CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Editorial

Pemimpin Yang Berintegritas

Author : Dr Victor Silaen | Thursday, 30 Agustus 2012 | View : 878

Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

SEBELUM hari ”H” pencoblosan Pilkada DKI Jakarta 11 Juli lalu, semua lembaga survei mengatakan sang petahan Fauzi Bowo atau Foke (bersama Nara) akan keluar sebagai pemenangnya. Bahkan beberapa di antara lembaga survei itu berani mengatakan Pilkada DKI kali ini hanya akan berlangsung satu putaran dengan kemenangan Foke-Nara di atas 50%. Namun, ada satu lembaga survei yang membuat kesimpulan berbeda, yakni INES (Indonesia Network Election Survey). Menurut lembaga survei yang kurang terpublikasi ini, hasil hitung cepat (quick count) untuk pasangan Jokowi-Basuki mencapai perolehan suara tertinggi: 55,3%. Dengan demikian Pilkada DKI 2012 hanya akan berlangsung satu putaran, namun dengan kemenangan Jokowi-Basuki (JB).
Fakta sebenarnya bagaimana? Jawabannya, setelah dihitung oleh KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) DKI Jakarta secara manual, kemenangan diraih pasangan JB. Namun, karena persentasenya di bawah 50%, maka putaran kedua ajang pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta 2012-2017 ini harus digelar -- pertengahan September nanti.
Berbeda dengan banyak pihak yang mengaku terkejut akan kemenangan pasangan JB yang mengusung tema kampanye Jakarta Baru (JB) itu, saya terus-terang sejak semula sudah meyakini bahwa pasangan JB akan menang dan sebaliknya pasangan Foke-Nara (FN) akan kalah. Mengapa demikian?
Pertama, karena media-media sudah sejak akhir tahun silam gencar memberitakan ihwal mundurnya Wakil Gubernur DKI Prijanto dengan alasan hubungan yang “tidak harmonis” dengan atasannya sendiri, Gubernur DKI Fauzi Bowo. Menyikapi isu tersebut, publik tentunya akan cenderung menunjuk Foke sebagai penyebab keretakan hubungan itu. Pertama, karena Prijanto anak-buah, sedangkan Foke atasan. Dalam konteks hubungan kerja, logikanya mana mungkin anak-buah yang menjadi pihak penentu? Kedua, karena Prijanto bahkan sampai menangis ketika bercerita tentang penyebab kemundurannya di depan wartawan, di rumahnya sendiri, 25 Desember 2011. Saat itu ia bahkan mengatakan dirinya merasa tak berarti lagi menjadi wakil gubernur. Tentu saja publik akan langsung merasa iba kepada Prijanto dan sebaliknya menyalahkan Foke.
Kedua, karena pada 24 Februari lalu Prijanto melaporkan dugaan korupsi di masa pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Prijanto saat itu didampingi anggota DPD DKI Jakarta AM Fatwa dan Ketua Umum Solidaritas Antikorupsi dan Makelar Kasus Jurisman. Menurut Prijanto, 10 dugaan korupsi yang ia laporkan didasarkan pada hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap proyek-proyek di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Audit BPK itu menyimpulkan ada kerugian negara dan dugaan praktik korupsi dalam pelaksanaan proyek-proyek di Provinsi DKI Jakarta. Tak pelak, berita-berita di seputar hal ini jelas membuat rapor Foke bertambah warna merahnya di samping faktor pertama di atas dan faktor-faktor lain yang telah dicatat publik selama ini.
Ketiga, karena Foke maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2012-2017 dengan dukungan utama dari Partai Demokrat (PD). Ini jelas menjadi titik lemah Foke. Memang, PD merupakan partai terbesar dan terkuat dewasa ini. Tapi, publik pun tahu bahwa PD merupakan partai yang paling kerap disorot karena sejumlah kadernya yang terkait kasus korupsi. Sebutlah Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan masih banyak lagi.
Dengan ketiga faktor kelemahan ini saja sebenarnya sudah dapat diprediksi bahwa Foke sulit menyaingi kandidat-kandidat lainnya di ajang Pilgub DKI Jakarta 2012-2017. Atas dasar itulah saya malah tak menyangka bahwa Foke bisa menjadi pemenang kedua mengalahkan pasangan Faisal-Biem yang diprediksi juga bakal mendulang suara cukup banyak karena merupakan kandidat independen.
Sekarang tentang pasangan JB. Mengapa sejak awal saya yakin keduanya bakal menang? Pertama, karena keduanya, terutama Jokowi, sejak jauh-jauh hari sudah menjadi “figur yang disukai media” atau yang disebut media darling. Ini bukan karena Jokowi ramah atau suka tersenyum atau punya sifat-sifat yang sejenis itu. Melainkan, karena Jokowi punya banyak hal positif yang disukai media untuk diberitakan sebagai good news. Jadi, untuk Jokowi yang cocok bukanlah adagium “bad news is good news”, melainkan “good news is good news”. Sebutlah, antara lain, soal kepeduliannya sebagai kepala daerah kepada wong cilik di daerah yang dipimpinnya, keseriusannya mendorong produksi lokal mobil Esemka, dan kinerjanya yang sangat baik sebagai pemimpin sehingga masuk 25 nominator walikota terbaik di dunia. Sisi positif Jokowi tentu masih banyak, tapi mungkin ini yang paling penting: bahwa ia, tahun 2010, mendapat penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award. Dengan kata lain, Jokowi adalah tokoh antikorupsi. Bukankah sosok pemimpin seperti itu yang sangat kita dambakan?
