Pernikahan Sejenis Di Mata Tokoh Gereja Indonesia

Author : Kontributor | Mon, 2 November 2015 - 11:27 | View : 2068
pernikahan-sejenis.gif

Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) pada 26 Juni lalu melegalkan pernikahan sesama jenis (same-sex marriage) di 50 negara bagian melalui keputusan bersejarah yang dimenangkan oleh lima lawan empat hakim di lembaga pengadilan tertinggi itu. Sebelumnya, pernikahan sesama jenis hanya legal di 36 negara bagian negara adidaya itu. Melalui keputusan kemenangan tipis itu, MA mencabut larangan pernikahan sesama jenis yang diterapkan oleh 14 negara bagian. Alasannya tak lain adalah hak asasi manusia dan kesamarataan. Maksudnya, setiap orang harus diperlakukan sama dan dilindungi secara hokum, termasuk dalam hal pernikahan.
Sebenarnya legalitas pernikahan sejenis di antara kaum LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender) ini bukan fenomena baru. Di Belanda para aktivis gay sudah menyuarakan isu ini sejak 35 tahun silam, dan selang 15 tahun kemudian negara akhirnya melegalkannya meski undang-undang yang mengaturnya baru disahkan pada April 2001.UU tersebut bahkan membolehkan pasangan sejenis untuk bercerai dan mengadopsi anak. Tercatat setidaknya sudah 16.000 pasangan sesame jenis yang menikah resmi di sana. Setelah Belanda, menyusul lagi Belgia. Berturut-turut kemudian, sejak 2005 hingga 2015, tercatat sudah  ada 21 negara yang menempuh kebijakan progresif seperti Belanda dan Belgia: Spanyol dan Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia dan Swedia (2010), Portugal, Islandia, dan Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil, Inggris, Perancis, Selandia Baru, dan Uruguay (2013), Skotlandia dan Luxemburg (2014), hingga Finlandia, Slovenia, Irlandia, Meksiko, dan AS (2015). Tahun 2011, Perdana Menteri Belgia terpilih kala itu, Elio de Rupo, bahkan tak malu-malu mengakui bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis.
Sementara Vatikan, sejak dulu hingga kini terus berteriak lantang untuk menolak pernikahan sesama jenis itu. Kaum LGBT dilarang untuk memegang jabatan-jabatan pemimpin di gereja, begitupun jabatan-jabatan di pemerintahan. Tak heran kalau pada pertengahan April lalu, Paus Fransiskus dilaporkan telah menolak pencalonan seorang pembantu dekat Presiden Francois Hollande sebagai Duta Besar Perancis yang baru untuk Vatikan karena calon itu gay. Padahal Laurent Stefanini (54 tahun), seorang Katolik dan diplomat senior serta kepala protokol Hollande, telah dinominasikan pada awal Januari lalu. Namun Vatikan sejak saat itu tidak memberikan tanggapan apakah menyetujui surat kepercayaan atas nama Stefanini. Sebelumnya Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok pemimpin Gereja Roma Katolik yang mengadopsi sebuah garis yang jauh lebih lembut terhadap homoseksualitas dibandingkan pendahulunya, Paus Benediktus XVI. “Jika seseorang gay dan mencari Tuhan dan punya kemauan baik, lalu siapakah saya sehingga harus menghakimi?" kata Fransiskus dua tahun silam. Ia menambahkan, kaum gay tidak harus dipinggirkan tetapi diintegrasikan ke dalam masyarakat.
Yang mengejutkan adalah pernikahan Perdana Menteri Luxembourg, Xavier Bettel (42), dengan seorang lelaki bernama Gauthier Destenay, pertengahan Mei lalu. Bettel tercatat sebagai pemimpin negara anggota Uni Eropa pertama yang menikah dengan sesama jenis. Destenay, seorang arsitek asal Belgia, telah bersama dengan Destenay sejak 2010. Mereka menjadi pasangan gay pertama yang menikah di Lexembourg, negara mayoritas Katolik yang bergabung dengan Uni Eropa paling akhir, dan mendukung penuh hak bagi pasangan sesama jenis.
Pertanyaannya, kenapa sekarang sepertinya isu ini kembali marak menjadi perbincangan? Boleh jadi karena AS adalah negara yang sangat besar pengaruhnya ketimbang negara-negara lain itu, sehingga bukan tak mungkin dampaknya bias meluas kemana-mana hari ini dan esok lusa. Di Negara Paman Sam itu, gereja ada yang digugat karena menolak untuk memberkati pasangan sejenis yang sudah disahkan menurut catatan sipil. Lantas bagaimana di Indonesia?Akankah gereja juga menerimanya?
