Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Bincang-Bincang

Ambruknya Jembatan Kutai Kegagalan Manajemen Konstruksi

Posted : 31 Januari 2012

Prof Dr. Manlian Ronald A. Simanjuntak, ST, MT

GOLDEN Gate-nya Indone-sia. Begitulah sebutan untuk Jembatan Mahakam II atau juga disebut Jembatan Kutai Kartanegara. Sebelum ambruk, jembatan ini merupakan jembatan utama penghubung Kota Tenggarong dengan Sa-marinda. Jembatan ini tiba-tiba ambruk pada Sabtu (26/11). Korban diperkiran masih ada 21 orang. Di antara korban ada satu keluarga yang meninggal seluruhnya.  Budi Yulianto bersama istri dan 3 anaknya ikut terjebur bersama mobil Daihatsu Xenia ke dalam Sungai Mahakam. Ambruknya jembatan telah dilakukan penyelidikan marathon oleh polisi. Pada tanggal 5 Desember lalu, tim penyidik telah memeriksa Direktur Operasional PT Bukaka Teknik, Sofiah Balfas.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama jembatan jenis  gantung membawa celaka. Tercatat sudah puluhan kali jembatan tipe ini ambruk dan memakan korban di seluruh jagat. “Sebenarnya jembatan gantung relatif lebih aman, tetapi tetap berisiko. Jembatan jenis ini tidak memiliki tiang penyangga di tengah-tengah jembatan. Cuma  bertumpu pada tali penyangga  yang terbuat dari kabel baja,” ujar Prof. Dr Manlian Ronald A. Simanjuntak ST. MT, pakar  Manajemen Konstruksi dari Universitas Pelita Harapan. Beberapa waktu lalu wartawan Reformata, Hotman J. Lumban Gaol mewawancarai Professor muda kelahiran Jakarta, 30 November 1974, ini. Demikian  petikannya:

Runtuhnya Jembatan Kutai beberapa waktu lalu disebut sebagai kegagalan....
Pertama, saya mau jelaskan kompetensi saya adalah di manajemen konstruksi. Saya telah menyeroti hal ini, memberikan pandangan, baik tulisan maupun dalam wawancara di media. Dan sudah kami seminarkan (Selasa, 6 Desember) di kampus Pascasarjana UPH bertajuk mengantisipasi kegagalan konstruksi. Menurut saya, kegagalan yang terjadi di jembatan Kutai Kartanegara adalah kegagalan manajemen konstruksi. Kita tidak bisa melihat hanya jembatan yang runtuh, tetapi jauh dari sebelumnya.

Apa peranan mana-jemen konstruksi da-lam mengantisipasi terhadap kegagalan konstruksi?
Masalah manajeman konstruksi ada dua hal, kelaikan teknis dan ke-laikan administrasi. Dari manajemen konstruksi harus dilakukan penelitian yang mendalam. Bicara kelaikan tek-nis, desain, bicara struktur, konteks lingkungan, bicara soal adminitratif, juga soal sertifikasi.

Runtuhnya jembatan pada saat dilakukan perbaikan?
Tetapi harus diingat bahwa proses sebelumnya itu juga terkait sekali. Siklus sebelumnya adalah desain. Ini tentu melibatkan banyak pihak, baik perancang bangunan ini secara sipil, dari teknik sipil, bisa juga mengaitkan dengan konteks lingkungan perancangnya. Juga dari segi arsitektur, tata kota misalnya. Fase sebelumnya juga di sini adalah siapa yang terlibat studi kelayakan proyek, dan ini penting.

Apa prosedur kelaikan itu tidak berjalan?
Proses yang harus dilakukan harus komprehensif dan terintegarasi seluruh siklus proyek, serta seluruh elemen pembentuk siklus konstruksi tersebut. Lalu, setiap fase harus mengeluarkan semacam standar operasioanl prosedur (SOP) atau standar panduan untuk tahap berikutnya. Proses standar perawatan bangunan, harus mendapat standar panduan dari kontraktor pelaksana proyek. Kontraktor pelaksana harus mendapatkan SOP dari desainer, dan desainer harus juga mendapatkan catatan penting dari studi kelaikan.