Bagaimana dengan calon wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok? Hampir sama dengan Jokowi, Ahok juga disukai media karena banyak hal positif pada dirinya yang berharga untuk diwartakan kepada publik. Sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2010, ia diakui berkinerja baik (meski hanya menjabat selama dua tahun) sehingga disukai rakyatnya. Tahun 2007, Gerakan Tiga Pilar Kemitraan (yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, Kadin dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara) memberikan penganugerahan kepada Ahok sebagai Tokoh Anti-Korupsi dari unsur penyelenggara negara. Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah, yang ditandai dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi warga Belitung Timur. Ahok juga terbuka untuk berkomunikasi kepada warganya, termasuk untuk melayani sms-sms yang masuk ke ponselnya.
Singkatnya, faktor integritas sebagai pemimpin, itulah yang membuat pasangan JB mampu meraih suara terbanyak dari warga Jakarta. Padahal, jika dilihat dari kekuatan modal dan kecanggihan strategi kampanye, pasangan FN jelas unggul segala-galanya. Tapi, ada satu hal yang agaknya tidak (atau kurang) dipunyai pasangan FN dan sebaliknya dimiliki pasangan JB, yakni: relawan-relawan yang betul-betul rela mendukung, yang bertebaran di mana-mana dan siap mempromosikan sisi-sisi positif JB kepada siapa saja yang mereka temui kapan saja. Bayangkan, tanpa diberi uang, relawan-relawan itu siap mengadakan sendiri baju kotak-kotak yang menjadi trade-mark JB untuk mereka kenakan. Dan baju kotak-kotak ini sungguh dahsyat dampaknya sebagai salah satu strategi beriklan. Tanpa diberi tahu pun orang akan langsung mengidentikkan si pemakai baju itu dengan Nomor 3 atau JB.
Relawan-relawan itu, meski banyak yang tak terdaftar resmi sebagai anggota Tim Sukses JB, juga gencar mengampanyekan JB di media-media sosial. Bukan hanya dengan tulisan-tulisan yang menarik, tapi juga gambar-gambar yang kreatif, termasuk rekaman film singkat dalam youtube yang kemudian digandakan dalam bentuk CD (compact disk).
Masih banyak faktor yang bisa dibahas terkait kemenangan JB di putaran pertama Pilkada DKI 2012 lalu. Satu hal yang patut kita sadari adalah: Ini kemenangan rakyat, bukan kemenangan partai (meski peran PDI Perjuangan dan Partai Gerindra tentu tak dapat dinafikan). Rakyat sudah lama merindukan pemimpin yang berintegritas dan melayani. Pemimpin berintegritas berarti, antara lain, yang tak suka disuap maupun menyuap, dan yang tak suka berbohong semisal mengklaim proyek Banjir Kanal Timur sebagai hasil kerja sendiri padahal hasil kerja pihak lain. Sedangkan pemimpin melayani adalah orang yang jabatannya tinggi tapi rela turun ke bawah sesering mungkin demi mendengar suara-suara dari kaum yang tak terdengar (the voices of the voiceless).
Pasangan JB adalah dua pemimpin berintegritas yang selalu menghindari praktik politik uang, korupsi, kolusi dan nepotisme. Keduanya juga tipikal pemimpin yang ihklas melayani; yang tak menghabiskan waktu berlama-lama di meja, karena lebih suka turun ke bawah untuk berdialog langsung dan mendengar keluhan rakyat. Dalam mengelola anggaran, keduanya juga transparan. Tak ada yang ditutup-tutupi.
Pasangan JB, pendeknya, merupakan perpaduan dua tokoh lokal yang unik dengan prestasi yang fenomenal. Keduanya sudah mendulang prestasi gemilang di daerahnya masing-masing. Merawat kebhinekaan pun, pasangan calon pemimpin yang pluralistik ini tak gamang. Jokowi yang muslim telah terbiasa bekerja sama dengan FX Rudy Hadiatmo, seorang penganut Katolik, yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solo. Sedangkan Basuki atau Ahok, adalah sosok yang istimewa karena ia pernah terpilih menjadi Bupati Belitung Timur yang berpenduduk mayoritas muslim fanatik, yang dalam pemilu legislatif merupakan basis pendukung Partai Bulan Bintang (PBB) yang jelas-jelas mengusung asas Islam. Padahal Ahok sendiri seorang pengikut Kristus.
Akhirnya saya ingin mengutip J. Oswald Sanders, dalam Kepemimpinan Rohani (1984), yang menulis begini: “Seorang pemimpin adalah orang yang mengenal jalan, yang dapat terus maju, dan yang dapat menarik orang lain mengikuti dia.” Kita berharap dan berdoa agar pasangan JB dapat menjadi duet pemimpin seperti itu.

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2014201320122011201020092008
  • vita-pudding.jpg
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
Hikmat Allah dan Hikmat Manusia.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter bigmansiraitBapak Pengasuh, Saya ingin bertanya perihal hikmat Allah dan hikmat manusia.1. Apa maksudnya hikmat Allah dan ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved .
Online Support :
X