CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Ungkapan Hati

Jack Marpaung Di Kamar 13 Hutobus Dosaki

Friday, 30 Nopember 2012 | View : 4752

Namanya pernah menghiasi pentas hiburan nasional dengan grup musiknya, Trio Lasidos. Di jagat tarik suara, Jack Marpaung tidak asing lagi. Dia memang bukan Jack Brown aktor film-film romantis itu. Jack punya talenta beryanyi. Suaranya yang melengking, karangannya berjubel. Jack, cukup dikagumi di musik Batak, tak heran banyak penggemarnya. Ciri khasnya memang susah dilupakan. Salah satu lagunya yang terkenal itu: Kamar 13. Sebuah lagu yang berkisah tentang pengalaman di penjara.

Sesungguhnya syair itu memiliki makna, cerita sungguhan. Dulu, anak Siantar ini memiliki masa lalu yang kelam. Sebelum namanya terkenal, Jack pernah terjerembab pada kubangan dosa narkoba dan minuman keras. Dunia hiburan yang melambungkan namanya, tetapi dunia itu juga membawanya ke jurang kehidupan terlarang.

Menurut pengakuannya, kehidupan keras dia jalani oleh karena sikap orangtuanya yang sangat keras mendidiknya.  Ayahnya seorang tentara, mendidiknya terlalu keras. “Orangtua saya keras. Sewaktu kita masih kecil kalau rumah kotor, bapak marah. Dia ambil sapu, saya disuruh duduk langsung dihajar. Itu saya alami berulang-ulang. Saya tidak nyaman di rumah, saya lalu mencari kenyamanan di luar,” ujarnya, mengingat masa lalunya itu.

 Suatu waktu, tatkala bermain gunduh dengan teman-temannya, Jack kalah. Bukannya menerima kekalahan, ia malah memukul orang itu. “Lalu  ada orang mengadu ke ibu saya. Ibu saya ambil sapu, saya dihajar sampai sapu itu patah. Habis itu baru bapak saya ganti pukul saya,” kenang Jack.

Itu sebabnya Jack tidak pernah betah di rumah.  “Sejak kecil hingga remaja, saya tidak betah tinggal di rumah. Saya memilih hidup di jalanan bersama teman-temannya. Ganja menjadi pelarian hidup saya ketika itu. Perkelahian adalah pelampiasan emosi. Hal itu terus berlanjut hingga dewasa. Saya kemudian memilih meninggalkan rumah, dan hidup di terminal. Bergaul dengan para preman-preman membuat saya semakin keras. Bahkan pada aparat pun tidak takut.”


Terkena timah panas

Sejak itu, Jack mengisi kehidupannya di terminal. Terminal menempanya menjadi laki-laki keras, tak jarang berkelahi, itu kerap kali membuat Jack dan temannya berurusan dengan aparat. Satu waktu, ada temannya tertangkap polisi karena berkelahi. Teman Jack dipukuli polisi. Tak terima perlakukan itu, Jack kemudian  datang sambil menghunuskan golok ke arah polisi. “Saya kejar polisi dengan golok. Polisi lalu mengambil pistol dan menembak saya,” ujar Jack.

Perut Jack terkena timah panas, akibatnya dia tidak sadar diri. Syukurlah dia lolos dari maut. Meskipun lolos dari maut, tetapi ia tidak lolos dari jerat hukum, dan akhirnya dibui. Walau sudah beberapa lama mendekam di penjara orangtuanya tidak pernah melihat Jack. “Orangtua saya sudah tidak peduli lagi. Walau sudah dipenjara tidak pernah besuk saya. Hanya sekali saja saya dikunjungi.  Saya sudah dianggap tidak berharga lagi,” tambahnya lagi.

