CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Suluh

Integritas Dibangunmelalui Pendidikan Karakter

Tuesday, 30 April 2013 | View : 1113

Pdt. M Ferry H Kakiay, MTh, Sekretaris Umum BPH GBI

PERKEMBANGAN zaman, kemajuan teknologi sering kali tidak diimbangi dengan keteguhan karakter manusia. Modernisasi juga telah membuat orang menjadi serba pragmatis. Tak berpendirian mandiri sering kali diombang-ambingkan zaman. Integritas menjadi amat penting, manakala diperhadapkan pada situasi zaman. “Integritas itu terlihat juga dari sikap disiplin, bertanggung jawab dan jujur. Tetapi itu semua bisa kita miliki ketika punya hubungan pribadi dengan Tuhan,” ujar Pendeta Ferry Kakiay.
Pendeta dengan nama lengkap Melianus Ferry Haurissa Kakiay ini lebih  populer dipanggil Pdt Ferry Haurissa atau Pdt M Ferry H Kakiay, MTh. Pria kelahiran, 5 Mei 1969 ini, lahir di Limalas, Pulau Misol, Raja Empat, Sorong, Irian Jaya. Sekarang, dia adalah Sekretaris Umum Badan Pekerja Harian GBI. Dia juga Gembala Sidang GBI Jemaat Kapernaum.
Pendeta berdarah Ambon ini, selalu serius kalau ditanya soal kepemimpinan. Menurut dia, kunci dalam menjalankan kehidupan,apalagi sebagai pemimpin adalah integritas.
Baginya, integritas berarti karakter Kristus yang menjadi pondasi kita melangkah. “Jika pimpinan, hamba Tuhan tak memiliki integritas yang tinggi, tentu mereka tidak didengar. Kalau tidak ada integritas, maka konflik yang terjadi. Saling mencurigai. Tetapi kalau pemimpin memiliki integritas ada kepatuhan, kemauan mendengar dan saling menghargai,” terang alumni Sekolah Tinggi Teologia Jaffray Jakarta, sekolah  yang dikenal dengan Filsafat Kepemimpinan, itu.
Ferry menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah di Sorong. Tahun 1978, dia hijrah dan melanjutkan pendidikan menengah atas di  di Surabaya, tepatnya  sekolah calon pelaut. Lulus sekolah pelaut di Surabaya,  ia ke Jakarta hendak mau berangkat berlayar. Tetapi rencangan Tuhan indah dalam hidupnya. Sebelum  berangkat dia mengikuti persekutuan doa di bilangan Pulo Mas. Pendek cerita pembawa renungan itu menantang dia untuk terima Yesus. Akhirnya, dia tidak jadi berlayar tetapi masuk Sekolah Penginjil (SP) Bethel Petamburan, Jakarta.
Semangat melayani mengebu-gebu didapatnya dari sang pendiri Gereja Bethel Indonesia, Pendeta Prof Dr Ho Lukas Senduk, lebih dikenal dengan sebutan HL Senduk. Memulai pelayanannya  di GBI sebagai Ketua Departemen Pekabaran Injil BPH GBI periode 1991-1997. Lalu, Ketua Pelayanan Pekabaran Injil Oikumene (PPIO) periode 1991-1997. Dari sana dipercaya menjadi Ketua Badan Pekerja Daerah DKI Jakarta selama dua periode.
“Punya karakter yang kuat, yaitu punya integritas itu tidak mungkin sekali jadi. Dibutuhkan proses panjang. Jadi kita harus menghidupi integritas. Kalau itu sudah jadi, orang terberkati.”  Baginya,  integritas itu tidak tergantung oleh kondisi. Bicara integritas berarti tidak bisa tidak berarti berbicara tentang konsistensi, yaitu pikiran dan tindakan, dalam bentuk pengambilan keputusan.
Bagaimana caranya memiliki integritas?  “Itu tidak bisa didapat kalau  tanpa pertolongan Tuhan. Kita harus merendahkan hati pada Tuhan. Karena dengan demikian kita bisa disebut berintegritas. Jadi, soal integritas itu untuk semua orang. Bukan hanya pada hamba Tuhan, tetapi juga untuk jemaat.”
Bagi Ferry, orang tanpa integritas adalah pribadi perusak. Sebaliknya yang beritegritas orang yang memiliki potensi untuk membangun. Karena dapat dipercaya, maka diberikan tanggung jawab. “Karakter adalah sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, kalau itu ada maka ada integritas,” kata Pelayanan Misi Oikumene Indonesia (PeMOI), ini. 
 
Mendidik karakter
Ferry mengatakan, seorang pemimpin harus hidup dalam kehidupannya terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain. “Inilah prinsip yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang baik mengeluarkan dari perbendaharaan hatinya yang baik tentang segala sesuatu yang baik,” sebaliknya “Orang yang jahat mengeluarkan dari perbendaharaan hatinya yang jahat tentang segala sesuatu yang jahat. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau mengajarkan bahwa menjadi lebih penting berbuat daripada berkata-kata.”
Kalau kita tidak punya integritas itu tak mungkin bisa menjadi patron. “Sosok pemimpin yang baik adalah seorang yang punya kemampuan menginspirasi dan memotivasi bawahannya. Kita bisa lihat pada sosok pemimpin Jokowi dan Ahok. Tentu mereka dengan tindakan, bukan hanya ucapan. Saya kira banyak hal yang bisa kita contoh dari sosok Jokowi dan Ahok.”
Integritas, menurut dia, merupakan aset  tak berwujud, modal di mana pun. Reputasi dan kredibilitas kita dilihat dari integritas kita. Itu nilai. “Tidak mau kompromi terhadap yang salah, namun berani melawan arus karena benar, itulah yang harus ditunjukkan,” ujar suami dari Tan Eva dan ayah dari  empat orang anak yaitu  Maria Kristina, Naomia (Dea), Yosua Immanuel, dan Jesica Elisabeth.
Baginya agar punya integritas mesti punya karakter. Maka harus terus didegung-degungkan pendidikan karakter. Hal  ini penting sebagai upaya membentuk watak. “Bagi saya, gereja mesti menjadi pendidikan karakter. Di sanalah ditanamkan nilai-nilai yang luhur. Tetapi, sebelum ada pendidikan karakter, pendidiknya, hamba Tuhan harus terlebih dahulu memberi contoh, teladan yang baik,” ujar Gembala Sidang Gereja GBI Kepernaun, ini.
Utamanya bagi pemuda, banyak cara yang bisa dilakukan gereja dan lembaga pelayanan untuk membina karakter orang-orang muda Kristen. Termasuk melalui olahraga. Di sekolah sepak bola, Akademi Emsyk Uni Papua (Emsyk) yang kebetulan anaknya Yosua, anak laki satu-satunya sekarang dididik di sekolah ini. “Sekolah bola tidak hanya mencetak pemain handal saja, melainkan mendidik karakter pemain, mental,” tambahnya lagi.
? Hotman J Lumban Gaol
 

See Also

jQuery Slider

Comments

Arsip :2014201320122011201020092008
Mata Hati
umat-dan-pembelajaran--politik.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow bigmansiraitFinal sudah PilPres 2014, setelah tanggal 21 Agustus 2014, MK mengetok palu menolak gugatan Prabowo Hatta. Ini meneguhkan ..
Konsultasi Teologi
hak-kesulungan.jpg
Pdt.Bigman SiraitFollow     bigmansiraitKejadian 25:29-34, menceritakan tentang bagaimana Yakub meminta kepada Esau untuk menjual hak ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 17.380.928 Since: 14.11.05
Online Support :