CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Konsultasi Keluarga

Suami Selingkuh Istri Tetap Bertahan

Friday, 01 Juni 2012 | View : 6284

Michael Christian, S. Psi., M.A. Counseling

Shalom,
Saya seorang Istri yang menikah dengan seorang warga negara asing. Perkawinan kami sudah jalan selama delapan tahun, namun kami belum dikaruniai anak. Awalnya kami sangat rukun dan bahagia, memiliki banyak kesamaan dalam selera. Suami saya pandai bergaul dan kami dalam waktu 2 tahun di Indonesia sudah memilki banyak sekali relasi, baik relasi bisnis maupun pertemanan. Satu setengah tahun ini Suami saya ada affair dengan salah satu karyawan di kantornya, seorang janda cerai, muda (lebih muda 10 tahun dari saya), beranak satu.
Kurang lebih setengah tahun lalu suami saya sempat melakukan KDRT, karena saya menolak untuk menyetujui/menandatangani surat “kesepakatan bercerai” yang dia buat. Sampai saat ini saya masih satu rumah dengan suami, walaupun suami tidak mau tidur sekamar lagi. Saya berusaha untuk tetap menghormati dia, melayani dia, dan tidak menunjukkan permusuhan dengan dia. Beberapa teman mendukung saya, terutama teman-teman seiman agar saya tetap bertahan dan tidak meninggalkan rumah dan tidak pernah mau dicerai.
 Saya sering mencoba untuk mengajak berkomunikasi, tapi balasannya dingin, bahkan cenderung kasar. Tidak ada niat untuk berkomunikasi dengan saya secara normal. Saya pernah sarankan untuk pergi konseling pernikahan, tapi dia tidak mau apabila counselor adalah orang Indonesia, alasannya nanti takutnya akan memihak saya. Rasanya segala usaha saya untuk melunakkan hatinya atau mengajak dia kembali menyelamatkan perkawinan kami sia-sia. Sikap sabar dan mengalah saya, sama sekali tidak danggapnya.
Apakah saya bijak apabila saya pergi meninggalkan rumah, sementara, walaupun saya tinggal di rumah tapi suami tetap berbuat affair dan tidak memperlakukan saya sebagai seorang istri, bahkan lebih seperti seorang musuh.
Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Mrs. Z,

somewhere.

