Sekali Diselamatkan Selamanya Selamat?

Author : Pdt Robert R Siahaan | Tue, 4 November 2014 - 14:48 | View : 1509
sekali-diselamatkan--selamanya.jpg

Sekali diselamatkan selamanya selamat (Once Saved Always Saved disingkat OSAS) masih tetap menjadi bahan diskusi yang hangat dan bahkan masih terus diperdebatkan diantara orang Kristen. Apakah benar bahwa jika seseorang telah diselamatkan mama selamanya ia akan selamat? Sebagian orang Kristen menolak konsep ini dan menganggapnya keliru.
Mereka berpendapat jika “sekali diselamatkan selamanya selamat” (OSAS) adalah benar maka kita tidak perlu menelusuri jalan sempit dan tidak perlu menjalankan Firman Tuhan karena telah diselamatkan hingga kekekalan. Jika seseorang diselamatkan seminggu yang lalu kemudian ia membunuh seseorang hari ini maka tidak ada konsekwensinya terhadap keselamatan kekal, karena ia telah diselamatkan dan dibebaskan dari dosa yang keji itu dan ia sama sekali tidak memerlukan pertobatan.
Kelompok ini juga berpendapat bahwa Kristus mati di kayu salib adalah untuk menyeimbangkan “timbangan” dosa manusia yang telah dilahirkan dalam dosa turunan. Karena dilahirkan dalam dosa turunan Adam dan Hawa menyebabkan semua menusia menjadi pendosa. Berbeda dengan dosa yang disengaja, selalu ada kemungkinan bagi kita melakukan dosa karena kita semua memiliki kehendak bebas (free will). Kelompok ini menyimpulkan bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya karena dosa yang disengaja.
Jika seseorang tidak bertahan dan bertekun sampai kesudahan zaman maka mereka tidak akan selamat selamanya, karena hanya mereka yang bertahan yang akan diselamatkan ke dalam Kerajaan Allah (Matius 24:13). Agar diselamatkan selama-lamanya seorang yang telah diselamatkan harus memiliki hati yang baik dan secara tekun memelihara imannya sehingga diperbolehan menerima hidup yang kekal (baca. Amsal 4:23). Apakah memang benar bahwa sekali diselamatkan selamanya akan selamat adalah keliru dan tidak sesuai dengan ajaran Alkitab? Apa yang dipermasalahkan oleh orang-orang yang menganggap keliru dan menolak konsep “sekali diselamatkan selamanya selamat” sesungguhnya adalah permasalahan mengenai cara membaca dan menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab. Selain itu juga berkaitan dengan pemahaman-pemahaman yang tidak utuh terhadap konsep-konsep pengajaran Alkitab.

