CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Gereja & Masyarakat

Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Friday, 01 Juni 2012 | View : 835

Sekolah Ketrampilan Cilincing

Umat Kristiani di seluruh dunia memiliki tugas utama yang sama, yaitu menghadirkan “Shalom” Allah, berita sukacita, berita damai dari Tuhan Yesus itu ke seluruh dunia.  Tugas ini bukan monopoli Hamba Tuhan atau Gereja sebagai lembaga, tapi tugas umat yang adalah gereja-gereja Tuhan itu sendiri.  Mewartakannya pun tidak selalu dengan cara verbal atau presentasi secara langsung kepada orang, pribadi atau kelompok tertentu.  Tapi juga secara presensi atau kehadiran umat itu sendiri.  Bagaimana umat menjadi berkat bagi lingkungannya, bukan saja dalam hal kerohanian, tapi juga bermanfaat bagi lingkungan sosial.  Pelayanan seperti inilah yang telah dilakukan oleh sekelompok orang yang telah mendirikan “Sekolah Ketrampilan Cilincing” (SKC).
Sekolah yang didirikan sembilan tahun lalu, tepatnya pada 5 Desember 2003 itu telah banyak menghasilkan tenaga-tenaga produktif layak pakai.  “Dari tahun 2003 sampai 2012, sudah seribu lebih orang yang lulus. Hampir seluruhnya diterima kerja di Garment,” terang  Rith Rusdiana, guru bidang kerohanian di SKC.
Berawal dari kerinduan sekelompok orang yang tergabung dalam Persekutuan Doa (PD) Agape, di Plaza Bapindo, Sudirman, Jakarta Selatan.  Mereka berkeinginan besar untuk dapat berbuat sesuatu bagi bangsa ini, salah satunya dengan membagikan apa yang mereka bisa dan mampu.  Hal ini terwujud dalam upaya untuk memberikan semacam pembekalan ketrampilan khusus kepada mereka yang putus sekolah.  Pilihan ini ditetapkan atas pengamatan singkat yang sudah pengurus PD Agape lakukan. 
Sebelumnya mereka dipertemukan dengan Ibu Baker yang telah melayani dalam wadah Yayasan Berkat Kasih Imanuel (YBKI), di Kampung Sawah, Cilincing, Jakarta Utara, yang bergerak dalam bidang pendidikan dari TK sampai SMP.   Dari kunjungan ke YBKI, pengurus melihat ada sekelompok besar orang yang belum tersentuh oleh pelayanan.  Mereka adalah orang atau anak putus sekolah yang tidak jelas nasibnya. 
“Sekolah hanya menyentuh atau menjangkau anak-anak yang ada di sekolah, tapi kita justru melihat anak-anak yang putus sekolah. Kalau dimasukkan ke sekolah formal, rasanya sulit (tidak bisa), karena faktor umur,” terang  Rith. 
Selain mengamati situasi dan kondisi mereka yang sangat menyedihkan, umumnya bertempat tinggal di atas tumpukan sampah, di Kampung Sawah, Cilincing, Jakarta Utara, Pengurus PD Imanuel juga melakukan survey untuk melihat peluang ekonomi bagi kesejahteraan sosial masyarakat sekitar.  Wilayah Kampung Sawah, Jakarta Utara, selain digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, dekat wilayah itu juga terdapat kawasan Industri yang besar.  
“Di sebelahnya itu ada yang namanya KBN, Kawasan Berikat Nusantara, (kawasan garment).  Lalu kita memikirkan, dalam industri garment itu apa yang paling banyak dibutuhkan.  Ternyata mereka membutuhkan banyak sekali orang yang bisa menjahit. Dan kebetulan, salah satu teman dipersekutuan, bosnya punya garment di situ,” jelas Rith
Setelah itu Pengurus PD Agape membeli sebidang tanah untuk mendirikan tempat (aula) yang difungsikan untuk tempat kursus menjahit, yang letaknya tidak seberapa jauh dari tempat tinggal siswa. 