Dear Mrs. Z yang terhormat, terima kasih ibu sudah mengirimkan email yang begitu personal kepada kami. Memang tidak mudah mengahadapi situasi dan kondisi yang begitu shocking, dan kita tidak penah menyangka hal ini akan terjadi. Suami yang begitu baik, kompak, sama dalam hal selera dan telah menjalani hidup pernikahan selama 8 tahun justru berbalik menjadi suami yang tidak peduli, bahkan tega memukul. Hal ini juga muncul bersamaan dengan adanya wanita lain yang saat ini terus menerus mendekat kepada suami ibu. Hal ini pasti menimbulkan luka dan kekecewaan yang sangat mendalam pada diri ibu.
Memang kadang-kadang situasi dan kondisi lingkungan di sekitar kita bisa memberikan efek dan pengaruh dalam kehidupan pribadi kita. Orang yang kerja di kantor bersama kita bisa menjadi terlalu dekat dan mendorong adanya perselingkuhan. Teman-teman yang memiliki kebiasaan kehidupan malam bisa juga menjadi suatu pendorong adanya perselingkuhan dan bahkan kehidupan seks bebas. Juga relasi bisnis pun bisa mengajarkan bagaimana caranya membuat kesepakatan bercerai yang menguntungkan, meski dia warga negara asing. Ini adalah hal yang sulit sekali kita kontrol dan bisa terjadi kepada sebagian orang. Namun, sebetulnya selain itu semua, faktor-faktor internal dalam rumah tangga juga dapat mendorong terjadinya suatu perselingkuhan dalam keluarga. Misalnya, komunikasi yang memburuk, dan hubungan yang mendingin, seksualitas yang semakin rigid, dan lain sebagainya.
Memang kadang-kadang ketidakhadiran anak juga bisa menjadi sebuah alasan, tapi seringkali orang menggunakan alasan tersebut hanya untuk membela diri. Apalagi kalau sebelumnya sudah terbiasa dengan tidak adanya anak, setelah menjalani hubungan yang bertahun-tahun lamanya. Aneh sekali jika setelah ada perselingkuhan, alasan tidak ada anak baru muncul. Sehingga kita perlu juga melihat ke dalam hubungan antar pasangan itu sendiri dan melihat kemungkinan-kemungkinan atau faktor-faktor yang mendorong pasangan kita keluar dari areal pernikahan yang sedang dijalani dan beralih ke lain hati. Memang ada isu-isu yang menyatakan, bahwa warga negara asing lebih terbuka atau intim dalam berhubungan atau membangun relasi dengan orang lain, meski demikian tidak selalu orang asing akan seenaknya meninggalkan pernikahannya demi suatu hubungan yang lain.
Apapun alasan dan penyebab kondisi tersebut, sebetulnya masih ada hal-hal yang ibu lakukan secara positif. Dalam kondisi yang mengecewakan, ibu tetap menunjukkan sikap yang sopan dan hormat kepada suami, ibu berusaha untuk tetap menghormati dia, melayani dia dan tidak menunjukkan permusuhan dengan dia. Suatu sikap yang baik, meski di sisi lain merupakan hal yang berat, apalagi disertai dengan sikap dingin dan bermusuhan dari suami. Sementara itu, di lain pihak, teman-teman seiman yang menguatkan juga memang menjadi tempat kita “melarikan diri” sejenak dari sulitnya hubungan yang sedang dirasakan. Seperti yang Firman Tuhan katakan dalam Amsal 17:17: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Sahabat dapat menjadi support system yang terus menerus menguatkan dan mendoakan ibu dan setiap pergumulan yang dihadapi.
Namun saya ingin kita juga bersedia memikirkan beberapa hal:
Apakah ada yang terjadi di dalam diri kita, atau suatu respon yang kita munculkan di dalam hubungan dengan suami, yang selama ini kurang tepat dan menjadi suatu kumpulan emosi yang membuat suami merasa tidak nyaman dan secara tidak langsung mendorong dia melakukan perselingkuhan?
Ibu juga berbicara mengenai keinginan ibu untuk keluar dari rumah pada saat situasi begitu dirasakan berat dan sikap positif ibu tidak membawa perubahan. Di satu sisi, keluar dari rumah tentu saja dapat meringankan beban kita sejenak, apalagi bersama dengan teman-teman yang terus men-support pergumulan ibu, namun di sisi lain tentu saja ada kemungkinan bahwa suami juga mengharapkan ibu segera angkat kaki dari rumah. Menandakan bahwa dia telah memenangkan adu kuat ini. Jika terpaksa, tentu saja tidak salah jika ibu mengambil waktu/jarak untuk sejenak, namun jika memungkinkan bisakah ibu mencoba beberapa cara lain yang sebetulnya memberikan konteks bagi ibu dan suami untuk dapat pergi berdua, berbicara, dan sekedar kembali mengalami kebersamaan yang mungkin pernah terlupakan?
Tetap mencoba untuk tetap menghargai, dan mengasihi suami, meski berat dan besar pengorbanan yang ibu lakukan, sembari di sisi lain mengajak dia bertemu dengan konselor. Biarkan dia memilih beberapa konselor yang ibu sudah cari terlebih dahulu sebelumnya, meski dia menunjukan penolakan, mintalah dia untuk mencoba satu kali saja, dan andaikan dia tidak merasa nyaman, maka katakanlah untuk tidak usah bertemu lagi lain kalinya. Toh tidak ada ruginya, nothing to lose.
Semoga ibu terus menerus diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani pergumulan ini, jika ibu perlu berbicara lebih lanjut, kami mau mendengarkan pergumulan ibu.

See Also

jQuery Slider

Comments

Arsip :2014201320122011201020092008
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
kekecewaan-hidup.jpg
Follow Twitter bigmansiraitCHARLIE yang dikasihi Tuhan, memahami hidup ini secara utuh bukan hal yang mudah, apalagi untuk mengerti secara tuntas apa yang ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 16.988.193 Since: 14.11.05
Online Support :