CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Kredo

Pelayanan Prima

Thursday, 30 Agustus 2012 | View : 2623

Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.

www.inspirasijiwa.com

Saat ini banyak perusahaan yang menerapkan prinsip pelayanan prima (service excellence) untuk memberikan tingkat kepuasan tertinggi kepada orang-orang yang menggunakan jasa atau produk mereka. Service excellence menjadi sangat penting bagi suatu perusahaan, karena dapat mempertahankan loyalitas pelanggan dan membantu kelangsungan masa depan bisnis mereka. Metode pelayanan prima (service excellence) mengandalkan pelayanan secepat mungkin, dengan cara dan sistem yang memuaskan pengguna atau penerima jasa. Mulai dari penampilan, sikap tubuh, cara berbicara, cara memperhatikan hingga memperlakukan pelanggan di tata sedemikian rupa untuk memuaskan mereka.

Bagaimana jika kita melihat prinsip pelayanan prima ini dari kacamata Alkitab, apakah sesungguhnya prinsip ini sudah ada dalam tradisi Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru? Jika melihat aspek-aspek yang digagas dalam prinsip pelayanan prima (service excellence) di atas, maka sesungguhnya tidak terlalu asing dan tidak sulit menemukan contoh-contohnya di Alkitab, seperti Nuh membuat bahtera, kisah Yusuf memimpin di Mesir, kisah Nehemia dalam membangun tembok Yerusalem, kisah Daud memimpin Israel dan membangun bait Allah. Dalam Perjanjian Baru banyak  kisah para Rasul yang meneladani service exellence dari Kristus.

Sejatinya semua prinsip kebenaran maupun prinsip dan nilai tertinggi mengenai kinerja hidup manusia dalam bekerja atau dalam berelasi dengan sesama dalam keseharian semuanya telah tercatat dan diajarkan di dalam Alkitab. Namun karena faktor kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan suatu penyusutan nilai dan kualitas di dalam dirinya. Sehingga sifat kemalasan, keegoisan, ketamakan, kurang mengendalikan diri dan tidak mengasihi sesama manusia cenderung menguasai hidup manusia dan saling mempegaruhi satu sama lain.

Memberi lebih dari apa yang diharapkan dan dituntut dari seseorang adalah istilah lain untuk pelayanan prima. Mengapa istilah pelayanan prima (service excellnce) ini seolah-olah kurang dikaitkan dengan kinerja pelayanan dalam gereja adalah karena di dalam pelayanan kita selalu mengkaitkan antara usaha yang kita lakukan dengan keterlibatan dan campur tangan Tuhan di dalamnya. Bahkan kita mungkin terlalu sering berkata “semua ini berjalan baik dan sukses karena Tuhan.”  Di satu pihak kita memang tidak dapat memisahkan campur tangan dan keterlibatan mutlak dan kehadiran Allah dalam semua bentuk pelayanan gereja. Misalnya bagaimana Roh Allah menyertai keberhasilan Yusuf di Mesir, Allah juga yang memberikan kecerdasan kepada Daniel dan sejatinya Allah adalah pemilik dari semua proses pelayanan itu.

Namun sesungguhnya kita juga dapat membuat suatu pemisahan antara apa yang dilakukan oleh manusia (orang Kristen) dengan apa yang dilakukan Tuhan. Tidak serta merta kita mengatakan dan memutuskan bahwa suatu pelayanan berjalan lancar dan baik karena campur tangan dan pertolongan Tuhan  semata. Karena sesungguhnya pelayanan dalam gereja pun akan berhasil dan memuaskan bergantung pada tingkat keseriusan dan kesungguhan dari orang-orang (jemaat) yang terlibat dalam pelayanan tersebut. Semua kebaikan diberkati oleh Tuhan, seperti  kata Amsal “Orang baik dikenan TUHAN...” (Amsal 12:2). 

