Bahtera Nuh, Sebuah Khayalan?

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 2 November 2015 - 10:34 | View : 2920
bahtera-nuh-sebuah-khayalan.jpg

Membaca kisah Nuh dan pembuatan Bahtera, sangat membingungkan saya, dan rasanya, tidak masuk akal. Di dalam Kitab Kejadian 6:14-16  Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.
Pertanyaan saya:
1. Secara akal manusia, tidak mungkin seorang Nuh mampu membuat bahtera dengan ukuran yang begitu besar (panjang: 300 hasta=135 meter; Lebar:50 hasta=22,5 meter; 30 hasta=13,5 meter). Apakah ini mungkin?
2. Ukuran yang begitu besar, peralatan pembangunan sederhana, membuat tingkat bawah, tengah, atas dan berpetak-petak, sangat tidak masuk akal. Bagaimana memahaminya?
3. Apakah kisah Nuh dan pembuatan bahtera hanya khayalan dari sang penulis kitab kejadian?
Terima kasih untuk penjelasannya?

Michael / Serpong-Tangerang

Saudaraku yang kekasih, memang kisah bahtera Nuh memunculkan berbagai pertanyaan dari perspektif modern. Perlu kehati-hatian untuk memahaminya dengan benar. Dan, kita juga harus kembali meneropong kemasa empat hingga lima ribu tahun yang lampau untuk bisa mengetahui keseluruhan kisah. Pertama, apakah masuk akal seorang Nuh membuat bahtera dengan ukuran yang besar. Harus diingat, Alkitab tidak ada mengatakan Nuh mengerjakannya seorang diri, melainkan berjanji kepada Nuh secara pribadi (Kej 6:13), dan Nuh mentataati perintah Allah untuk membuat bahtera. Data Alkitab mengatakan Nuh memiliki tiga anak yang sudah menikah. Dalam Kej 6:9-22, diceritakan Allah berbicara pribadi pada Nuh, tidak ada yang lain. Tetapi sangat jelas bahwa istri, anak, dan mantu Nuh mengikuti apa yang dikatakan Nuh. Artinya jelas, Nuh tidak bekerja seorang diri. Namun ini berarti empat pria dengan empat wanita, apakah tenaga mereka cukup? Dalam Matius 24:37-38, dikatakan bahwa ketika Nuh membuat bahtera, semua aktifitas berjalan seperti biasanya. Mereka bekerja (makan, minum), kawin dan mengawinkan.
Maka bukanlah hal yang mustahil bahwa ada yang menerima order pekerjaan dari Nuh. Mereka menerima upah kerja dari Nuh, namun tidak mau percaya. Itulah yang digambarkan Alkitab yaitu menolak percaya. Bukan menolak bekerja untuk upah. Jadi, persoalan pertama sudah kita selesaikan, ada banyak pekerja upahan yang tersedia, Nuh bisa memakai jasa mereka, namun sekali lagi mereka menolak percaya pada khotbah yang disampaikan Nuh. Perlu kita bedakan menerima perkerjaan yang medatangkan uang dengan percaya pada khotbah sipemberi kerja. Seorang pekerja non Kristen yang bekerja di gereja tidak berarti dia harus percaya pada apa yang diajarkan di gereja bukan? Dia tetap teguh dengan imannya, sekalipun dia menerima upah keja dari yang berbeda iman.
Kedua, masalah soal peralatan dan teknik bekerja, apakah mungkin? Dalam pasal berikut, Kejadian 11:1-9, menceritakan usaha manusia membangun menara Babel yang tersohor. Peralatannya sederhana dalam perspektif kita, tapi mereka bisa mengerjakannya, karena kita lupa keunggulan tenaga dan penguasaan lapangan mereka. Menara Babel jauh lebih rumit dari bahtera Nuh, berhasil didirikan. Bahtera Nuh secara teknis umum berarti bahtera yang berkotak dan bertingkat. Sederhana sekali. Jadi catatan Alkitab menunjukkan manusia jaman dulu memang peralatan sederhana menurut perspektif kita, namun fakta tak terbantah karya mereka luar biasa dan membuat kita di jaman ini berdecak kagum. Ingat bagaimana piramid di Mesir didirikan? Atau kemegahan Bait Allah? (Markus 13:1). Ditemukan batu besar dan keras sebagai bagian dari bangunan yang berukuran sekitar 2x2, dengan panjang 4 meter. Bagaimana memotongnya rata dan membuatnya seperti sebatang kayu? Atau pembangun gua didinding batu di Petra Jordania yang masuk keajaiban dunia. Memahat bukit batu dan membangun istana di dalamnya. Semua ini terjadi sebelum masehi. Keajaiban alam sekaligus keajaiban tiap jaman memang mengagumkan. Ada banyak keunggulan dulu yang tidak lagi ada di masa kini. Ada yang bisa dibangun jaman dulu, tapi tidak lagi jaman sekarang. Paling tidak, bahannya sudah tak lagi ada tersedia di alam ini. Ini adalah anugerah umum yang Allah berikan pada umat manusia.
Ketiga, soal apakah kitab kejadian dan pembuatan bahtera adalah khayalan si penulis? Penulis kitab Kejadian adalah Musa, putra Israel yang dibesarkan di istana Mesir. Pada waktu itu perempuan Israel melahirkan tanpa pertolongan bidan, karena semua bidan mendapat perintah membunuh bayi yang dilahirkan. Pasti, sulit membayangkan melahirkan tanpa petolongan bidan, dan bukan satu orang. Lagi lagi kejaiban jaman. Musa adalah orang berpendidikan tinggi, terlatih dalam bernalar, produk istana, dia jauh dari khayal menghayal. Dia menulis warisan kisah yang disampaikan secara bertutur dari generasi kegenerasi. Penulis Alkitab lainnya yang melayani sebelum Masehi, namun ratusan tahun setelah Musa, juga mencatat kisah Nuh, yaitu Yesaya (54:9), juga Yehezkiel.
Bukan hanya Musa atau nabi PL yang hidup sebelum Masehi, juga sesudah Masehi, yaitu Tuhan Yesus sendiri mengutip cerita Nuh yang ada di kitab Kejadian (band; Matius 24:37-39, Lukas 17:26-27). Kitab Ibrani menyebut Nuh sebagai orang beriman yang membangun bahtera, yang ada dalam sejarah tentunya, dan bukan khayalan (Ibrani 11:7). Begitu juga dengan rasul Petrus dalam suratnya 2 Petrus 2:5. Jadi bukan hanya Musa penulis kitab Kejadian, tapi para Nabi di PL, rasul d PB, khususnya Tuhan Yesus sendiri mengatakan kebenaran kisah Nuh. Maka jelas kisah Nuh jauh dari khayalan bukan.
Saudaraku Michael yang kekasih di dalam Kristus, Alkitab memang mengagumkam jika diteliti baik-baik. Kebenarannya kuat dan tak tergoyahkan, saling menjelaskan, melengkapi, menguatkan antara kitab-kitab yang berjarak dari ratusan hingga ribuan tahun. Dari PL hingga PB. Ada terlalu banyak data dan fakta sehingga tidak mungkin untuk mengatakan bahwa Alkitab atau kisah didalamnya ada yang kurang akurat, apalagi khayalan. Luar biasa ya Alkitab kita. Terus maju menggali Alkitab, temukan kekayaan iman didalamnya. Semoga jawaban ini boleh menjadi berkat bagi kita semua, khususnya pembaca REFORMATA yang setia. Tuhan memberkati kita.    

Komentar

Top