Keselamatan Bisa Hilang?
Bagaimana kita menyimpulkan bahwa keselamatan tidak dapat hilang? Alkitab begitu jelas dan tegas memberikan penjelasan mengenai proses kejatuhan manusia ke dalam dosa dan penyataan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan upah dosa adalah maut/kematian kekal (Rm 3:23, 6:23). Selanjutnya Alkitab menyatakan bahwa manusia dalam keberdosaannya tidak sanggup menolong dan menyelamatkan dirinya agar ia dibebaskan dari hukuman kekal dan menerima keselamatan kekal (Mz. 49:8-21).
Alkitab menegaskan bahwa keselamatan manusia dari dosa sama sekali tidak dapat dikerjakan dan diusahakan oleh manusia, karena terlalu besar dosa manusia dan terlalu mahal harga penebusan dosa itu dan manusia sama sekali tidak sanggup membayar atau mengusahakannya. Alkitab bahkan menegaskan bahwa semua manusia telah tercemar dan bersalah (polluted and guilt) dan kecenderungan hatinya hanya menghasilkan kejahatan semata-mata (Kej. 6:5); dan tidak ada manusia yang mencari Allah, semua telah tersesat dan berada dibawah dakwaan hukuman kekal (Rm 3:1-19). Alkitab sangat tegas menyatakan bahwa keselamatan manusia sama sekali tidak bergantung pada perbuatannya, tidak tergantung pada ketaatannya dalam melakukan hukum Taurat atau menjalankan kegiatan-kegiatan ibadahnya. Tidak seorang pun dapat dibenarkan dan diperhitungkan tidak berdosa serta tidak bersalah di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya melalui iman yang dianugerahkan Allah (Roma 3:20-31; 4:6-8).
Tanpa iman yang dianugerahkan oleh Allah seseorang tidak akan dapat meresponi semua rencana dan pekerjaan Allah. Iman adalah sarana yang Allah anugerahkan dan letakkan di dalam diri orang-orang yang telah ditentukannya dari semula dalam kekekalan untuk diselamatkan (Ef 1:3-13).
Allah telah menetapkan bahwa keselamatan manusia hanya dapat terjadi dengan penebusan yang dilakukan oleh Allah sendiri di kayu salib di dalam kematian Yesus Kristus, hanya Kristus yang sanggup membayar tebusan dosa manusia dengan darah-Nya yang sangat mahal dan sempurna sebagai tebusan (ransom) yang memenuhi tuntutan kesucian dan kemuliaan Allah.
Alkitab mengajarkan bahwa penebusan itu mutlak harus melalui proses kematian Yesus Kristus di kayu salib dan darah Kristus adalah korban dan tebusan sempurna untuk pengampunan dosa manusia (baca. Im 17:11; 1Pet 1:19; Ibr 9:12, 9:20-22; Mark 14:24; Kol 1:20; Ibr. 2:14; 1Yoh 1:7).  Setelah seseorang diselamatkan banyak orang Kristen bertanya: apakah dosa orang sesudah diselamatkan dapat membatalkan keselamatannya? Kalau memang dosa seseorang yang sudah diselamatkan tidak membatalkan keselamatannya, berarti orang Kristen tidak perlu mempertahankan dan memperjuangkan kehidupan yang kudus serta tidak perlu aktif melakukan kegiatan-kegiatan ibadah.
Di sinilah seringkali terjadi kesalahpahaman dan pemikiran yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ajaran Alkitab. Seseorang yang telah diselamatkan dengan menerima anugerah Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus, secara simultan mengalami dan menerima dan berbagai hal yang berkaitan dengan keselamatan itu. Ia menerima iman dan pengampunan, ia mendapatkan pembenaran dan status orang yang dibenarkan oleh Allah, ia menjadi anak Allah dan anak-anak terang, ia menjadi garam dan terang dunia, ia diutus menjadi pemberita kabar baik (Yoh 1:12; Mat 5:13-16; 1Pet 2:9-1).
Alkitab menegaskan bahwa status lahir baru dan diselamatkan itu diikuti dengan tuntutan-tuntutan baru agar orang yang sudah diselamatkan hidup selaras dan berpadanan dengan identitasnya sebagai murid Kristus (baca. 1Pet 1:14-23). Seorang Kristen telah dibebaskan dari tuntutan hukum Taurat dan telah berada dalam anugerah Allah dan telah menerima keselamatan yang kekal. Jika seorang Kristen melakukan dosa, maka ia memiliki perantara dan janji pengampunan (1Yoh 1:9).
Jika seorang Kristen merasa bebas berbuat dosa maka sesungguhnya ia akan menerima ganjaran dari Allah seturut dengan perbuatannya (Mat 16:27; Rm 6:26). Tidak ada pernyataan dalam Alkitab bahwa orang Kristen diijinkan melakukan dosa karena ia akan tetap diselamatkan. Alkitab mengajarkan bahwa orang Kristen harus hidup kudus setelah menerima keselamatan (Ef 2:1-10; Mat 5:16, 7:12; 2Tim 3:17).
Keselamatan dari Allah bersifat kekal adanya dan telah dianugerahkan dan dijamin oleh Allah, semua perbuatan baik dan ibadah yang dilakukan oleh manusia sama sekali tidak memberikan kontribusi terhadap keselamatan itu. Allah yang setia memelihara dan melindungi umat pilihannya sehingga keselamatan itu sempurna diberikan dan bukan karena kesetiaan orang Kristen.
Allah menjamin keselamatan orang Kristen akan terpeliharan hingga kekekalan (Fil 1:6). Keselamatan itu telah ditentukan Allah sejak kekekalan (Ef 1:3-11) dan tidak seorang pun dapat merebut orang yang telah diselamatkan dari tangan Allah (Yoh 10:27-29), tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat memisahkan seseorang yang telah diselamatkan sehingga ia terlepas dari kasih Allah (Roma 8:29-30, 38-39).
Perbuatan baik dan kesalehan hidup tidak diperhitungkan sebagai syarat  dan kontribusi untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, tetapi perbuatan baik dan kesalehan hidup akan menandai orang-orang yang telah diselamatkan dan memiliki keselamatan yang kekal. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Ef 2:8-9). Salvation “It wasn’t a potential atonement actuated by the sinner, it was an actual atonement initiated by the savior.” (John MacArthur). Soli Deo Gloria.

Komentar

Top