Hidup ini sungguh tak memiliki kepastian apapun. Semua hanya kemungkinan-ke-mungkinan yang tidak bisa diandalkan. Aneka analisis di-luncurkan, namun semua berakhir pada kira-kira. Ketidakpastian adalah sebuah kewajaran dalam dunia yang sementara, dunia di mana manusia hidup sebagai makhluk yang terbatas oleh ruang dan waktu. Namun demikian, ketidakpastian karena keterbatas-an adalah hal yang dibenci oleh manusia yang selalu bercita-cita ingin menjadi “tuhan atas dunia”. Ambisi menjadi penguasa dunia bahkan mendorong manusia untuk angkat senjata “melawan Allah”.
Manusia bermaksud untuk meng-kudeta dunia, manusia tak segan “menyingkirkan Allah”. Segala usaha dilakukan, mulai dari; teologi liberal, filsafat, psikologi hingga “logi-logi” lainnya. Keberadaan Allah digugat, kedaulatan-Nya dipinggirkan, hukum-hukum-Nya dieleminasi lewat sejuta dalih. Namun, semakin Allah disingkirkan, semakin gelap jalan kehidupan ini. Penemuan demi penemuan manusia ternyata tak pernah berujung, bahkan selalu diikuti oleh efek negatif yang tidak terhindar-kan. Semakin hari, ketika manusia merasa semakin kuat, justru makin tampak manusia sangat rapuh. Di perjalanan hidup, dunia selalu dilanda berbagai krisis yang datang silih berganti. Anehnya, berbagai krisis datang, terjadi, diatasi, namun manusia tak pernah lulus untuk meniadakan krisis itu. Manusia seakan tak pernah cukup waktu untuk belajar. Kali ini, dalam peranjakan waktu menutup tahun 2008, dan me-nyongsong tahun 2009, lagi-lagi dunia dilanda krisis.
mengapa semua ini terjadi. adakah Tuhan sedang berbicara dibalik krisis ini? Simak bagaimana Pdt.Bigman Sirait mengulas soal krisia ini dalam REFORMATA edisi 98