ANAKU HAMIL DI LUAR NIKAH INIKAH SALAHKU?

Author : Michael Christian | Mon, 2 November 2015 - 10:31 | View : 1429
hamil-di-luar-nikah.jpg

Pak nama saya R (31 tahun), tinggal di Surabaya, saat ini saya sedang bingung nih pak menghadapi suami saya (34 tahun). To the point saja ya pak.. Suami saya itu senang sekali menonton pornografi sejak SMP, dan hingga kami menikah, sekarang sudah 5 tahun, saya masih menangkap suami saya beberapa kali menonton pornografi di internet. Saya juga pernah mendapati dia sedang chating via aplikasi sosial dengan wanita lain, yang mengirimkan gambar porno ke HP dia. Saya sangat marah dan meminta dia menghapus semua kontak dengan dia, dan saya lebih sering mengawasi suami saya sejak saat itu. Ia meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi, namun beberapa waktu yang lalu saya sangat shock saat mengetahui di HP dia, ada sebuah video seorang wanita yang sedang mandi dan dia seperti sedang merekam adegan tersebut, seolah-olah ada di tempat itu dan bercakap-cakap dengannya. Awalnya dia mengatakan itu adalah sebuah video yang dikirim seorang teman, namun akhirnya dia mengakui dia pernah iseng dengan seorang pelacur dan merekamnya. Hari itu saya sangat marah dan memutuskan keluar dari rumah, kembali ke rumah orang tua saya. Saya juga menceritakan semua hal ini kepada orang tuanya, dan entah kenapa saya merasa orangtuanya lebih membelanya, padahal dia jelas-jelas salah. Saat ini saya ingin sekali bercerai pak, meski saya tahu firman Tuhan, tapi saya tidak tahan perlakuan seperti ini, sekarang malah kedua belah keluarga saling bermusuhan. Bagaimana ya saran bapak terhadap masalah ini?
R, di Surabaya.

Dear ibu R, setiap orang yang sudah masuk ke dalam sebuah pernikahan pasti menginginkan hubungan pernikahan tersebut berjalan dengan baik, dapat membina rumah tangga yang harmonis, dan menjaga hubungan kedua belah pihak keluarga besar dengan nyaman. Meskipun kita juga mengetahui tidak jarang ada masalah-masalah yang muncul di dalam keluarga kita ataupun pernikahan kita. Seperti yang ibu R alami, ini adalah sebuah pukulan yang sangat berat, mengagetkan dan membuat kedua belah pihak keluarga sangat terpukul. Apalagi jika hal ini adalah masalah moral, dan juga menyangkut hal-hal yang ditentang firman Tuhan ataupun agama, maka seringkali kita melihat masalah ini sebagai masalah yang fatal yang seolah-olah tidak ada jalan keluarnya kecuali memutuskan tali pernikahan. Karena itu, saya ingin kita dapat melihat beberapa hal yang cukup penting untuk kita pertimbangkan sebelum kita mengambil keputusan.
Pertama, masalah yang muncul didorong oleh karena adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi. William Glasser, seorang psikolog asal Amerika mengungkapkan adanya 5 kebutuhan dasar dalam diri manusia, yaitu: survival, love and belongingness, power, freedom, and fun. Ada kemungkinan dalam suatu hubungan pernikahan, salah satu pasangan tidak mendapatkan kebutuhan-kebutuhan ini sehingga ia berusaha memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tidak efektif dan merugikan orang lain (dalam hal ini pasangannya). Seorang suami yang membutuhkan power, namun tidak mendapatkannya, sebaliknya merasa hidupnya didominasi oleh pasangan, selalu diawasi, diatur dan dikontrol dapat mencari kepuasan seksual dimana dirinya dapat mendominasi, mengatur, dan mengontrol orang lain sekehendak hatinya agar ia merasa lebih signifikan dan merasa dirinya berharga. Dan juga suami yang membutuhkan love and belongingness, namun kondisi di rumah dirasakan sebagai kondisi yang sangat kaku, yang penting mengerjakan peran suami dan peran istri saja, sehingga kebutuhan untuk intimacy, merasa dimiliki, diperhatikan, dan dihargai berkurang, suami juga dapat mencari intimacy di luar, apalagi jika muncul berbagai macam kesempatan, baik itu dari pekerjaan kantor, internet yang semakin bebas untuk bersosialisasi, dan lain sebagainya. Sebaliknya seseorang yang membutuhkan fun akan mencoba bersenang-senang dengan orang lain karena tidak pernah merasakan kepuasan atau kesenangan di dalam rumah tangganya. Meskipun ia mengetahui batas-batas moral atau agama, namun karena rasa penasaran, ingin iseng, dan mencoba-coba pengalaman lain, ia melakukan eksperimen yang menjebak dirinya lebih dalam, dan sulit terlepas.
Tetapi juga, hal yang kedua, ada kemungkinan yang terjadi dengan pasangan kita adalah adanya faktor kebiasaan dan pola asuh yang kurang baik di masa lalunya. Seperti yang ibu katakan, bahwa sejak SMP, suami ibu sudah terbiasa menonton pornografi, dan terus menerus terjebak dalam hal itu, maka suami menjadi pribadi yang terbiasa dengan dosa seksualitas, dan mengalami desensitization, dimana ia tidak lagi melihat bahwa seksualitas adalah isu yang penting, sacred, dan dikhususkan oleh Allah sebagai sarana bagi orang percaya untuk mengasihi Allah dan sesamanya yang dipercayakan kepadanya (pasangan). Dalam hal ini kita perlu berdoa sungguh-sungguh agar hati nurani yang redup kembali dikuatkan dan sensitif terhadap dosa dan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Ketiga, adalah pola komunikasi yang selama ini telah terbangun, dengan melibatkan pihak orangtua misalnya, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab: apakah yang sebetulnya terjadi dengan pola komunikasi selama ini, dan apakah efek/pengaruh yang terjadi dengan diri kita dan pasangan setelah pihak orangtua mengetahui masalah ini? Meskipun dalam kondisi yang sangat tertekan, dan kita merasa tidak tahan, serta membutuhkan ventilasi/jalan keluar secepatnya, maka sangat wajar jika kita melihat orangtua adalah akses tercepat dan termudah untuk mengatasi masalah. Namun justru kondisi yang terjadi bisa membuat suami tidak memahami perasaan yang kita alami dan terjebak dalam kondisi yang stagnan (going no where) bahkan merasa jika orangtua tidak memberikan pressure maka ada kemungkinan saya tidak salah (wajar saja terjadi), dan sebaliknya memberikan efek pada kita bahwa orangtua tidak bisa diberikan respect karena tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Menyadari bahwa masalah yang ada tidak sesederhana itu, maka kitapun harus melakukan refleksi terhadap diri, terhadap pasangan, dan relasi serta komunikasi itu sendiri, sehingga kita memberikan ruangan bagi Roh Kudus untuk bekerja dan memulihkan hubungan yang kurang baik menjadi lebih baik, dan bahkan membawa berkat dalam rumah tangga.
Kami berharap ibu juga mencari bantuan konselor professional yang dapat menolong ibu untuk memahami pengenalan diri kita, pasangan, dan juga relasi serta komunikasi yang ada secara objektif sehingga tujuan pernikahan dapat dicapai dengan baik. Tuhan memberkati.

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

 

 

Komentar

Top