AKSI yang dilakukan Sondang Hutagalung dengan mem-bakar diri di depan Istana Merdeka beberapa waktu lalu sempat menjadi perdebatan panjang. Tidak sedikit orang yang menyebutnya bunuh diri. Cerita berkembang dari berita ada seorang gila membakar diri di depan Istana, hingga berita lain yang menyebut seorang perempuan yang membakar diri. Setelah dilakukan kroscek, ternyata yang meninggal adalah seorang mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), Sondang Hutagalung. Dia melakukan bakar diri bentuk protes terhadap kebuntuan dari kondisi bangsa.
“Sondang adalah patriot. Dia bukan bunuh diri. Tetapi mati martir. Dia memang hanya anak sopir angkutan, ibunya pedagang asongan, yang berjuang hanya mengais rejeki sepanjang jalan, tak akan sanggup melawan para tiran. Tetapi Sondang telah menerobos kebuntuan. Sondang memang tidak akan sanggup mengendalikan semua aturan, tetapi kemarahannya lewat aksinya terlihat semangatnya yang membara. Aksi Sondang membakar semangat perlawanan. Dia patriot perubahan akan terus melawan.” Demikianlah pengantar pada testimoni dalam sebuah diskusi sesaat kepergian Sondang.
Diskusi diawali dengan membaca Sajak Adhie M Massardi sajak berjudul “Sondang” ini didedikasikan bagi para patriot perubahan yang sedang membangun masa depan lebih baik. Sondang dalam bahasa Batak diartikan cahaya, sinar yang menerangi.
“Sajak ini hadir karena saya tergugah dengan apa yang dilakukan Sondang untuk bangsa ini. Malam menjelang Sondang meninggal. Sehari setelah pemakaman Sondang. Saya ingin apa yang dilakukan Sondang untuk bangsa ini, sama seperti Chairil Anwar menulis antara Karawang dan Bekasi. Satu baitnya tertulis: kami mati muda yang tinggal hanyalah tulang diliputi debu, kenang-kenanglah kami. Tugas kita adalah memberi nilai, sama dengan apa yang sudah dilakukan Sondang,” demikian dikatakan wartawan senior dan sastrawan, Adhie M Massardi saat menggelar diskusi di Rumah Perubahan 2.0. Komplek Duta Merlin Blok C-17, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Selasa (13/12).
Massardi menambahkan, Sondang sudah meninggal, tetapi semangatnya menjadi api perjuangan – sebagai roh untuk perjuangan bagi bangsa ini. Sondang yang saya kenal ketika di jalanan kalau demo, bersama-sama aktifis yang punya ikatan emosional. Dia tidak terlalu menonjol di kelompok demokrasi, namun lebih banyak di kegiatan penegakan HAM. Yang pasti, dia sudah memberikan semuanya bagi bangsa ini.
Hadir menjadi narasumber dalam testimoni itu, adalah: Rizal Ramli, Pendeta Bigman Sirait, Bambang Susetyo, Fuad Bawazir dan lainnya. Pada testimoni tersebut sepakat menyebutkan, bahwa apa yang dilakukan Sondang adalah momentum untuk mengerakkan perubahan.
Hal senada juga datang dari Chris Siner Keytimu, anggota Petisi 50 ini menilai sosok Sondang sebagai patriot. “Sondang adalah Salah satu anak muda yang hidup di tengah-tengah mayoritas kehidupan anak muda yang begitu cepat terkontaminasi dengan budaya hedonisme, konsumerisme. Sondang, anak muda tokoh yang langka. Dia memberikan contoh bagaimana seharusnya anak muda mau menyelamatkan bangsa ini,” ujar sahabat Ali Sadikin ini.
Chris menambahkan, dia (Son-dang) secara sadar mengorbankan jiwa dan raganya dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa dan raga bangsanya. Itu merupakan keputusan pribadi yang dilakukan sendiri dengan suatu tujuan untuk memberikan spiritualitas pada perjuangan sebelumnya. “Harapan saya, anak-anak muda sekarang bisa mengikuti semangatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Karena, saya kira, di tangan anak-anak mudalah negeri ini bisa bangkit dari keterpurukan, kata Chris.
Sementara Rizal Ramli, pendiri Rumah Perubahan 2.0. mengatakan, sangat menghargai perjuangan Sondang. “Dia memberi roh terhadap perjuangan. Perjuangan perubahan sekarang, juga yang tadinya gerakan yang belum ada rohnya. Sondang memberi rohnya terhadap perjuangan ini. Saya menyerukan kepada kawan-kawan di seluruh Indonesia. Ini waktunya untuk kita berani berkorban. Berani berbuat. Bertindak untuk mempercepat proses perubahan itu,” ujarnya.
Dia menambahkan, momentum untuk mengangkat bangsa kita menjadi bangsa yang hebat. “Saya selalu mengatakan abad ke-11 abad nya Inggris. Abad ke-20 Amerika, abad 21 adalah Asia. Di Asia ini beberapa raksasa yang tidur kembali bangkit. Seperti China, India, Korea. Saya ingin di sisa akhir hidup saya ini raksasa Indonesia bisa bangkit dari tidurnya, menggetarkan Asia. Sondang memberi roh untuk cita-cita tersebut,” ujar mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi di era Gus Dur, ini.
Sementara itu dari rohaniawan, Pastor Yohanes Christoforus, mempertanyakan mengapa perjuangan kita selama ini belum menuju pada satu titik perubahan? Menurutnya, perjuangan apapun, siapapun, belum ada roh. Karena itu Sondang mengisi kekosongan, bahwa supaya orang berjuang militan, supaya nasionalisme itu ditimbulkan, kembali. Militansi dibangun lagi,” ujar romo sekaligus pegiat HAM dan lingkungan ini.
“Sondang merespon kebuntuhan politik, baik antara rakyat dan pemerintah. Maupun masyarakat antara masyarakat sipil-politik. Bagi saya ini pilihan sekaligus memecah kebutuhan komunikasi politik. Kedua, untuk memecah kebutuhan komunikasi antara elemen masyarakat. Kalau satu perjuangan ya sudah. Menggerakkan semuanya masyarakat sipil berjuang bersama. Harus bersatu. Tanpa itu tidak akan terjadi suatu perubahan,” ujarnya.
?Lidya/Hotman