CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Sahabat Munir Itu Telah Pergi

Tuesday, 31 Januari 2012 | View : 1413

SONDANG Hutagalung orang yang taat. Kesehariannya terlihat dari sikapnya. Mau berangkat kuliah dia selalu berdoa. Orangnya humoris, kerap melontarkan banyolan-banyolan untuk menghibur keluarga. Dia tidak pernah membawa urusan kuliahnya ke rumah, kalau di rumah, ya bercanda, tertawa. “Mijit-mijitin pundak Mama, sama cari uban,” kata Bob, kakak Sondang. Dia juga dapat beasiswa dari kampus dan dapat beasiswa dari tempat Bapak bekerja sebagai sopir taxi, di Blue Bird, dari semester pertama hingga semester terakhir. Bahkan, setelah lulus kuliah, Sondang berniat menjadi lawyer.

Namun, semua itu sepertinya hanya tinggal kenangan. Sondang Hutagalung, lahir di Jakarta 12 Desember 1989 nekat membakar diri, tepat di depan Istana Merdeka Jakarta, Rabu, 7 Desember 2011 lalu. Empat hari kemudian Sondang menghebuskan nafas terakhir. Kamis (15/12) lalu Reformata mewawancarai orangtua Sondang, Saur Dame boru Sipahutar di rumahnya, di bilangan Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat. Demikian petikannya:


Bagaimana Sondang waktu kecil?

Sondang adalah anak saya yang keempat, si bungsu (Bob Crispianza Hutagalung, Mersi boru Hutalung Herman William Hutagalung, dan terakhir Sondang Hutagalung). Anak ini lain, dia penurut dan kalau dipanggil selalu menjawab “apa Ma?” Saya melihat, sejak SD sampai SMP dia disenangi orang. Banyak bergaul, tetapi sebenarnya dia pendiam. Tahun 2007, karena memang dia berniat untuk terus kuliah, kebetulan (dari tempat kerja) Bapaknya mendapat beasiswa. Tahun ini, dia seharunya sudah menyadang sarjana hukum, tanggal 24 Desember ini. Terakhir, dia sudah menyusun skripsi. Tetapi itulah masalahnya, Tuhan berkehendak lain, dia meninggal seperti yang diberitakan. Terakhir, baru saya tahu dia ikut dengan kelompok Hammurabi (Nama kelompok yang Sondang dirikan bersama teman-temannya untuk mengkaji masalah sosial-politik, terutama dari perspektif Marhaenisme), itu saya tahu dari Kontra’S.


Sebelum melakukan aksi, apakah Sondang menunjukkan tingkah aneh?

Tidak ada. Saya baru tahu selama ini dia cerita pada teman-temannya, bahwa dia mengalami kekecewaan yang sangat terhadap keadaan yang ada. Dia sering ketus mengatakan, bahwa dia kecewa dengan keadaan yang ada. “Kita sudah berkali-kali melakukan demo. Bahkan surat pun dibendung,” kata dia pada teman-temannya.


Apakah dia pernah cerita soal bebannya?

Abangnya juga sering tanya, dia terkait soal skripsinya, dia selalu menjawab tidak ada masalah. Dan memang kita juga merasa tidak ada masalah. Karena orangnya pintar, terbukti dia mendapat beasiswa dari sekolah dan kantor di mana bapaknya kerja.


Kapan terakhir Sondang  pamitan?

Hari Senin tanggal 5 Desember 2012 lalu, itu terakhir. Waktu itu dia minta uang, katanya untuk membayar uang wisuda satu juta empat ratus ribu. Tetapi, menurut pengakuan dari temannya di Kontras, dia malah pamit, katanya dia mau bantu ibunya kerja. Tetapi, pada saya, waktu itu Sondang pamitan menginap di rumah temannya orang Sulawesi. Sampai sekarang temannya yang orang Sulawesi ini masih misteri, karena kita tidak tahu dia ke mana sebelum melakukan aksi itu. Sorenya, hari Senin, saya masih telepon, saya memastikan  apakah uang kuliahnya sudah dibayarkan. Dia mengatakan sudah. Saya masih ingat, hari minggu sebelum kejadian itu, kami masih ke Gereja, pulang Gereja dia masih bercanda-canda. Dia masih memasang lagu dari handphone-nya. Lagu yang dia putar adalah tiada berkesudahan kasihmu Tuhan. Saya hanya bersukacita, karena dalam pikiran saya anak ini akan diwisuda tanggal 24 Desember ini. Saya merasa bangga dengan dia, kalau ada tantangan, misalnya di Gereja, dia akan selalu maju dengan angkat tangan.


Apa yang ibu ketahui tentang aktivitas yang digeluti Sondang?

