Gracia Paramitha, Puteri Lingkungan Hidup 2002 Peduli Sampah Hingga Pendidikan

Author : Ronald | Wed, 4 November 2015 - 10:04 | View : 932
17052014-lingkungan.jpg

Sejak usia remaja Gracia Paramitha yang akrab disapa Grace, memang telah menaruh minat pada ilmu pengetahuan dan menunjukan kepeduliannya terhadap lingkungan. Minat tersebut dituangkan dengan keikutsertaannya dalam Kelompok Ilmiah Remaja. Pengalaman pertama  dibidang lingkungan berawal ketika dirinya menggagas manajemen sampah, sewaktu ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Grace mengakui, bukanlah sebuah upaya yang mudah untuk mengajak teman-teman sebayanya dalam menjaga kelestarian lingkungan, terlebih saat itu isu lingkungan hidup masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Tetapi semangat yang dimilikinya menjadi modal utama untuk menularkan nilai-nilai positif kepada orang-orang disekitar.
Berkat buah pikirannya dalam menyulap sampah organik menjadi kompos,  dara manis yang ketika itu masih berstatus sebagai siswi di SMPK Petra Surabaya terpilih sebagai Puteri Lingkungan Hidup pertama ditahun 2002, melalui ajang seleksi yang diadakan oleh Tunas Hijau, sebuah organisasi lingkungan hidup yang bermarkas di Jawa Timur.  “Yang menarik menurut saya adalah, wakitu itu belum ada kontes semacam Beauty Pageant yang lebih mengutamakan karya ke masyarakat, atau kontribusi yang diberikan. Jadi Tunas Hijau tidak memilih berdasarkan kriteria kecantikan atau fisik semata, justru yang diutamakan berdasarkan apa telah mereka (kontestan) kerjakan. Sampai saat ini Tunas Hijau masih konsisten bikin pangeran dan puteri lingkungan hidup ke-13, dan saya sempat dipercaya untuk menjadi tim penilainya,” tutur Grace waktu berbincang dengan Reformata disebuah pusat kuliner yang terletak di Jakarta Timur (5/8). Saat itu Grace datang mengenakan kemeja putih dengan motif dedaunan hijau, seakan mempertegas kecintaannya terhadap alam dan lingkungan.
Sejak terpilih sebagai duta Lingkungan Hidup, aktivitas gadis kelahiran Surabaya, 3 April, 26 tahun silam ini  semakin padat. Hal ini sangat disyukuri karena telah memberinya kesempatan untuk menambah pengetahuan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Prestasi seakan tak henti diukir oleh sulung dari tiga bersaudara ini. Pada tahun 2007, Grace terpilih menjadi finalis Gadis Pantene.  Ditahun tahun 2011, ia juga dipercaya sebagai duta dari UNEP Tunza Youth Advisory Council on Asia Pacific Region, sebuah badan lingkungan hidup yang dinaungi oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain sebagai seorang aktivis lingkungan, Grace terlibat aktif sebagai sekretaris di Indonesian Community Network dan ikut menjadi pioneer berdirinya Indonesian Youth Diplomacy (IYD). “Indonesian Youth Diplomacy sendiri adalah wadah bagi anak muda yang mau belajar tentang negisoasi, dilpomasi, dan berjejaring secara internasional. Kita punya program unggulan namanya Y20 Summit, jadi ini program prestisius dibawah secretariat G20, khusus diplomasi pemuda dari 20 negara,” ujar lulusan dengan predikat Cum Laude dari Universitas Airlangga, Surabaya, ini. Lewat program IYD inilah, ia kerap dikirim keluar negeri untuk didapuk menjadi pembicara disejumlah ajang tingkat internasional.
Impian demi impian kian terwujud. Pada tahun 2012, Grace mendapatkan penghargaan The Distinguish Parliamentarian, sebuah lomba sidang seputar air. Berkat anugerah Tuhan juga ia mendapatkan kesempatan untuk menjalani Summerschool di Amerika Serikat dan Jerman. Mungkin sudah tak terhitung jumlah negara yang telah dikunjungi dan prestasi yang telah dicapainya.

Menjadi Anugerah
Bagi Sesama
Penyertaan Tuhan adalah bagian terpenting dalam kehidupan dan pencapaian yang diraih oleh setiap orang. Inilah yang dirasakan Grace didalam perjalanan hidupnya. Grace pun mengenang arti dibalik nama yang diberikan kedua orangtua kepadanya. “Setiap pagi saya selalu terbangun dan bersyukur lewat nama saya. Ada cerita tersendiri dibalik nama saya yang memiliki arti ‘anugerah’. Walau ibu saya sempat divonis mandul, akhirnya  pada tahun 1989 saya lahir setelah dua tahun penantian. Mereka memberikan saya nama ‘Grace’ dengan harapan agar saya dapat menjadi berkat bagi banyak orang dikemudian hari,” tutur jemaat GKI Cawang, ini. Lulusan Pascasarjana hubungan Internasional Universitas Indonesia ini juga menambahkan bahwa ia pernah berulangkali gagal dalam meraih beasiswa, namun tak dipandang sebagai sebuah penghalang untuk terus mencoba dan berpikir positif. “Yang membuat saya merasa sangat beryukur lagi adalah ,Tuhan itu selalu memberikan segala sesuatu itu indah pada waktunya,” katanya sambil mengutip Pengkhotbah 3 ayat 11.
Saat ini Grace berkarya sebagai seorang dosen muda di London School of Public Relations, Jakarta, mengikuti jejak kedua orangtuanya yang telah lebih dahulu menekuni profesi yang sama. Ia masih memendam harapan untuk melanjutkan studinya pada sebuah universitas kenamaan di Inggris. Kecintaan pada dunia pendidikan ini juga yang mendorong hatinya untuk menjalankan sebuah misi mulia dikemudian hari nanti. “Saya ingin bikin sekolah tentang diplomasi dan lingkungan, dan targetnya ingin ke kaum disabilitas. Ini karena saya sudah beberapa kali ketemu mereka, dan mereka ga pernah mendapatkan pelatihan seputar negosiasi, atau tentang negara. Jadi selain memberikan akses kepada anak muda yang umum (normal), justru saya ingin untuk memberikan kesempatan lebih lagi ke kaum disabilitas. Mimpinya gede, tapi saya selalu optimis dan percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan segala sesuatu itu indah pada waktunya,” kata Grace menyudahi perbincangan.                                     ?Ronald.

Komentar

Top