Dengan demikian sebuah sikap dan etos kerja yang prima (service excellence) mutlak diperlukan dan harus menjadi prinsip setiap orang Kristen yang ingin memberikan pelayanan terbaik dan maksimal di dalam kegiatan-kegiatan kekristenan. Alkitab tidak pernah membatasi atau mengkotak-kotakkan bahwa orang Kristen hanya dituntut memberikan kinerja maksimal atau sempurna hanya  jika melakukannya di dalam ruang lingkup pelayanan. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa pelayanan terbaik atau pelayanan prima harus menjadi suatu aktivitas dan prinsip hidup sehari-hari (Roma 12: 1-2). Namun mengapa banyak pelayanan di dalam gereja kadang-kadang tidak memuaskan dan tidak memberikan hasil maksimal? Dimana letak kesalahannya, jika Alkitab banyak mengajarkan prinsip-prinsip mengenai pelayanan prima? Faktor ketaatan mungkin menjadi faktor paling menentukan. Karena masih ada gap antara mengetahui kebenaran dengan melakukan kebenaran itu. Agar pengenalan akan kebenaran dan mengetahui kebenaran terimplementasikan dalam perbuatan dibutuhkan ketaatan pada Allah. Maka disinilah dibutuhkan aspek penyerahan diri, persembahan diri dalam setiap orang Kristen dalam menjalankan hidup, pekerjaan atau pelayanannya. 


Alasan Pelayanan Prima

Jika dalam proses bekerja dan melayani di dalam sebuah perusahaan seseorang didasarkan pada sistem penggajian dan insentif. Lalu bagaimana dengan pelayanan yang dilakukan dalam gereja yang notabene bersifat suka rela. Walau alasan sesungguhnya adalah suatu respon kepada  Allah atas anugerah keselamatan yang diberikan kepada setiap orang percaya. Jumlah gaji yang diterima seseorang atas upaya dan pengabdiannya pada sebuah perusahaan masih dapat dihitung dan disesuaikan secara matematis.

Namun apa pun dasar pertimbangan manusia, tidak akan pernah sanggup membalas apa yang telah dilakukan oleh Allah untuk menebus dan membayar dosa-dosanya sehingga ia bebas dari hukuman kekal (1 Petrus 1: 18-19). Sehingga sebanyak apa pun usaha yang dilakukan oleh orang Kristen tidak akan pernah mencapai titik impas dan membayar semua pengorbanan Kristus di kayu salib. Darah Kristus terlalu mahal dan tidak mungkin dibalas dengan kebaikan-kebaikan dan pelayanan-pelayanan. Allah sendiri pun tidak pernah menuntut orang Kristen untuk membayar pengorbanan Kristus di kayu salib, dan memang hal itu adalah suatu kemustahilan. Namun Allah menuntut dan memerintahkan setiap orang Kristen untuk hidup bagi Dia, bekerja bagi Dia dan memuliakan Dia dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatan umat-Nya (1 Kor 10:31, Kol 3:17,23). Sehingga prinsip memberi yang terbaik, melakukan yang terbaik, mempesembahkan yang terbaik, menjadi pribadi terbaik, menjadi pelajar atau mahasiswa terbaik, menjadi orangtua terbaik, menjadi warga negara terbaik dan sebagainya harus menjadi impian dan panggilan hidup semua orang Kristen.

Ada suatu kisah menarik yang dapat kita gunakan untuk menggambarkan prinsip pelayanan prima. Suatu malam sepasang suami isteri tua memasuki sebuah lobi hotel kelas melati, di Philadelphia Amerika. Karena tidak ada lagi kamar kosong di hotel berbintang disana. Mereka mendatangi resepsionis hotel dan berkata: “Semua hotel besar di kota itu telah terisi penuh! Bisakah Anda menyediakan satu kamar saja buat kami?” Sang resepsionis hotel menjawab: “Kamar kami telah dipesan jauh-jauh hari oleh banyak orang, ada tiga event besar digelar bersamaan di kota ini sekarang. Tetapi saya tidak tega membiarkan Anda kehujanan di tengah jalan pada dini hari seperti ini. Maukah Anda berdua menginap di apartemen saya?” jawab resepsionis itu. Orang tua itu mengangguk setuju dan terlihat sangat senang.

