Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Kematian, Mujizat Bukan Musibah

Posted : 31 Januari 2012

Impian setiap anak dapat memberikan yang terbaik saat orangtuanya hidup, dan melihat kematian mereka dalam kedamaian dan ketenangan. Ternyata rencana Tuhan berbeda untuk Samuel Hutabarat dan kedua saudaranya.

Tepatnya 2 Agusutus 2008, sebuah sejarah yang tidak akan terlupakan, mengagetkan, serta memilukan, terjadi atas kehidupan Evangelis Hamonangan Hutabarat dan Evangelis Rospita Tiur Marintan Simatupang yang adalah orangtua Samuel.

Kematian Itu

Pagi itu, Samuel terbangun karena dering telepon yang tidak berhenti memanggilnya untuk segera mengangkat teleponnya. ”Amang (papa), Inang (mama) dibunuh, dirampok, cepat ke sini,” suara Farel, ipar laki-laki Samuel dari seberang.

Samuel terdiam, tak percaya akan apa yang terjadi, gemetar dan tak mampu berkata apa-apa. “Tuhan Yesus, kami tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi kami tahu bahwa Tuhan menyertai kami. Kami mohon kekuatan dari Tuhan, kami mohon kedamaian dari Tuhan. Tolong Tuhan curahkan kekuatanMu atas kami. Amin,” sepenggal doa dalam tangis yang dalam dari Samuel dan Grace, istrinya, sebelum akhirnya menuju ke rumah orangtua.

Terlihat 3 mobil ambulans, kerumunan orang banyak, para wartawan, petugas berjaga di depan pintu gerbang dan sebuah pita kuning bertuliskan “Police Line-Garis Batas Polisi” di depan pagar. Berita kematian itu benar. Orangtua yang dicintai Samuel telah pergi untuk selamanya.

“Mereka terkulai tak bernyawa oleh tikaman pisau berkali-kali oleh seorang oknum petugas Linmas (Pelindung Masyarakat) yang merampok, membunuh papa-mama, juga pembantu di rumah,” kisah Samuel pilu.

“2 bulan sebelumnya (2 Juni), kami merayakan pesta ulang tahun papa dan aniversary mereka, ternyata itu adalah pesta perpisahan,” Kenang Samuel. “Rumah papa-mama dalam tahap renovasi untuk nantinya, saya, Grace, dan kedua anak kami dapat tinggal menemani mereka. Ternyata hanya impian yang tertunda. Mereka telah tiada,”tambah Samuel berusaha mengerti rencana Tuhan yang baik di balik kematian itu.

“Kematian tragis orangtua saya bukanlah kesalahan dari Tuhan, melainkan Tuhan memiliki rencana indah di balik peristiwa ini. Kematian orangtua saya bukanlah musibah, melainkan mujizat dari Tuhan,” tutur Samuel pasti. “Saat hidup mereka selalu berdua. Apapun yang dilakukan dan kemanapun selalu berdua. Saat meninggal pun, Tuhan mengijinkan mereka tetap bersama,” ungkap si bungsu dari 2 bersaudara ini penuh makna.

“Ironisnya, papa-mama perhatian kepada orang miskin dan terlupakan, tapi kehidupan mereka malah dihabisi oleh orang seperti itu. Itulah kehendak Tuhan,” urai Samuel menyikapi pandangan banyak orang yang mengenal kebaikan dan pelayanan papa-mamanya semasa hidup.


Pengampunan

Sewajarnya kematian yang terjadi atas orangtua Samuel pasti menimbulkan rasa kecewa, marah, kebencian kepada pelakunya. Namun, malam itu juga sehari setelah menerima jenazah orangtuanya, Samuel diingatkan Tuhan untuk harus mengampuni pelaku pembunuhan.

“Saya berdoa, jika itu yang Tuhan inginkan, maka saya akan mengampuni. Itu juga perjuangan dari kedua kakak saya,” ungkap Samuel Jujur. Tuhan menginginkan pengampunan tidak hanya dari ucapan, namun harus dari hati yang dalam. Pergumulan itu memberi jawaban, tepatnya 2 Desember 2008, getaran hati yang kuat mendesak Samuel harus segera menemui pelaku di POLSEK Matraman.

Saat ditemui, Pelaku terlihat takut dan gugup. “Nendi, saya datang bukan un-tuk menghakimimu. Kami sudah benar-benar meng-ampunimu. Kenapa kami mau mengampuni kamu?”. Saya mulai menceritakan keselamatan, Tuhan mengampuni dosa,” kisah Samuel haru. Bahkan Samuel-pun sempat memberi pesan kepada Nendi, jika membutuhkan pertolongan dapat disam-paikan kepada polisi, agar dirinya bisa menolong.

Tanpa bisa berbicara banyak, Samuel berdoa untuk Nendi dan keluarganya supaya kuat menghadapi pengadilan, keuangan, dan juga istrinya. “Nendi bisa tenang. Ada senyuman di pipinya,” kenang Samuel dan langsung pulang dari kantor polisi. “Damai sejahtera itu benar-benar Tuhan tinggalkan,” tandas Samuel menyaksikan karya pengampunan Tuhan.

“Orang tua saya dari kecil sangat senang membicarakan iman. Soal doa, gereja, jangan macam-macam,” warisan inilah yang membuat Samuel yakin iman itu hadir dalam hidupnya. “Banyak orang berdoa untuk kami,” itupun keyakinan yang dirasakan Samuel telah memberikan banyak kekuatan untuk dirinya dan keluarga menghadapi kematian orangtuanya.

       ?Lidya Wattimena

 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.5901 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net