Lagi, Gereja Pakpak Dairi Terbakar Di Aceh Ada Kesengajaan?

Author : Nick Irwan | Wed, 4 November 2015 - 09:57 | View : 625

Aliansi Sumut Bersatu di laman akun Facebooknya merilis kronologi terbakaranya Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) di desa Madumpang, Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam. Organisasi sosial yang sering menyuarakan pluralisme tersebut mempostingan di jejaring sosialnya pada tanggal 18 Agustus 2015. Reformata kemudian mencoba mencari tahu perkembangan dari kejadian  yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Reformata mencoba meminta keterangan dari Pendeta Domeniktus Padang, S.Th. Pendeta Ressort Keras Kabupaten Aceh Singkil itu pun membenarkan bahwa telah terjadi kebakaran di GKPPD Mandumpang pada tanggal 18 Agustus 2015 sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Kejadian yang diduga dilakukan dengan sengaja oleh kelompok-kelompok yang selama ini mengiginkan kekacauan di daerah itu, sampai dengan tanggal 24 Agustus 2015 pukul 18.00 WIB belum mendapat titik terang. Temuan sebuah rencong tepatnya dibelakang gereja yang diduga adalah milik seseorang yang kemungkinan membakar gereja GKPPD Mandumpang  oleh pihak kepolisian Aceh Singkil yang disaksikan oleh beberapa jemaat GKPPD Mandumpang seakan meyakinkan asumsi bahwa ada unsur kesengajaan dari terbakarnya gedung gereja tersebut, terlebih ada kesaksian dari beberapa warga yang melihat adanya mobil yang mencurigkan ketika kejadian GKPPD terbakar. Lambatnya pihak keamanan dan pemerintah setempat guna mencari titik terang tersebut sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Saat ini pihak GKPPD beserta umatnya hanya bisa berharap kepada pihak Pemerintah Daerah Singkil, Aceh dan pihak Kepolisian untuk menelusuri penyebab gereja mereka terbakar. Api terlihat berkobar di rumah ibadat itu pertama kali diketahui oleh salah seorang jemaat GKPPD ketika terbangun dimalam hari untuk menganti popok anaknya. Hal ini sama seperti yang tertulis dalam postingan akun facebook Aliansi Sumut Bersatu tertanggal 22 Agustus pukul 19:27, berikut ini kronologis pembakaran GKPPD Mandumpang.
• Sebelum peristiwa kebakaran diketahui, seorang ibu bernama L Br C jemaat GKPPD Mandumpang yang tinggal disamping gereja terbangun karena harus mengganti celana bayinya. L br C mendengar suara anjing yang menggongnggong dengan keras diluar rumah (jarak rumah ke gereja sekitar 30 meter), kemudian L br C membangunkan suaminya bernama KM untuk melihat apa yang terjadi diluar. Kemudian KM keluar rumah dan melihat kobaran api menyala-nyala membakar bagian belakang gereja.
• KM kemudian membangunkan keluarga / anak-anak dan mengevakuasi mereka keluar dari rumah karena khawatir api akan menjalar kerumahnya. Kemudian Bapak KM langsung menuju rumah Pak Gecik (kepala desa) Mandumpang sdr.Naikman Cibro ( lebih kurang berjarak 500 m) untuk melaporkan kebakaran tersebut. Setelah itu Bapak KM langsung kembali kerumah dan melihat gereja sudah habis dilahap api.
• Masyarakat yang sebagian besar adalah Jemaat GKPPD Mandumpang kemudian mendatangi lokasi gereja. Di halaman depan gereja, Jemaat GKPPD Mandumpang: Bapak Sahara Bancin, Ningrat Bancin, Lulu Cibro, Darwin dan Sunggul Padang melihat ada jejak ban sepeda motor yang masuk dari aspal menuju samping kanan gereja kearah pohon rambutan. Selain masyarakat dan jemaat, polisi dan pemadam kebakaran 2 unit juga mendatangi gereja yang bangunannya tinggal puing dan arang. Setelah bara api dipadamkan, kepolisian membuat garis polisi (police line) dilokasi gereja yang terbakar.
• Kemudian di pagi harinya sekitar pukul 10.21 wib, pihak kepolisian dari Polres Aceh Singkil disaksikan oleh beberapa jemaat GKPPD Mandumpang menemukan sebuah rencong tepatnya dibelakang gereja yang diduga adalah milik seseorang yang kemungkinan membakar gereja GKPPD Mandumpang. Alat bukti rencong terbut saat ini telah diamankan oleh Kepolisian Ressort Aceh Singkil.