Bebas dari bui membuat Jack dan teman-temannya jera. Dan kemudian melihat jalan lain untuk kehidupan. Jack bersama teman-temannya mencoba mengubah jalan hidup dengan mengejar impian untuk menjadi penyanyi di Jakarta. Sesampainya di ibukota itu, harapan mengubah nasib ternyata jauh panggang dari api. Jakarta bukan seperti yang diharapkan.

Di Terminal Grogol, Jack memulai hidupnya di Jakarta, mencoba menaklukan ibu kota. “Ketika itu harapan kami Jakarta menjanjikan. Namun, begitu sampai Jakarta, saya ingin pulang. Rasanya tidak seperti yang saya bayangkan,” kenangnya. “Hidup gelandangan pun kita jalani. Bahkan, hampir terjerumus melakukan tindak kejahatan. Saya naik bus, lalu saya melihat ada uang di kantong orang. Kalau saya ambil pasti bisa, tetapi saya terbayang kembali janji kepada orangtuaku. Saya langsung turun dari bis itu supaya jangan tergoda dan melakukan hal itu,” ujarnya lagi.


Trio Lasidos

Tak tahan hidup di terminal, Jack dan teman-temanya mengubah perutukkan nasib. Jack bersama teman-temannya, kemudian mencoba menawarkan jasa menghibur lewat suara ke hotel-hotel. Ternyata itu pun bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan mereka alami.“Berkali-kali kami ditolak sebelum diterima menjadi pengisi acara di cafe-cafe hotel. Satu tahun baru dapat pekerjaan di Hotel Borobudur. Sejak saat itulah berdatangan undangan mengisi acara. Semenjak itu juga mereka bentuk Trio Lasidos, grup musik yang digandrungi anak muda tahun 80-an dengan personilnya  Hilman Padang, Bunthora Situmorang dan Jack sendiri.

Ketika meniti karir sebagai penyanyi dari satu hotel ke hotel, Jack bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memikat hatinya, bernama Anita, yang kemudian hari menjadi pendamping hidupnya. Dan untuk menikahi Anita pun bukan proses yang mudah, karena ayah mertuanya menolak punya menantu seorang penyanyi. Tetapi, bukan pemuda Siantar namanya kalau tidak nekat. Mereka akhirnya kawin lari. 


Doa istri

Sejak berkeluarga Jack pun mulai makin bersinar. Tawaran kepada Trio Lasidos untuk rekaman pun makin padat. “Kaset saya meledak, saya mulai sombong. Mulai sudah merasa hebat. Show dari satu daerah ke daerah lain, kadang-kadang satu bulan di daerah, dan kita ngga pernah pikirkan istri dan anak.”

Tidak hanya melupakan keluarganya, Jack pun mulai terlena dengan popularitas dan hidup dalam pesta pora. Minuman keras dan narkoba menjadikan Jack semakin lupa diri. Pulang pagi dalam keadaan mabuk menjadi bagian dari kesehariannya. Percecokan suami-istri kerap kali terjadi. Bahkan, bahtera rumah tangganya di ambang kehancuran.

Walaupun sudah berkali-kali diingatkan istri agar tidak mabuk lagi, dia tetap saja mabuk-mabukan. Beruntunglah Jack punya istri yang sabar dan tabah menghadapi kelakuan Jack. Istrinya menjadi tiang doa. Sang istri tak jemu-jemunya berdoa, dan istrinya tetap bertahan, walau Jack sudah memintai cerai saja. Karena tidak ingin melihat Jack hancur, istrinya selalu berdoa. Saat pulang dalam keadaan mabuk, tanpa setahu Jack, sang istri selalu mendoakannya. Itu berlanjut terus hingga doa istrinya dijawab Tuhan. Satu waktu, tahun 1987, Jack tertangkap polisi.