Kursus Perdana
Tanpa menunggu lama, dimulailah kursus pertama Sekolah Ketrampilan Cilincing dengan jumlah siswa perdana yang umumnya perempuan sangat mengejutkan jumlahnya, yaitu 56 orang.  Jumlah itu tentu jumlah yang tidak sebanding dengan ketersediaan mesin jahit, tiga mesin jahit dan satu mesin obras, dan tiga guru yang siap mengajar.  Kursus ini juga diberikan secara gratis alias tidak dipungut biaya sedikitpun. 
SKC, sejak tahun 2003 sampai saat ini telah menjaring sedikitnya 985 siswa yang nota bene adalah anak-anak putus sekolah tamat SD, SMP, dan SMA.  Menariknya, hampir seluruh siswa yang kursus di SKC diterima kerja di garment.  Selain sangat membantu dalam peningkatan ekonomi masyarakat, dengan ikut kursus di SKC, murid-murid juga diajarkan tentang nilai-nilai moral yang positif.  Tidak heran jika setelah kursus di SKC ada perubahan sikap dan tingkah laku yang murid-murid tunjukkan kepada keluarga mereka.  Sehingga keluarga pun senang dengan perubahan positif itu.  Misalnya, seperti apa yang diajarkan Ruth Rusdiana tentang “setia dalam perkara kecil”, nilai itu diterjemahkan oleh Istri dari Yahya Subagyo itu dengan membantu orang tua terlebih dahulu sebelum kursus, atau setelah mereka diterima kerja kelak.  Pembekalan nilai-nilai positif oleh Ibu dari tiga orang anak itu dilakukan sekali dalam satu minggu.  Namun dalam kuantitas waktu pengajaran yang singkat tidak berarti abai terhadap kualitas pengajaran yang berdampak baik pada moralitas anak didiknya.  Ini tentu tidak semata karena pengajaran yang Ruth berikan, lebih dari itu juga karya Roh Allah yang bekerja dalam diri murid-murid kursusnya. 

Rintangan menghadang
Melakukan hal baik bukan berarti tidak ada halangan.  Tapi bagi Ruth dan rekan-rekan di PD Agape, hal itu bukan alasan untuk tidak melayani. “Pernah beberapa waktu ada orang tua yang tidak suka dengan apa yang kami lakukan, mungkin dari organisasi tertentu yang tidak suka, tapi justru orang tua para murid kursus itu yang membela kami,” kenang Ruth.  
Hal ini tentu membesarkan hati para Guru di SKC.  Ruth melihat dukungan yang diberikan merupakan penghargaan yang luar biasa dari para orang tua.  Hal itu dilakukan karena “mereka merasa anak mereka bisa berubah, dari yang sebelumnya suka pulang malam, keluyuran, mereka tidak lagi keluyuran, perubahan itu nyata sekali,” jelas Ruth
Menurut Ruth, Pada umumnya orang tua mendukung sekolah. Bahkan pernah satu keluarga ikut kursus.  Mereka merasa bahwa organisasi yang lain hanya melarang, tapi tidak berbuat apa-apa. 
Berbeda dengan sekolah ketrampilan pada umumnya, SKC lebih mengutamakan kasih persaudaraan dalam membimbing siswi kursusnya.  Tidak hanya ketika datang di tempat kursus mereka dilayani dan diajar, bahkan ketika tidak bisa hadir karena sakit pun para guru dan pengurus berusaha dalam satu tim datang, berdoa, menyapa mereka, mengespresikan nilai-nilai yang Tuhan ajarkan itu kepada mereka.  “Ini adalah praktek yang nyata, Injil yang nyata,” jelas Ibu kelahiran Banjarmasin 12 Agustus 1971.
Kini SKC tidak hanya melayani mereka yang ada disekitar Cilincing, mereka yang dari Cakung, Jakarta Utara, bahkan yang dari Ciputat, Jakarta Selatan pun pernah ada.  Berita tentang Sekolah kursus Cilincing umumnya tersebar dari mulut ke mulut, bahkan sampai ke daerah-daerah. Tidak heran jika Tidak heran jika selepas lebaran, murid di Sekolah Ketrampilan Cilincing ini menjadi lebih banyak jumlahnya, seiring dengan bertambahnya penduduk daerah yang merantau ke Jakarta.  Meski demikian, siapapun mereka yang datang untuk belajar di SKC akan dilayani secara gratis. 
Kelak SKC tidak hanya memberikan kursus menjahit, tapi juga kursus lain seperti montir.  Program ini dilakukan untuk menjaring siswa lakilaki yang tertarik pada dunia otomotif.  Sedianya SKC juga akan mebuka kursus bahasa.  Karena itu, SKC berharap ada banyak orang, khususnya yang mau menjadi volunteer, sebagai pengajar dalam bidang-bidang tersebut.       ?Slawi/Hotman


 


 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2014201320122011201020092008
  • vita-pudding.jpg
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
Hikmat Allah dan Hikmat Manusia.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter bigmansiraitBapak Pengasuh, Saya ingin bertanya perihal hikmat Allah dan hikmat manusia.1. Apa maksudnya hikmat Allah dan ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved .
Online Support :
X