Refomata menyoroti isu ini bukan dalam rangka menyulut kebencian kita terhadap kaum LGBT. Tidak sama sekali. Kita bahkan harus mengasihi mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita juga, sesama ciptaan yang serupa dengan Tuhan.Namun, soal hubungan seksual dan pernikahan di antara mereka, inilah yang jadi soal.Karena firman Tuhan jelas.“Lalu berkatalah manusia itu: Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:23-24).
Lalu bagaimana sikap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) selaku lembaga gerejawi aras nasional terbesar di negara ini? Sekretaris Umum PGI Pdt Gomar Gultom mengatakan, gereja tidak akan merestui dan memberlakukan perkawinan sejenis karena hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan. “Pada prinsipnya, menurut hukum gereja di Indonesia, perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan. Saya pikir, gereja-gereja di seluruh dunia juga seperti itu,” kata Gomar Gultom (10/7/2015). Ia mengatakan, meskipun perkawinan sejenis di AS dilegalkan, gereja-gereja di negara itu  belum tentu mengesahkan atau merestui perkawinan tersebut. Begitu pula dengan sikap gereja-gereja di Belanda yang negaranya lebih dahulu melegalkan perkawinan sejenis.
Menurut Gomar, AS dan Belanda bisa melegalkan perkawinan sejenis karena di dua negara tersebut perkawinan merupakan ranah pencatatan sipil, berbeda dengan di Indonesia. “Di Indonesia, catatan sipil mencatatkan perkawinan setelah perkawinan dilakukan di lembaga agama. Negara tidak mengakui perkawinan yang tidak dilakukan di lembaga agama,” tuturnya. Padahal, semua agama di Indonesia tidak mengakui perkawinan sejenis. Karena itu, tidak ada jalan untuk melegalkan perkawinan sejenis di Indonesia. “Meskipun gereja tidak akan merestui dan melakukan perkawinan sejenis, saya berpendapat, para pelaku homoseksual tetap harus diakui sebagai manusia dan dilindungi hak-hak hidupnya oleh negara,” katanya.
Terkait isu ini Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), sebagai salah satu gereja tradisional terbesar di Indonesia, sudah bersuara tegas. Diwakili oleh Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Pendeta Henny WB Sumakul, Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Poopoh Pendeta Max Kalesaran, dan Penatua Kaum Bapa Wilayah Tanawangko Dua James Kojongian, mereka mengatakan bahwa gereja menolak, menentang kebijakan tersebut serta mengimbau jemaat GMIM untuk menghindari hal seperti itu dan menjaga perkawinan normal sesuai perintah Tuhan (5/7/2015).
Menurut Sumakul, pendekatan agama sangat penting. Inilah yang menjadi dasar orang untuk tidak melakukan hal yang buruk seperti penyimpangan seksual. “Yang jelas kami menolak perkawinan sesama jenis. Kita diciptakan berpasangan, perempuan dan laki-laki, sesuai Kitab Suci Perjanjian lama telah jelas tertulis beranak-cuculah,bertambah banyak dan penuhilah bumi,” ujarnya.
Lantas, bagaimana sikap Pemerintah Indonesia? Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pertengahan Juli lalu menegaskan, bahwa Indonesia tidak akan mengakui perkawinan sesama jenis karena hal tersebut bertabrakan dengan pemahaman agama. “Sesuai Pancasila, utamanya Sila Pertama, negara hanya mengakui pernikahan yang dilakukan menurut hukum agama sebagai dasar pembentukan keluarga. Untuk itu, Pemerintah berupaya memperkuat eksistensi lembaga perkawinan dan pelestarian nilai-nilai perkawinan sebagai hal yang suci dan terhormat, serta perlu ditingkatkan kualitas dan ketahanannya seiring dengan kemajuan masyarakat. Karenanya, maka isu kebebasan yang diusung oleh kalangan yang menamakan dirinya LGBT tidak dapat diterima dalam masyarakat Indonesia yang beragama.”

