Bantu Anak Dengan Cara Yang Tepat

Author : Bimantoro | Sun, 27 November 2016 - 14:55 | View : 1184
bantu-anak-dengan-cara-yang-tepat.jpg

Saya mohon saran tentang bagaimana seharusnya saya membantu anak saya. Saya mempunyai 3 anak perempuan usia 24, 23 dan 21. Dua anak saya sudah lulus kuliah dan yang bungsu sedang menyelesaikan skripsi. Masalah saya ada di anak yang pertama yang sejak dulu memang selalu dibantu dalam banyak hal termasuk menentukan kuliah, sementara kedua adiknya sangat mandiri dan kami tidak terlalu kuatir dan merasa yakin bahwa kedua adiknya tidak akan menemui kesulitan dalam hidup. Kami sangat bersyukur, dengan kerja keras mendampingi, dia bisa lulus dengan nilai pas-pasan. Sekarang sudah setahun ini dia tidak memiliki pekerjaan tetap, Diminta membantu usaha orang tua tidak mau, sementara berusaha kerja sendiri juga selalu gagal (tidak diterima), pernah diterima hanya bertahan satu bulan dengan alasan suasana kerja tidak enak. Anak saya maunya pekerjaan yang bisa memberi kesempatan jalan jalan keluar negeri. Kami sadar dengan latar belakang pendidikan dan nilai kelulusan, rasanya sulit bagi dia mendapatkan pekerjaan yang pekerjaan dan penghasilannya sesuai harapan dia. Secara finansial kami mampu tetapi melihat dia menganggur dan tidak ada usaha untuk cari kerja rasanya jadi mengganggu. Mohon sarannya.
OG di Jakarta.

