Bimantoro
Dear Konselor, usia pernikahan kami baru berjalan kurang lebih 9 bulan, dan saat ini kami masih tinggal bersama orang tua. Awalnya isteri saya memang kurang suka tinggal bersama orang tua saya, dengan alasan ingin mandiri. Tetapi, melihat kondisi orang tua saya yang hanya berdua saja, mengingat saya anak tunggal, rasanya saya menjadi tidak tega kalau harus hidup terpisah. Apalagi rumah orang tua saya cukup luas. Masalah yang muncul akhir-akhir ini adalah, sikap isteri yang selalu mencari-cari kesempatan untuk lebih sering di luar rumah, dan kalau dirumah lebih banyak diam, tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga dan menjawab seperlunya bila di tanya. Isteri saya bekerja, sejak pagi-pagi benar sudah meninggalkan rumah dan baru kembali sekitar pukul 8 malam. itu setiap hari.
Orang tua saya sangat mengerti kondisi ini dan meminta saya untuk tidak membesar-besarkan masalah ini. Tetapi, saya rasanya tidak bisa menerima, apalagi kalau pergi tidak ingin orang tua saya ikut, dengan alasan mereka selalu ikut di hari minggu ke gereja. Orang tua saya tidak pernah menuntut pada dia, pekerjaan rumah tangga juga dilakukan oleh pembantu dan diawasi oleh mama saya. Dia tidak pernah memasak, saya ingin dia lebih banyak dirumah dan belajar pada mama saya bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang baik. Keinginan saya itu akhirnya menjadi sumber pertengkaran. Apakah saya salah kalau menginginkan isteri belajar dari mama saya dan lebih banyak meluangkan waktu dirumah?.
D di Bandung
Dear D di Bandung, Rasanya sah-sah saja ketika suami menginginkan seorang isteri pintar mengatur rumah tangga dan lebih banyak meluangkan waktu dirumah. Apalagi, anda juga berharap isteri bisa belajar dari mama anda, yang mungkin merupakan figur isteri yang cukup ideal. Tetapi dalam berelasi, ada dimensi keunikan setiap pribadi, yang tentunya akan menghasilkan pola relasi yang berbeda-beda. Dan saya percaya, keunikan setiap pribadi itu akan mendasari seseorang ketika dia meresponi kondisi-kondisi dalam hidupnya. Artinya, hidup ini merupakan kumpulan dari aksi dan reaksi, dimana setiap orang tentu mempunyai alasan mengapa dia menampilkan suatu tingkah laku atau respon tertentu. Berdasarkan surat yang anda sampaikan, anda menyebut bahwa sikap isteri terjadi pada akhir-akhir ini, artinya, sebelumnya dia tidak seperti itu. Dari pernyataan ini saya menduga beberapa hal sebagai berikut:
Ada kemungkinan terjadi suatu peristiwa yang membuat isteri menjadi bersikap seperti itu. Untuk mengetahui apa yang terjadi, anda dapat mencoba mengingat-ingat, kira-kira perubahan apa yang tejadi sehingga isteri seperti itu. Bisa saja ada sikap tertentu dari anda yang juga berubah dari sikap semula terhadap dia. Atau apakah ada perubahan dalam pekerjaannya, atau sebetulnya selama ini dia cuma bersabar, karena sebetulnya dia ingin hidup mandiri. Jangan-jangan anda pernah menjanjikan hal hidup mandiri pada dia, tapi mengingat kondisi orang tua anda mencoba untuk menunda-nunda, bahkan mungkin membatalkan rencana itu. Bisa juga perubahan ini terjadi karena ada kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan mertua, yang cukup terampil mengurus rumah tangga, sementara sebagai wanita bekerja dia merasa tidak mampu meneladani mertua. Atau mungkin dia sedang berbadan dua, namun belum anda sadari, dan kemungkinan lainnya. Coba anda mencari tahu kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja sedang dialami oleh isteri.
Dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi itu, sikap isteri sebetulnya bisa kita pahami sebagai cara dia memberikan pesan tertentu kepada kita. Pesan yang ingin disampaikan bisa berbagai macam, mulai dari kejengkelan, kemarahan, kekecewaan dan bahkan putus asa. Atau dia merasa terjebak dalam kehidupan yang dirasa tidak ada jalan keluar kecuali menerima. Tapi apapun pesan yang ingin disampaikan, ada kemungkinan dia sedang merasa tidak dimengerti oleh suaminya, bahkan yang berkembang adalah, suami yang semakin menuntut dia untuk menjadi seperti orang lain, yang mungkin dia merasa tidak mampu memenuhi tuntutan itu. Jadi, setelah anda mencari dan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi, dalam point kedua ini saya mengajak anda untuk memikirkan peran anda sebagai seorang suami yang hendaknya mencoba mengerti apa yang sedang isteri alami. Hal ini bisa kita lakukan dengan tidak sekedar melakukan respon atas apa yang dia munculkan dalam tingkah laku/sikap dan kata-kata, tetapi mencoba memahami apa yang ada dibalik respon dia – apa pesan yang ingin dia sampaikan. Sekadar meresponi apa yang tampak diluar seringkali membuat kita salah mengerti, dan ujung-ujungnya membuat masalah menjadi lebih rumit.
Memahami hal-hal itu, hendaknya kita kerjakan dengan sebuah kesadaran prinsip dalam Efesus 5:25. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.“ Dalam usia pernikahan yang masih muda, tentu ada banyak penyesuaian yang mesti harus dikerjakan. Ketika kita ada dalam kesulitan memahami pasangan, akan sangat berguna kalau anda berbicara dengan seorang konselor pernikahan yang dapat membantu anda lebih memahami pasangan dan kebutuhannya. Sehingga, masalah yang muncul bisa dicarikan jalan keluar, dan tidak melebar, bahkan menjadi akar pahit dalam kehidupan rumah tangga, yang berakibat bisa merusak. Kiranya Tuhan Yesus menolong anda.