Keesokan harinya, pasangan sumi isteri itu  berpamitan kepada resepsionis hotel tersebut, sesudah mengucapkan terima kasih, ia berkata. “Anda seharusnya menjadi pemimpin hotel terbaik di Amerika, saya ingin membangun hotel yang megah untuk Anda kelolah.” Pegawai hotel yang murah hati itu tersenyum saja, ia pikir mungkin itu hanya kata-kata pujian semata, dan ia kembali pada rutinitas melayani para tamu. Namun, dua tahun kemudian, datanglah sepucuk surat undangan kepada resepsionis hotel tersebut disertai selembar tiket untuk terbang ke kota New York. Setibanya di kota metropolis terbesar di dunia itu, ia bertemu dengan bapak tua yang pernah menginap di hotel melati dimana ia bekerja. Ia diajak berjalan ke sudut jalan Fifth Evenue Thirty-Fourth Street. Pak Tua menunjukkan sebuah  bangunan baru yang luar biasa megah. “Itu hotel yang saya janjikan dua tahun lalu. Mulailah Anda kelolah sekarang.” George Charles Bold, bekas karyawan hotel melati itu menerima tawaran dari Mr William Waldorf Astor pemilik dari banyak hotel Waldorf Astoria yang terkenal sangat megah di beberapa negara. Kesuksesan datang kepada orang yang melayani secara prima dan dengan hati.


Pelayanan Prima Sejati

George Charles Bold sebagai tipikal pekerja yang bisa bekerja melampaui kewajiban dan tugas tanggungjawabnya (going extra miles). Ia sanggup memberi lebih kepada orang yang membutuhkan bantuan dan pelayanannya bahkan melampaui batas kewajibannya, karena ia rela berkorban demi memuaskan dan memenuhi kebutuhan orang yang dilayaninya. Itulah etos kerja positif, produktif, bersemangat dan melayani.  Motif-motif pelayanan dapat berbeda-beda. Ada motif melayani karena mengasihi diri sendiri, senang melakukan apa yang menjadi interest pribadi dan untuk kesenangan serta kepuasan diri sendiri. Kalau demikian pelayanan menjadi ala kadarnya dan tidak akan memuaskan dan tidak akan memuliakan Allah.

Namun jika prinsip service excellence dipraktekkan di dalam gereja atau pelayanan Kristen, maka tingkat keberhasilan dan kepuasan dari semua pihak akan menjadi sebuah realitas. Sejatinya tokoh utama yang harus menerima pelayanan prima adalah Allah, Alkitab mengajarkan agar kita  melakukan segala sesuatu seolah-olah untuk Allah dan bukan untuk manusia (Kol 3:17,23). Mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan segenap hati, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita  (Matius 22:37-40) itulah prinsip service excellence sejati. Suatu pelayanan yang diberikan bukan karena kewajiban, bukan karena tuntutan, bukan karena terpaksa, namun karena kasih kepada Allah dan sesama. Marilah kita belajar bersikap, berperilaku dan bekerja secara prima dimana pun kita berada dan beraktivitas. Soli Deo Gloria!

 

See Also

jQuery Slider

Comments

Arsip :2014201320122011201020092008
Mata Hati
umat-dan-pembelajaran--politik.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow bigmansiraitFinal sudah PilPres 2014, setelah tanggal 21 Agustus 2014, MK mengetok palu menolak gugatan Prabowo Hatta. Ini meneguhkan ..
Konsultasi Teologi
hak-kesulungan.jpg
Pdt.Bigman SiraitFollow     bigmansiraitKejadian 25:29-34, menceritakan tentang bagaimana Yakub meminta kepada Esau untuk menjual hak ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 17.468.333 Since: 14.11.05
Online Support :