Banyak Kali Kita Hanya Menengahi!

Thu, 3 January 2013 - 15:41 | View : 1219
Al-Habib Muhsin Ahmad Alattas, Lc,.jpg

Al-Habib Muhsin Ahmad Alattas, Lc,
Ketua Bidang Dakwah dan Hubungan Lintas Agama FPI:

Masih ada juga penindasan agama di tahun ini?
Sebetulnya   kasus-kasus yang ada itu, berkaitan dengan hukum dan peraturan. Sebetulnya umat beragama itu sudah saling toleransi. Yang sering terjadi adalah kasus pelanggaran hukum atau peraturan, terutama dalam kaitan dengan pendirian tempat ibadah. Lalu yang kedua, masalah etika penyiaran agama. Itu yang menimbulkan persinggungan, karena semua punya hak untuk menyiarkan. Ketiga, kaitan dengan politik. Bila dipolitisir, akan menjadi masalah besar.
 
Mengapa “konflik” itu sering terjadi antara Islam dan Kristen dan bukan dengan agama lainnya?
Pertama, dipicu oleh tipologi agama. Agama kristen dan islam itu adalah agama misi atau dakwah, sehingga dia mengembangkan ajarannya untuk itu. Masalahnya etika itu tadi. Kalau dijalankan dengan baik, saya kira tidak akan ada masalah. Jadi harus ada kanalisasi yang dirintis oleh pemerintah dalam bentuk dialog. Silahkan umat kristiani menyampaikan tentang ajaran kristen kepada khalayak. Itu difasilitasi saja. Dialog perlu dilakukan, asal dengan intelek, dengan ilmiah, tidak dengan saling menghujat. Kalau ada yang tertarik, ya silahkan.
Tapi manakala penyebaran agama itu dilakukan dengan cara-cara yang sifatnya terselubung, membantu dengan manipulatif, itu akan muncul ekses. Tapi kalau kanalisasi dialog keagamaan, dengan dialog yang baik, silahkan.
 
Banyak kasus penutupan tempat ibadah selalu melibatkan  FPI, menurut Anda mengapa?
Tidak selalu. Kalau Anda tahu dari berita, ya karena ada beberapa yang dipolitisir tadi. Artinya, ini ada kasus masyarakat, kasus aturan yang dilanggar, misalnya karena tidak menaati PBM (Peraturan Bersama Menteri), lalu dipaksakan untuk didirikan, ‘kan jadi kasus hukum. Jadi masalahnya hukum, bukan karena penolakan terhadap agama kristen. Tapi ini kurang memenuhi syarat.
Lalu kemudian dipublikasikan media, diplintir seakan-akan menjadi permusuhan agama. Lalu dipolitisir lagi bahwa ini adalah ulah oknum dari organisasi massa tertentu, lalu mulailah diprovokasi. Unjungnya adalah internasional. Nanti internasional melihat dan menyimpulkan bahwasanya Islam itu adalah agama yang intoleran. Padahal kasusnya bukan seperti itu. Lalu ditarik menjadi kasus politik. Karena apa, karena yang akan memegang hegemoni dunia ini, yang akan menjadi daerah-daerah kekuasaan internasional dalam bidang ekonomi dan politik, adalah kebetulan negara-negara yang mayoritas umat Islam. Sehingga supaya umat Islam itu tidak ada kekuatan di negara masing-masing, didiskreditkanlah dengan isu-isu seperti itu. Itu kan komoditas politik internasional. Yang jadi korban adalah umat beragama.
 
Sebenarnya bukan FPI?
Bukan. Di pusat FPI, Petamburan, ada 11 gereja. Tidak ada masalah. Masalahnya adalah masalah hukum. Lalu ditarik jadi masalah kelompok, akhirnya jadi isu internasional. Akhirnya PBB mengeluarkan pernyataan bahwa umat Islam Indonenesia tidak toleran.
 
Dulu Anda mengatakan bahwa bukan FPI tapi masyarakat yang minta tolong pada FPI. Masih relevankah?
Ada juga seperti itu, tapi tidak semua. Begitupun sebaliknya, kita umat Islam yang di Bali atau di Papua, kita minoritas, begitu sulitnya kita bikin masjid. Jadi sebetulnya sesuatu yang terjadi biasa. Kalau tidak boleh, ya kita tidak pernah mendirikan masjid di sana. Kan peraturan PBM kan harus 90 pengguna dan 60 pendukung. Itu peraturan.
Cuma jadi masalah, kita akui, di kristen itu ‘kan bukan seperti di Islam tempat ibadahnya. Kalau di Islam, orang Muhamadyah bikin masjid, yang sholat di situ bukan hanya orang Muhammadyah, tapi semua umat Islam boleh. Kalau di Kristen ‘kan lain, kalau gereja HKBP, tidak mungkin orang Katolik kebaktian di situ.
 
Di PBM disebutkan juga bahwa bisa memakai gedung ibadah sementara, tapi biasanya  diganggu juga?
Memang itu jalan keluarnya. Tapi tetap harus ada ijin juga. Meskipun sementara.
 
Apakah daerah mayoritas Islam tidak menghendaki gereja?
Sebetulnya, akar masalahnya berangkat dari pelanggaran etika penyiaran agama itu. Kalau penyiaran dilakukan dengan baik, tidak ada masalah. Tapi karena ada kasus-kasus atau oknum yang agresif, ini yang kadang-kadang mencoreng keseluruhan, sehingga ketika ada kristen mau masuk, ya sudah curiga duluan.
 
FPI selalu terlibat dalam penutupan atau pelarangan gereja?
Tidak mesti ada. Tidak selamanya FPI ada.
 
FPI ada di sana untuk apa sebenarnya, apakah untuk meramaikan suasana?
Ya, kita biasana lihat dulu. Kalau masalahnya adalah masalah hukum dan peraturan, ya kita selesaikan dulu. Kalau memang sudah mendapatkan peringatan dari masyarakat, dan tidak taat, ya kita menghimbau kepada mereka. Memang ada beberapa kasus memang kita terlibat, tapi koridornya adalah aturan.
Banyak kali kita hanya menengahi. Tapi kalau acuan kita memang hanya media, terutama televisi, wah kita siap untuk menjadi korban media. Jadi kalau Anda lihat TV bilang ada FPI yang terlibat, harus Anda telusuri benar-benar.
 
Secara psikologis, penduduk mayoritas tidak menghendaki agama lain ada, wajar tidak?
Itu memang kondisi psikologis masyarakat. Itu wajar.
       ?Paul Maku Goru
 

Komentar

Top