Yang saya tahu, karena dia memang rencana menjadi pengacara, lalu kalau berhasil nanti akan mendirikan yayasan di kampung Tarumajaya. Alasannya, orang-orang sekitar lingkungan kami masih banyak yang belum sekolah. Maka, selama mahasiswa, dia banyak mendampaingi orang-orang yang tersangkut hukum, misalnya masalah tanah di pengadilan. Selalu ikut dengan aksi Sahabat Munir. Dia selalu katakan, dia Sahabat Munir. Saya katakan Munir sudah mati, masa kau bersahabat dengan orang yang sudah mati. Dia selalu kami nasihati jangan ikut demo-demo, tetapi dia selalu mengatakan kita tidak boleh melawan buaya dalam air.


Mendengar kabar Sondang melakukan aksi bakar diri di depan Istana, bagaimana respon ibu?

Saya sendiri mendengar itu tidak percaya sama sekali. Karena saya tahu bukan begitu type anak saya. Malah, dia selalu mengatakan, membesarkan harapan, “Ma, nanti kalau Sondang sudah kerja akan beli rumah untuk mama,” begitu katanya. Tetapi sebagai orangtua saya tidak tanggapi serius, saya pikir itu hanya untuk memberikan semangat untuk kita. Maka, ketika saya melihat, bahwa dia anak saya, simpudan bungsu saya, saya menjerit, marah pada dia. Saya katakan, Sondang tega kali engkau, engkau buat harapan mama putus. Kita sempat juga melihat tindakan dia salah. Tetapi, ketika di depan jenazah, teman-temannya datang memberikan penghiburan, saya mulai kuat.


Apa yang membuat ibu bisa menerima?

Ada satu temannya, entah dari kampus atau sesama aktivis mengatakan, “ibu relakan Sondang. Dia sudah di pangkuan Tuhan Yesus,” ketika saya lihat yang mengucapkan itu adalah seorang yang berjilbab, saya makin dikuatkan. Bahwa apa yang dilakukan anak saya adalah tindakan martir, bukan mati sia-sia. Karena, kalau disebut dia nakal, saya kira tidak mungkin, IPK-nya bagus. Dia tidak merokok, dan tidak pernah macam-macam. Orangnya tidak beringas, maka saya ragu dia yang melakukan aksi bakar diri itu. Saya katakan di depan mayatnya, “Sondang kau jahat, sudah hancurkan kebahagiaan mama,” karena selama ini dia sangat manja dengan saya. Kalau mau tidur harus dipangkuan saya. Maka, saya katakan “Sondang, ayo kita pulang, kamu jahat sekali” itulah tangisanku di depan jasadnya. Lalu sempat ada temanya dengan agak suara besar, “Tante, dia bukan hanya anak tante, tetapi sudah menjadi anak bangsa,” tetapi saya pikir, ngomong saja di situ, tetapi kenyataan yang kehilangan sekali saya.


Adakah perasaan yang menganjal, semacam firasat seorang ibu, sebelum Sondang meninggal?

Tidak ada. Justru karena itu awalnya saya tidak percaya yang melakukan aksi itu adalah Sondang.

Di mana dikubur Sondang?

Di tempat pemakam umum Pondok Kelapa.


Yang tidak tidak bisa dilupakan dari Sondang?

Saya amat dekat dengan anak ini. Dia tidak malu tidur di pangkuan saya, dan selalu disisik rambutnya kalau mau tidur. Tidak malu juga dia mencari uban mamanya. Kalau saya masak, dia selalu nimbrung. Tanpa disuruh, dia tahu apa kekurangan di dalam rumah. Dia selalu mengantar ke pasar, dan selalu gampang saja kalau disuruh. Dia sangat dekat dengan kakak-kakaknya. Terakhir, yang tidak mungkin saya lupakan, adalah ketika ekonomi kita marat-marit, waktu itu perusahaan bapaknya hampir kolaps, kami semua berupaya untuk mengusahakan itu, dia setia membantu saya menjadi tukang cuci, seterika baju orang demi kebutuhan keluarga, dan dia tidak mengeluh melakukan itu.

        ? Hotman J. Lumban Gaol

 

 

Mata Hati
revolusi-mental.jpg
Istilah revolusi mental, kini lagi populer-populernya di Republik tercinta. Kata yang akrab dengan presiden terpilih Jokowi. Seperti apa pelaksanaannya, tentu ..
Konsultasi Teologi
alkitab--kontradiksi.jpg
Shalom pak Pdt. Bigman Sirait.Dalam Injil Matius 5:17 dikatakan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 18.064.935 Since: 14.11.05
Online Support :