rada-rada rabun pengertian-nya. Klinik seringkali dipahami tenaga supranatural. Sebagai orang yang percaya Tuhan, pengikut Yesus, tidak etis kita menaruh harapan pada yang mistis, klenik itu. Percaya klenik berarti percaya pada tangan satan. Menjalankan klenik, mempercayakan hidupnya pada tempat yang tidak tepat.Sebab, tangan orang klenik yang menyembah berhala terpilin de-ngan jampi-jampi. Martha Tilaar mengatakan, jampi-jampi berarti formula yang berbau magis. “Du-kun atau balian memberikan ramuan-ramuan dengan mengu-capkan jampi-jampi yang dimo-honkan kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakit tertentu,” tuturnya.Oleh karena asal muasal istilahnya yang dinilai berbau magis inilah, pengembangan produk jamu berbasis warisan leluhur mendapatkan respons negatif sejak tahun 1970. Sepertinya kudus menjadi kudis. Ini memang menjadi masalah sosial dalam masyarakat kita hari ini. Banyak orang yang berbaju agama, menjalankan agama, tetapi masih percaya yang klenik. Aura mistis masih terasa dalam setiap perjalanan mengiringinya. Kita sering pongah dalam menyerahkan hidup yang sesungguhnya. Orang yang percaya Tuhan tidak percaya yang mistis. Maka, di dalam Tuhan, klenik jika sudah disakrametaliakan, dikhususkan di dalam nama Tuhan menjadi kudus. Amin.

 

Tags : klenik
0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4322 sec | TOP
Tags : Klenik
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net