ANAKU HAMIL DI LUAR NIKAH INIKAH SALAHKU?

Author : Bimantoro | Fri, 28 August 2015 - 15:44 | View : 1462
anaku-hamil.jpg

Yth.Konselor Lifespring

Saya seorang ibu dari tiga anak yang semuanya wanita. Anak tertua dan kedua sudah menikah, saat ini saya sedang menghadapi pergumulan dengan rencana pernikahan anak ketiga saya. Saya seringkali bertanya kepada Tuhan kenapa saya harus menghadapi terus masalah ini. Kedua anak saya yang sudah menikah termasuk yang ketiga, menikah karena sudah hamil terlebih dahulu. Untuk kedua anak saya yang telah menikah, kami sepakat menikahkan mereka dengan berbagai pertimbangan, diantaranya supaya keluarga kami tidak mendapat malu dan anak yang dikandung lahir sebagai anak sah dan bukan anak diluar nikah. Puji Tuhan pernikahan anak pertama sepertinya bisa berjalan dengan baik, terbukti sampai saat ini mereka masih baik-baik saja. Tetapi pernikahan anak kedua kandas ditengah jalan. Belajar dari pengalaman tersebut, saya bingung apakah harus menikahkan anak ketiga saya atau mengambil keputusan yang berbeda. Mohon sarannya.

Ibu X.

Yang terkasih ibu X. Tidak mudah berada di posisi ibu. Disatu sisi tentu pertimbangan logis seperti nama baik termasuk kepentingan sang bayi akan membuat kita ingin mengambil keputusan yang sama dengan keputusan kita sebelumnya, disisi lain pengalaman anak kedua membuat kita kemudian menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil sikap untuk anak ketiga.  Saya akan mencoba membantu ibu untuk memikirkan berapa hal sebagai berikut:
1. Pernikahan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kedua belah pihak, namun sebagai orang percaya, kita harus mencoba melihat tujuan pernikahan yang seharusnya memuliakan Tuhan. Untuk itu, apakah menurut ibu, baik anak ibu maupun pasangannya, sudah siap untuk masuk dalam jenjang pernikahan?. Kesiapan ini tentu bukan hanya kesiapan untuk mandiri secara financial tetapi juga kesiapan mental. Apakah kita yakin bahwa pernikahan yang dikerjakan karena kurangnya pengendalian diri akan berjalan dengan baik?. Apakah kita yakin bahwa dasar pernikahan ini cukup kuat untuk mengerjakan kehidupan pernikahan yang semakin tidak mudah saat ini?. Untuk itu, kehamilan tentu bukan menjadi satu-satunya dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan. Ibu dan keluarga perlu melihat sejauhmana anak ibu dan pasangannya siap. Melihat kesiapan mereka tentu membutuhkan interaksi yang cukup intens antara kedua belah pihak, perlu dipertanyakan bagaimana mereka akan menghadapi masa depan yang saat ini terpaksa harus disesuaikan dengan terjadinya kehamilan. Apa rencana mereka dan bagaimana pandangan dan pemikiran mereka perlu kita ketahui terlebih dahulu sebelum kita mengambil alih tanggung-jawab yang seharusnya mereka pikul.
2. Dari sisi keluarga wanita, ada banyak pemikiran bahwa menikahkan adalah cara untuk menghindari aib pada keluarga. Tentu tidak mudah kalau ada anggota keluarga yang hamil tanpa ada kejelasan siapa suaminya, belum lagi pertimbangan sang anak yang akan lahir dan tercatat sebagai anak diluar nikah. Akan tetapi perlu kita ingat bahwa menikahkan tidak serta merta menghilangkan akibat dari tingkah laku yang keliru. Kalau hal ini terjadi dengan pasangan yang sudah dikenal cukup lama mungkin akan lebih mudah, bagaimana kalau hal ini terjadi pada hubungan singkat atau bahkan sesaat?. Dalam hal ini ibu perlu membantu anak ibu untuk menggumulkan apa yang telah terjadi dan membawa anak ibu pada kesadaran akan tanggung-jawabnya secara iman dalam bentuk pertobatan. Kita perlu mendukung baik secara spiritual maupun secara psikologis, sehingga keputusan yang akan diambil, bukan sekedar keputusan demi kepentingan sesaat, dan hanya untuk kepentingan nama baik, tetapi menjadi keputusan yang secara sadar dan bertanggung-jawab diambil oleh anak ibu. Dengan keputusan yang secara tenang dan sadar diambil (oleh anak), maka apapun konsekuensi (dimasa depan) dari keputusannya, diharapkan akan bisa dihadapi dengan baik.  Saya kuatir apa yang telah terjadi sebelumnya dengan kedua anak ibu, dan bagaimana keluarga menghadapi masalah tersebut, dibaca dengan keliru oleh anak ketiga sehingga dia kemudian menghadapi masalah yang sama dengan kedua kakaknya. Perlu di bicarakan tentang pergumulan yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kedua kakaknya. Dengan menunjukkan berbagai kemungkinan, diharapkan anak ibu bisa mengambil keputusan yang terbaik.
3. Secara iman Kristen yang saya yakini, perlu ada pertobatan terlebih dahulu dari kedua belah pihak. Mereka harus disadarkan akan kekeliruan yang mereka kerjakan bukan hanya dihadapan manusia tetapi terlebih dihadapan Tuhan. Apa yang terjadi perlu di lihat sebagai sesuatu yang diijinkan Tuhan tetapi tidak disukai oleh Tuhan. Perlu ada pembimbingan khusus kepada keduanya, yang akan membantu mereka untuk melihat bahwa Tuhan Yesus memang mati untuk menebus dosa manusia, tetapi karya keselamatan di atas kayu salib janganlah dilihat sebagai anugerah yang murahan, tetapi sebagai anugerah yang luar biasa. Pengalaman pertobatan raja Daud dalam 2 Samuel 12, bisa menjadi contoh bagaimana pertobatan yang disertai hati yang remuk merupakan awal pemulihan hubungan dengan Tuhan dan juga dengan manusia. Keduanya perlu kita bimbing untuk mengalami pertobatan dan dari pertobatan ini mereka kemudian mengenal Tuhan kita lebih dalam lagi.  Untuk lebih memahami pergumulan yang ibu X hadapi, bantuan dari konselor, akan bisa membantu ibu X, keluarga dan anak dalam mengambil keputusan tentang dilema ini. Lifespring Counseling and Care Center bisa membantu ibu X dan keluarga dalam melihat pergumulan ibu X dari berbagai sisi, sehingga ibu X dan keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat. Hubungi kami di 021-30047780 untuk membuat perjanjian konseling.
Tuhan memberkati

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

 

Komentar

Top