• Saat ini GKPPD Mandumpang memiliki jemaat 87 KK dan 359 jiwa dengan luas gereja 6 X 19 meter. Seluruh gedung gereja terbakar habis bersama dengan barang-barang inventaris, yaitu : Meja 3 buah, Kursi panjang 60 buah, Kursi plastik 40 buah, Kursi Chitos 10 buah, Sound system lengkap (mikropon 3 buah ,ampli dan loudspeaker 2 bh), Keyboard 1 buah, Lemari inventaris 1 buah, Baju Toga 6 buah, Tempat Mimbar 2 unit, Kipas angin 6 buah, Meteran Listrik 2A, Bola lampu 9 buah, Tempat persembahan 4 buah, Jam dinding 2 buah dan Papan Tulis (White Board) 2 buah, dispenser 1 buah.
• Rabu, 19 Agustus 2015, sekitar pukul.10.00 Pimpinan Pusat GKPPD (Gereja Kristen Pakpak Dairi) Pdt. Elson Lingga dan rombongan mendatangi lokasi gereja dari Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara untuk memberikan penguatan kepada jemaat dan majelis gereja, sekaligus meminta aparat kepolisian untuk menyelediki penyebab kebakaran gereja GKPPD Mandumpang. Beberapa saat kemudian sekitar pukul 16.00 wib Bupati Aceh Singkil juga mendatangi dan melihat lokasi kejadian.
• Kamis 20 Agustus 2015, Kepolisian Ressort Aceh Singkil memanggil 3 orang Jemaat GKPPD Mandumpang (Bapak Jambi Padang, Bapak Kasbun Manik, Bapak Damiron Bancin ) untuk dimintai keterangannya terkait dengan kebakaran gereja GKPPD Mandumpang. Pada saat pemeriksaan, 3 orang Jemaat GKPPD Mandumpang menginformasikan bahwa sesaat setelah peristiwa kebakaran mereka melihat sebuah mobil mini bus avanza berwarna hitam keluar dengan kecepatan tinggi dari kebun sawit diseberang halaman gereja yang berjarak sekitar 100 meter. Hal tersebut kemudian dilaporkan kepada BABINSA untuk dikejar. Pada hari yang sama, 3 orang dari gabungan aparat kepolisian Polda Sumatera Utara dan Polda Aceh juga mendatangi lokasi kebakaran gereja untuk melakukan penyidikan.
• Sehubungan dengan hal tersebut, jemaat dan majelis gereja GKPPD Mandumpang saat ini merasakan kecemasan, tidak bisa beribadah di gereja dan umat Kristen di Aceh Singkil juga khawatir bahwa peristiwa ini akan terjadi di gereja-gereja yang lain karena di duga kuat bahwa gereja tersebut adalah sengaja dibakar oleh oknum-oknum tertentu. Maka jemaat, majelis gereja dan pimpinan pusat GKPPD serta umat Kristen di Aceh Singkil menunggu kepastian hasil penyidikan kepolisian dan mengungkap pelaku pembakaran gereja sehingga diharapkan peristiwa serupa tidak terulang kembali dan setiap orang dapat menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing sebagaimana dimandatkan dalam konstitusi UUD 1945 Pasal 28 dan Pasal 29.
• Gereja GKPPD Mandumpang dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1979 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 5 gereja lainnya di Aceh Singkil juga pernah dibakar. Dan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2012 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 19 rumah ibadah lainnya juga disegel oleh Pemerintah Aceh Singkil. Kejadian intoleransi seperti ini sudah sering menimpa umat GKPPD di Singkil, Aceh. Berdasarkan keterangan dari Pendeta Ressort Kuta Karangan, Aceh, Pendeta Erde Berutu, S.T.h di laman facebooknya, pada tahun 1979 GKPPD Mandumpang adalah salah satu rumah ibadah yang dibakar, kembali di tahun 1999 usaha pembakaran kembali dilakukan, hanya saja terbakar di bagian pintunya karena jemaat setempat memergoki tindakan kriminal tersebut. Dari berbagai sumber yang dihimpun Reformata tercatat bahwa pada tanggal 1, 3, 5 dan 8 Mei 2012 Tim Monitoring yang dibentuk oleh pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melakukan penyegelan 20 rumah ibadah. Adapun daftar 20 rumah ibadah yang telah disegel tersebut terdiri dari 10 Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), 4 Gereja Katolik, 3 Gereja Misi Injili Indonesia (GMII), 1 Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI), 1 Gereja Jemaat Kristen Indonesia (JKI) dan 1 Rumah Ibadah Agama Lokal (Aliran Kepercayaan) Pambi.  Realitas seperti ini  seakan kontras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sejak dulu sering digaung-gaungkan oleh para pendiri Republik ini. Hak masyarakat atas jaminan kebebasan beribadah sesuai agama dan keyakinan tidak terpenuhi bahkan sengaja dirampas oleh pengambil kebijakan di daerah itu. Hal ini bertentangan dengan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia Undang-undang Dasar 1945 khususnya Pasal 28 dan 29 dan melanggar UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia khususnya Pasal 4 dan 22.  ?Nick

Komentar

Top