Yang terkasih ibu OG, rasanya memang tidak terlalu mudah melihat realita kehidupan yang ibu sedang alami. Disatu sisi sebagi orang tua tentunya kita berharap anak-anak bisa segera mandiri, dan untuk itu kita tentu akan melakukan segala hal untuk membantu anak kita, agar bisa maju dalam kehidupannya. Upaya kita akan lebih keras ketika kita menyadari bahwa anak tersebut kita rasakan lebih perlu bantuan dan dukungan dibandingkan anak-anak lainnya. Dari apa yang ibu sampaikan saya menangkap bahwa anak ibu memiliki keinginan untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa dia bisa mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang tua, hal ini di tunjukkan dengan penolakan untuk bekerja di perusahaan orang tua. Namun keinginan anak yang baik ini ternyata menemui hambatan saat dia tidak berhasil mendapatkan pekerjaan atau dia gagal menyesuaikan harapan dan kemampuannya. Jadi saya menduga anak ibu saat ini sedang bergumul antara membuktikan dirinya bisa hidup tanpa dukungan orang tua dan realita hidup yang sedang dia alami. Berhadapan dengan anak yang sedang bergumul, saya mau mengajak ibu memikirkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Melihat usia anak yang sudah dewasa, maka kita perlu membantu dengan cara yang tepat. Saya percaya harapan ibu dan suami supaya anak bisa mandiri adalah harapan yang baik, untuk itu bantuan kita tentunya harus mengarah ke kemandirian anak. Dalam bagian ini, kita perlu memikirkan bantuan apa yang tepat yang bisa mengembangkan kemandirian anak kita. Kalau selama ini kita membantu secara penuh, maka kita perlu melatih dia untuk secara perlahan bisa memiliki keterampilan social yang diperlukan agar dia secara perlahan bisa mulai mandiri dan tidak lagi memiliki ketergantungan yang besar dengan orang tua. Misal dengan perlahan-lahan mengurangi dukungan financial yang diberikan. Manusia akan menjadi sulit berubah ketika dirinya tidak ada dalam krisis. Ada kemungkinan anak ibu kerja-tidak kerja kehidupannya tetap nyaman dan tercukupi, dalam kondisi seperti itu maka dorongan untuk dia belajar mandiri mungkin akan tidak terlalu kuat. Jadi mungkin secara perlahan perlu dipikirkan konteks hidup yang membuat dia berada dalam krisis tertentu.
2. Hal kedua adalah prinsip “wait to be needed” (menunggu saat dibutuhkan). Ada orang tua, karena tidak ingin anaknya mengalami masalah, tergoda untuk selalu berinisiatif dan selalu menolong anaknya. Orang tua seperti ini kemudian membangun pemikiran bahwa anak saya perlu ditolong dengan cara saya. Mereka akan menjadi cemas ketika anak tidak menunjukkan pola hidup yang sesuai dengan cara mereka. Ketika usia anak masih kecil, pola seperti ini mungkin tidak terasa konfliknya, karena anak masih takut dengan orang tua dan cenderung menurut. Hal ini akan berbeda dengan usia anak yang sudah dewasa. Anak yang sudah dewasa akan merasa terganggu ketika orang tua terkesan terlalu memaksakan kehendak. Ketika kehendak orang tua dan anak berbeda maka akan timbul pemberontakan dengan cara yang berbeda-beda. Ada anak yang memberontak dengan cara yang agresif entah itu konflik terbuka atau menunjukkan ketidak sukaan secara terus terang, ada juga yang kemudian selalu melakukan apa yang tidak disukai orang tua, tetapi ada juga memberontak dengan pasif dan cenderung tidak melakukan apa apa. Dalam point ini, untuk menghindari potensi konflik perlu dikerjakan strategi menunggu sambil terus kita amati perkembangan anak kita. Memang perlu dibangun rasa tega yang akan membuat kita tidak terburu-buru membantu saat anak kita menghadapi kesulitan. Dalam proses belajar tentunya pengalaman adalah guru terbaik, jadi biarkan anak kita mengalami kesulitan dalam hidup yang akan memampukan dia menjadi mandiri.
3. Kita (orang tua) perlu belajar untuk percaya bahwa Allah yang kita kenal dalam Tuhan kita Yesus Kristus memiliki rencana bagi kehidupan anak kita. Selain mempersiapkan keterampilan untuk hidup mandiri, kita harus terus menerus memperkenalkan iman percaya kita pada anak-anak kita. Iman percaya ini bisa dilihat dari kehidupan doa kita. Sebagai orang tua, tentu kita akan mengupayakan berbagai cara demi anak-anak kita bisa mandiri, namun apakah kita juga mendoakan mereka, termasuk mendoakan diri kita supaya apa yang kita kerjakan bisa sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita, bukan hanya untuk mandiri tetapi yang terutama mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Amsal 22: 6 mengatakan “Didiklah  orang muda menurut jalan yang patut baginya,  maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Jadi tujuan kita bukan sekedar untuk anak-anak bisa hidup mandiri, tetapi bagaimana iman percaya kita kemudian dihidupi oleh mereka. Dalam point ini saya ingin mengajak ibu untuk berdoa mohon hikmat dalam menentukan strategi yang baik juga mengerjakan dengan cara yang tepat. “Good intention does not always have a good effect” (maksud baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik). Kehidupan anak-anak bukan hanya dipengaruhi oleh kita (orang tua), ada nilai-nilai hidup yang di perkenalkan oleh teman dan juga masyarakat yang belum tentu sesuai dengan firman Tuhan. Oleh sebab itu perlu dipelihara hubungan yang personal dan hangat dengan anak-anak kita. Memasrahkan segala upaya kita kedalam tangan Tuhan serta percaya bahwa Tuhan juga akan membantu mereka mencapai kemandirian, akan membuat kita tenang dan tidak terjebak dalam kekuatiran yang berlebihan, dengan demikian relasi kita dengan anak-anak diharapkan dapat lebih hangat tanpa harus ada tekanan-tekanan, yang muncul sebagai akibat kekuatiran, yang dapat menimbulkan konflik antara kita dan anak-anak kita.
Semua yang disampaikan adalah hasil dari dugaan sesuai informasi terbatas yang ibu sampaikan. Untuk lebih memahami pergumulan yang ibu hadapi, bantuan dari konselor, akan bisa membantu ibu,  keluarga dan anak dalam mengambil keputusan tentang dilema ini. Lifespring Counseling and Care Center bisa membantu ibu dan keluarga dalam melihat pergumulan ibu dari berbagai sisi, sehingga ibu dan keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat. Hubungi kami di 021-30047780 untuk membuat perjanjian konseling.
Tuhan memberkati
Bimantoro

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

 

Komentar

Top