Memberdayakan Ekonomi Jemaat Lewat Credit Union

Fri, 30 November 2012 - 12:19 | View : 1889
Credit Union Modifikasi (CUM)..jpg

Jiwa intrepeneur sekarang ini makin giat didegungkan pemerintah. Tetapi menumbukan ekonomi rakyat itu, terutama ekonom mikro dan menengah perlu topangan dana. Terkadang semangat itu pupus di tengah jalan karena kurangnya, atau tiadanya modal untuk usaha.  Gereja juga perlu terlibat dalam memberdayakan semangat untuk berusaha jemaatnya.

SELAMA ini kesadaran membangun ekonomi jemaat via gereja sesungguhnya sudah mulai menggeliat lewat Credit Union Modifikasi (CUM). Bahkan lembaga-lembaga Kristen sudah mulai bersemangat terhadap membangun jiwa intrepreneur. Apa untuknya CUM? Sebenarnya untuk saling menopang jemaat dalam membangun ekonomi, dan semangat itu adalah nilai kasih. Di Papua misalnya, semangat membangun ekonomi penduduk asli Papua sudah makin terlihat.
Saat ini di Papua sudah terbentuk Pemberdayaan  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang digawangi Jaringan Kerja Lembaga-Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK). Lembagai ini melihat, bahwa gereja perlu terlibat mendorong masyarakat memiliki usaha. Berwirausaha guna mewujudkan ekonomi masyarakat, terutama penduduk asli Papua. Hal itu juga, secara seimbang dan berkeadilan dibahas dalam sebuah diskusi dan jumpa pers di Hotel Mahkota Hamadi, Jayapura, tahun lalu.
Hadir pada kesempatan itu tim Perumus Workshop, Pendeta Bas Weyai, STh, bersama Pendeta Nabot Manufandu, dan beberapa orang yang peduli. Di tengah acara itu mereka bersepakat ada rekomendasi pada gereja. Rekomendasi itu kemudian dibacakan. Ada empat rekomendasi yang dikeluarkan bersama peserta melalui kegiatan workshop; yakni adanya kesadaran membangun ekonomi kerakyatan.
Weyai  melihat ada semacam keterlenaan penduduk asli untuk membangun ekonomi, terutama semangat membangun ekonomi. “Kesadaran ini muncul dari realita masyarakat asli Papua yang belum mampu bersaing dalam dunia usaha mikro kecil dan menengah. Maka dipandang perlu ada kebijakan gereja yang mendorong potensi masyarakat atau SDM gereja yang memiliki karakter pelaku ekonomi berskala kecil dan menengah,” ujarnya.
Rekomendasi kedua adalah peluang dan prospek pemanfaatan jasa Bank Papua.  “Dalam hal ini adanya kerja sama gereja dengan pihak perbankan untuk akses kredit usaha rakyat bagi masyarakat asli Papua yang memiliki karakter wirausaha. Program Ekubang pada aras jemaat-jemaat difasilitasi untuk memperoleh kesempatan pengkreditan pada Bank Papua secara teratur dan terukur,” jelas Weyai.
Hal senada disampaikan aktivis JKLPK Papua itu, Pendeta Nabot Manufandu. Dia mengatakan bahwa dasar pelaksanaan dan visi JKLPK adalah untuk mewujudnyatakan kesejahteraan sosial, kesetaraan, keadilan. “Dan, perdamaian dan keutuhan ciptaan sebagai wujud tugas panggilan orang-orang percaya sebagai kawan sekerja Allah khususnya mereka yang lemah, tertindas dan menderita.”  Dalam kesempatan itu  juga dihasilkan rekomendasi terhadap advokasi hak-hak ekonomi masyarakat asli Papua. Gereja-gereja di Tanah Papua tampil bersinegi (sinergitas-oikumenis), sebagai pendamping yang aktif membela hak-hak ekonomi masyarakat asli Papua.
Sementara itu, Manufandu mengutip hasil rekomendasi tersebut. Point yang keempat, kata dia, peningkatan sektor ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Dalam hal ini peserta berpendapat bahwa sistem pemberdayaan masyarakat perlu ada kerjasama. Kerjasama antara gereja dan pemerintah secara sinergi, kritis. “Hal ini agar dapat mendorong percepatan pembangunan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur,” ujar Manufandu.
Rekomendasi ini kemudian disampaikan kepada gereja, pemerintah dan legislatif, sehingga menjadi perhatian dalam rangka membangun ekonomi masyarakat asli Papua. Artinya, memberdayakan ekonomi jemaat tentu perlu melibatkan gereja. Hanya saja, ketika terjun di akar rumput semangat pemberdayaan ekonomi jemaat itu belum merata.

Di garis katulistiwa
Sementara itu, di Kalimantan Barat juga kredit union makin meningkat. Kalimantan khususnya Kalimantan Barat telah menunjukkan kehandalan dalam mengelola kredit union. Di kota garis katulistiwa itu, Badan Koordinasi Kredit Union (BKCU) ini menjadi acuan bagi koperasi yang lain.
Pertengahan tahun ini misalnya, saat diadakan rapat di Hotel Kapuas yang dihadiri hampir 200 orang dari pengurus credit union, tamu undangan, dan peninjau. Ternyata perwakilan dari credit union pun tidak hanya datang dari Kalimantan Barat, bahkan hadir dari Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Papua. Bahkan negara perwakilan dari negara tetangga dari Timor Leste juga hadir.
Mengapa demikian antusiannya di Kalimantan? Sekarang ini khususnya di Pontianak sendiri lembaga kredit union sudah punya aset hingga triliunan rupiah, bahkan anggotanya pun ratusan ribu orang. Dan, kredit union tidak kalah dari lembaga keuangan yang lain, apalagi sifatnya sosial, membantu modal para anggotanya.
Barangkali akan mengurangi nasabah di bank, apalagi kegiatan menabung di lembaga kredit union, menyimpan dan meminjam uang sudah hampir mirip seperti di bank. Tidak tertutup kemungkinan, kalau kredit union lebih menguntungkan. Bahkan, kantor dan teknologinya pun tidak kalah bagus dari kantor perbankan. Dan bunganya sangat kecil.
Fenomena credit union di Pontianak memang fenomenal. Sebuah lembaga keuangan yang dapat menyelaraskan prinsip ekonomi dan sosial sekaligus. Apa kelebihan dari kredit union itu? Istilah ekonomi kerakyatan ini,  bukan sebatas slogan dan wacana saja. Karena lembaga seperti kredit union telah terbukti mampu menggerakan ekonomi, dan membantu wirausaha mandiri ribuan orang bertumbuh. Kredit union intinya bahu-membahu bersama warga lain yang lebih beruntung.
Para anggota kredit union ini bisa saja pedagang kakilima, supir angkot, tukang becak, tukang ojek, karyawan, atau pengusaha. Syaratnya mudah, asal mendaftar dan memiliki iuran bulanan, itu diakumulasikan menjadi simpanan yang makin hari makin bertambah. Dan satu, banyak orang respon kredit union yang dikelola gereja bisa lebih menjamin.
Menjadi anggota kredit union memang relatif lebih aman. Para anggota bisa meminjam uang dari lembaga, asal ada dua orang atau lebih merekomentasikan peminjaman uang. Karena sifatnya kekeluargaan maka menjadi anggota kredit union menyenangkan. Menumbuhkan ekonomi jemaat dan melibatkan gereja, itu penting. Karena gereja selain pengelola bisa menjadi pengawas persaingan usaha antara jemaat yang ada.
       ?Hotman J. Lumban Gaol

Komentar

Top