Ephorus HKBP Willem T.P. Simarmata, MTh:  “Ini adalah Ancaman yang Berbahaya bagi Gereja-gereja”
Pada awal Juli lalu, Reformata berkesempatan mewawancarai Pdt Willem T.P. Simarmata, MTh, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), gereja Protestan terbesar di Indonesia. Berikut petikannya:

Apa sikap HKBP terhadap isu pernikahan xejenis?
HKBP dengan keras menolak pernikahan sejenis.Yang diciptakan Tuhan adalah laki-laki dan perempuan dan keduanya yang diberkati Tuhan melalui gerejanya untuk menjadi suami-isteri. Kalau sejenis, siapa di antara mereka yang menjadi suami dan siapa yang menjadi isteri. Pemahaman kita adalah bahwa Tuhanlah yang merencanakan dan menetapkan pernikahan itu, karenanya pernikahan itu adalah kudus. Memang di dalamnya ada cinta, ada seks yang diizinkan oleh Tuhan sebagai bahagian dari berkat Tuhan. Maka cinta, pernikahan dan seks adalah tiga hal yang tidak terpisahkan.

Mengapa gereja, termasuk HKBP, harus bertahan untuk menolak pernikahan sejenis? Alasannya secara Alkitabiah?
Pada Sidang Raya LWF (Lutheran World Federation) tahun 2006 di Winnipeg Kanada pun, HKBP melawannya dengan keras. Juga pada Sidang Raya UEM (United Evangelical Mission) di Wuppertal, Jerman, tahun 2014, dalam rapat tertutupnya HKBP melawannya dengan keras. Gereja-gereja di Indonesia dan Asia hendaknya jangan kendor dalam sikap ini. Ini adalah ancaman yang berbahaya bagi gereja-gereja. Kalau pun disebut ketinggalan zaman, HKBP tetap bertahan dalam sikap itu dan tetap melawan pernikahan sejenis.

Kalau pasangan sejenis itu mengadopsi anak, kira-kira apa dampak negatifnya ke depan, juga dampak negatifnya bagi rumah-tangga, khususnya di Indonesia?
Saya sarankan kepada parlemen supaya membuat undang-undang yang melarang adopsi seperti itu. Hendaknya UU di Indonesia juga tidak memberi peluang mensahkan perkawinan sejenis. Kiranya pemerintah pun kita sarankan untuk tidak mengesahkan perkawinan sejenis di Indonesia. Dengan  memberi izin seperti itu maka pemerintah melakukan  pelecehan bagi keluarga dan rumah-tangga yang benar di dalam gereja dan di masyarakat. Anak-anak pun harus dilindungi dari upaya mengadopsi dengan cara itu. Gereja harus berada dalam garis depan untuk melindungi anak-anak dalam hal rencana adopsi seperti itu. Akhirnya saya menyarankan kita untuk membaca kembali Kejadian 1:27 dan Kejadian 2:24. []


Direktur Institut Konseling LK3 Julianto Simanjuntak: “Bisa Merusak Hubungan antara
Keluarga dan Kekerabatan”
Sebagai pendiri dari Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3) sejak 2002, Pendeta Julianto Simanjutak telah banyak makan asam-garam dalam memberikan layanan terapis kepada keluarga-keluarga bermasalah. Berikut petikan wawancaranya di seputar isu pernikahan sejenis:  
Mengapa gereja harus bertahan untuk menolak pernikahan sejenis? Alasannya secara Alkitabiah?
Rancangan penciptaan manusia adalah untuk mengelola bumi. Tuhan merancang keselamatan bagi manusia dengan mendirikan lembaga keluarga menjadi mitranya menyelamatkan manusia. Juru Selamat akan hadir dan lahir di dunia ini lewat sebuah keluarga, Yusuf dan Maria. Untuk menebus kesalahan yang dilakukan keluarga Adam dan Hawa. Untuk itu Allah meminjam rahim Maria untuk melahirkan Yesus. Untuk itu Tuhan sudah memilih keluarga Abraham, Daud hingga keluarga Yusuf dan Maria. Jadi sejak awal Tuhan menetapkan memberkati manusia di dalam dan melalui keluarga, melahirkan anak-anak Ilahi dari seorang laki-laki dan perempuan. Karena sejak awal manusia jatuh dalam dosa ada kecenderungan melanggar apa yang Tuhan tetapkan, pernikahan laki dan perempuan, maka hukuman dinyatakan langsung maupun tidak langsung. Sodom dan Gomora misalnya.Tidak pernah ada tempat pernikahan antara laki dan laki, atau perempuan dengan perempuan dalam kitab suci.

Kira-kira apa dampak negatifnya bagi rumah-tangga ke depannya jika pernikahan sejenis terjadi, khususnya Indonesia?
Secara nilai agama warga masyarakat Indonesia masih memegang teguh pernikahan laki dan perempuan. Semua agama resmi Indonesia memiliki doktrin yang sama. Secara kebudayaan masih memegang teguh nilai agama sebagai pijakan. Hal yang sama produk hukum negara masih mendukung nilai agama yang ada. Dengan memaksa pernikahan sejenis, maka bisa merusak hubungan antara keluarga dan kekerabatan. Sebab masih menimbulkan rasa malu. Masalah ini masih dianggap aib yang mengancam kehormatan nama baik keluarga. Tak jarang jadi bahan gosip hingga disingkirkan dari komunitas sosial dan pelayanan di gereja. Ini bisa menimbulkan luka karena penolakan, disalahmengerti hingga dibuang dari dukungan sosial keluarga dekat

Kalau pasangan sejenis itu mengadopsi anak, kira-kira apa dampak negatifnya ke depan?
Status anak di sekolah akan menjadi bahan pembicaraan di antara guru, murid hingga orangtua murid. Anak akan menjadi bahan ejekan, karena tidak punya keluarga asal yang jelas seperti teman-temannya. Menimbulkan luka, rasa minder, dan mungkin ditolak di sekolah tertentu karena status pernikahan orangtuanya tidak jelas.