Kalau demikian prosedurnya siapa yang bertanggung-jawab dalam hal ini?
Kita harus menyingkapi aparat yang terkait dalam hal ini. Antara lain undang-undang tata ruang, undang-undang penanggulangan bencana, undang-undang jasa kontruksi nomor 18 1999, undang-undang bangunan nomor 28 Tahun 2002. undang-undang lainnya yang bekaitan dengan yang lainnya, ini juga terkait dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kalau kita mau cari siapa yang salah, mungkin bukan ke situ arahnya. Tetapi yang mau kita cari adalah apa risiko terbesar dari masalah ini. Pertanyaannya, jalan ini masuk dalam kategori mana, jalan Negara atau jalan Provinsi. Kalau jalan nasional rekomendasinya siapa? Dari sana kita bisa lihat. Tetapi perlu dilakukan forensik enginering terkait runtuhnya Jembatan Kutai.

Mengapa umur jem-batan  pendek. Apakah memang jembatan gantung seperti di Kutai tergolong berumur pendek?
Kalau kita lihat jenis jembatan ini adalah jenis jembatan gantung, di beberapa negara sudah ada, dan di Amerika Serikat juga sudah ada. Kalau kita lihat umur dari jembatan itu, kita harus dulu melihat dari studi kelayakan raport. Karena umur dari jembatan ini juga tergantung dari lingkup pelayanan masyarakat, sosial, ekonomi, hukum, teknik itu yang kemudian diwadahi struktur kontruksi. Prediksinya memang untuk melayani masyarakat berpuluh tahun, maka strukturnya juga harus merespon hal itu. Sehingga ada banyak aspek yang terkait terhadap umur jembatan. Memang melihat umurnya terlalu dini bisa runtuh.

Dibanding jembatan Suramadu, mana lebih berisiko?
Semuanya riskan. Sebenarnya jembatan gantung relatif aman, karena dia memiliki ornamen struktur yang dapat dan mampu melayani beban hidup dan beban mati dari sebuah jembatan jika dilakukan dengan seluruh apa yang dipersyaratkan. Memang, kalau kita lihat potensi dari jembatan ini adalah konteks alam, kita harus ingat tanah di Kalimatan itu tanahnya gambut. Kita harus kaji, devormasi tanah sangat memungkinkan devormasi struktur. Kita juga harus lihat dari potesi risiko dari air.

Mengapa air?
Karena air juga menimbukan resiko horisontal. Dan itu bisa menjadi beban hidup dan matinya dari jembatan. Lalu adanya beban di atas jembatan, yaitu kendaraan yang melewati over kapasitas, itu juga potensi risiko. Sementara di bawah jembatan, perlu dikaji, apakah layak menjadi transportasi air, karena ada informasi menyebutkan bahwa adanya tabrakan unsur vilon di bahwa jembatan. Nah, ini potensi-potensi resikonya.

Perawatan sering terabaikan, bagaimana pengawasannya?
Dalam rangka perawatan produksi wajib dilakukan report berkala, mingguan dan bulanan. Dan laporan itu wajib dilakukan pada pihak yang sebelumnya melaksanakan proyek. Karena secara akademik dan profesional yaitu kontraktornya, dan juga si pemberi tugas harus mendapat reportnya terus-menerus, pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Apa yang harus dilakukan ke depan...
Proyek kontruksi adalah investasi jangka panjang, karena itu kami dari UPH mengusulkan segera bentuk tim Komite Nasional Kegagalan Kontruksi (KNKK) untuk menanggulang hal-hal seperti ini ke depan. Karena ini juga amanat undang-undang, dalam hal ini perlu ada tim ahli konstruksi dan tim ahli gedung yang seharusnya dibentuk. Tetapi ahli yang bertanggung jawab – tanggung jawab dan tanggung gugat.

Ada himbauan?
Saya kira kegagagalan jembatan Kutai Kartanegara adalah kegagalan mana-jemen konstruksi. Usul ki-ta sebelum gedung atau jembatan dibangun harus terlebih dijelaskan potensi risikonya.
  ?Hotman J. Lumban Gaol


 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net