“Berita saya ditangkap polisi karena membawa ganja 100 kilo di Jakarta sudah, beritanya gempar. Karena berita itu, anak saya [Dewi Marpaung-artis] telepon ke saya sambil menangis. Papa dipenjara iya? Nggak, saya lagi di hotel, kata saya. Di sini sudah tersebar berita bapa disebut dipenjara.” Inilah kehidupan seperti roda pedati, yang kadang di atas kadang di bawah. Saat Jack kembali ke Jakarta dia menemukan sebuah kenyataan yang pahit, semua shownya telah dibatalkan, bahkan semua karangannya tidak dipakai produser.

Kejadian  itu, membuat Jack bersolo karir, sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Waktu itu, tidak ada pemasukan sama sekali, cerita Jack. Istrinya kemudian membantunya berbisnis. Namun malang, seperti sudah jatuh dari tangga tertimpa pula. Bisnis itu bangkut karena mitranya menipu. Akibatnya hutang pun melilit keluarga Jack dan memaksa Jack harus menjual mobil dan rumah.

Sejak saat itulah Jack memutuskan bertobat. Lagu Di Kamar 13 Hutobus Dosaki.... [di kamar 13 ini kutebus, kujalani hukumanku] menemukan maknanya, kata lain bertobat. Berlahan Jack melepaskan keterikatan dengan narkoba. Hubungannya dengan Tuhan pulih. Hubungannya dengan istrinya kembali bersemi. Sejak pertobatan itu, dia bersama istri dan anak-anaknya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. “Sekarang saya sudah meninggalkan hidup yang fana. Sekarang hidup ini saya syukuri. Saya menikmatinya. Damai sejahtera, sukacita yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, saya rasakan sekarang. Berjalan bersama Yesus benar-benar mengubah jalan hidup saya,” ujarnya.

     ?Hotman J. Lumban Gaol

See Also

Jansen Sinamo:Mengucap Syukur Dalam Segala Keadaan
Semua Ada Waktunya
Tidak Ada Yang Mustahil Tuhan Lakukan, Jika Kita Percaya
Kaki Saya Dipakai Tuhan Menjadi Tangan!
Tak Pernah Mengeluh, Meski Kaki Diamputasi
Setelah Lahir Baru Menjadi Sahabat Orang Sakit
Selamat Dari Jurang Waingapu
Ir. Dohara Simanullang Setia Mengiringi Penderitaan Istri
Benny (Panbers) Pandjaitan Tetap Optimis Menanti Pemulihan
Junijati Tanzil: Saya Diberikan Tuhan Kehidupanyang Kedua
Eloy Zalukhu,Jalan Hidup Seorang Anak Ononamolo
Belajar Daya Tahan Kemalangan Dari Musibah
Divonis Dokter Hidup Hanya Dua Bulan, Kuasa Tuhan Membuat Sembuh
Dulu Terikat Okultisme, Kini Bebas Melayani
Pdt.Simson Pujianto, Bersama Istri Di Ujung Hayat
Melayani Bukan Untuk Mencari Makan
RencanaNya Sempurna, Tak Pernah Gagal
Tuhan Yesus Sumber Kebenaran Dan Pengharapan
Doa Perempuan Pengemudi Taksi
Kematian, Mujizat Bukan Musibah
Maknai Masa Tua Bersama Anak Cacat
Harapan Di Tengah Sakit
Jangan Menghakimi, Berdamailah Dengan Diri
Oci Tanubrata, Makin Dekat Pada Tuhan
M. Zein, Mantan Radikalis, Ditangkap Tuhan Selepas Dari Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :201420132012201120102009
Mata Hati
umat-dan-pembelajaran--politik.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow bigmansiraitFinal sudah PilPres 2014, setelah tanggal 21 Agustus 2014, MK mengetok palu menolak gugatan Prabowo Hatta. Ini meneguhkan ..
Konsultasi Teologi
hak-kesulungan.jpg
Pdt.Bigman SiraitFollow     bigmansiraitKejadian 25:29-34, menceritakan tentang bagaimana Yakub meminta kepada Esau untuk menjual hak ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 17.395.633 Since: 14.11.05
Online Support :