 

 

 

 

 

 

Rohaniawan Katolik dan Ortodoks Koptik “Pernikahan Sejenis tidak Sesuai Prinsip Kristiani”
Rohaniwan Katolik Pastor Benny Susetyo, saat dihubungi Reformata (09/07/2015), mengatakan bahwa legalisasi pernikahan sejenis sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Kristiani. Menurut pastor yang akrab disapa Romo Benny ini, pernikahan sejenis menyalahi kodrat manusia yang diciptakan Tuhan secara berpasangan, yaitu laki-laki dan perempuan. Pernikahan dalam pandangan Katolik merupakan buah dari prokreasi antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, pernikahan sejenis bertentangan tentang penciptaan manusia oleh Tuhan karena akan mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan.      
Pernikahan sejenis akan menghilangkan makna keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Anak yang hidup dalam keluarga dari orangtua sejenis akan kehilangan figur ayah atau ibu. Lebih lanjut Romo Benny mengatakan bahwa legalisasi di AS tersebut lebih kental dengan nuansa politis, seperti yang diketahui saat ini tampuk kekuasaan berada di pundak Partai Demokrat yang pada saat kampanye sudah menjanjikan mengenai legalisasi ini. “Ini kan persoalan norma, persoalan politik, gitu loh. Kalau Demokrat (Partai Demokrat-red) akan mengakui hal itu karena janji kampanyenya, dan orang-orang Gay (LGBT) di Amerika itu punya pengaruh di bidang keuangan dan finansial. Sedangkan Partai Republik yang berpegang pada norma moral pasti akan menolaknya,” ujar Romo Benny.
Seperti yang sudah dikatakan di atas bahwa dasar dari legalisasi pernikahan sejenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (SCOTUS) adalah kesetaraan hak hidup kaum LGBT. Romo Benny menjelaskan bahwa hak asasi itu menyangkut hak seseorang untuk mendapatkan perlakuan yang yang sama oleh negara. Namun berbicara pernikahan, agama punya argumentasi teologis dan argumentasi tersebut tidak bisa direduksi oleh pelbagai kepentingan yang bertentangan dengan pemahaman Alkitabiah. Gereja Katolik memang dengan tegas menolak pernikahan sejenis karena tidak sesuai dengan ajarannya. Namun Romo Benny juga menegaskan bahwa orang-orang LGBT itu bukan untuk dijauhi, namun harus dibina kembali dan tidak boleh dikucilkan.
Seperti Sodom dan Gomora
Senada dengan Romo Benny Susetyo, seorang pastor dari Gereja Ortodoks Koptik asal Australia, Father Youhanna Bestawros, yang ditemui Reformata (06/07/2015) saat berkunjung ke Jakarta mengatakan bahwa legalisasi tersebut sangat bertentangan dengan pemahaman Firman Tuhan.
Ia menilai bahwa gereja melalui para rasulnya telah mengajarkan bahwa pernikahan itu sebagaimana yang ada di kitab suci bahwa hanya bisa dilaksanakan oleh pria dan wanita saja. Dicontohkan bahwa Tuhan pernah menghukum  kota Sodom dan Gomora. Hal ini menjadi ‘cermin’ tatkala keteraturan dari prinsip-prinsip yang diatur dalam Firman Tuhan dilanggar oleh manusia. Cerita tentang apa yang menimpa kota Sodom dan Gomora menjadi perumpamaan tentang bejatnya moral yang harus dibayar dengan dibinasakan para pendosa dari muka bumi dengan hujan belerang dan api.
Dari kisah Alkitab ini kemudian lahirlah istilah sodomi. Menurut tafsir keagamaan, baik itu Yahudi, Kristen, maupun Islam, sodomi menjadi standar dari ‘bobrok’-nya moral seorang manusia. Father Youhanna Bestawros bercerita bahwa baru-baru ini di Taiwan puluhan orang yang sedang berpesta terbakar, orang-orang tersebut merupakan komunitas LGBT. Ia menilai bahwa hal tersebut merupakan cara Tuhan menegur umatnya yang sudah melampaui batas dalam menjalani hidup. Ketika ditanya mengenai benturan antara kesetaraan hak LGBT dan faham agama, Father Youhannna menjawab bahwa dalam agama ada prinsip yang harus ditaati, dan prinsip tersebut ada di kitab suci. Prinsip-prinsip yang ada di dalam kitab suci menurut Father Youhanna haruslah berdiri di atas prinsip yang lainnya termasuk keputusan politis.  
          ?Nick Irwan

Komentar

Top