Sudut Pandang (SUP)

Gereja Yang Mempersatukan

Penulis : Pdt Bigman Sirait |

Bukankah mereka semua orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita, tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Kalimat ini, merupakan cuplikan dari peristiwa Pentakosta di Kisah Para Rasul 2:1-13, berisi keka-guman banyak orang dari banyak bahasa, namun mengerti bahasa para rasul, dalam bahasa mereka sendiri. Ya, peristiwa Pentakosta dalam konteks ini, memang men-jadi momentum penting, inagurasi berdirinya gereja Tuhan di muka bumi.

Adalah merupakan kebiasaan penting orang Yahudi di Israel maupun perantauan (diaspora) untuk berkumpul di Yerusalem, se-tiap hari raya Pentakosta. Di te-ngah keramaian orang dan ke-ragaman bahasa itulah, para rasul dipenuhi oleh Roh Kudus, dan berkata-kata dalam bahasa lain yang bukan bahasa mereka. Xenolalia (bahasa yang dikenal), seperti Partia, Mesopotamia, Kreta, bahkan bahasa Arab. (Jadi, jauh sebelum ada ribut-ribut soal nama Allah oleh oknum Kristen, rasul-rasul sudah memakainya oleh pimpinan Roh Kudus).

Semuanya memuliakan Allah dan perbuatan-Nya yang besar. Dan, Anda pasti tahu apa yang diucap-kan para rasul dalam bahasa Arab, untuk mengatakan Allah yang ma-habesar itu. Sangat menarik, bah-wa para pendengar sangat me-ngerti apa yang diucapkan oleh para rasul. Bahasa yang membumi. Sekalipun ada yang mencemooh dan berkata kalau rasul-rasul se-dang mabuk, itu bukan karena mereka tidak mengerti, tetapi lebih karena tidak mau mengerti mengapa itu bisa.

Bahasa yang membumi pada ina-gurasi gereja Tuhan oleh Roh Ku-dus, sungguh luar biasa. Hal ini menjadi catatan penting bagi gereja, bahwa kehadiran gereja haruslah dapat dimengerti. Fakta ini sangat kontras dengan realita Babel (Kej 11:4-9), di mana usaha manusia membangun gereja (dengan membangun menara), hanya menghasilkan perpecahan (bahasa yang kacau-balau). Ge-reja Babel, hanyalah gereja ber-menara tapi memecah-belah. Sementara, Pentakosta adalah ge-reja tanpa menara namun mem-persatukan.

Gereja yang sejati bukan se-kadar menaranya, apalagi sekadar arogansi denominasinya, yang selalu menuai perpecahan. Gereja yang sejati, adalah manusianya, yang takut akan Tuhan dan meru-pakan agen pembaharuan dan persatuan tubuh Kristus. Ribuan dalih tersedia, jutaan argumentasi dilemparkan dalam perdebatan ke-pentingan denominasi, tetapi KA-SIH tak kunjung muncul ke per-mukaan untuk membangun pe-ngertian antartubuh Kristus, mencari persamaan dan mencair-kan perbedaan yang tidak esensial. Alkitab diperkosa , tak lagi mer-deka menerjemahkan dirinya sendiri. Gereja yang benar harus berani tunduk pada pesan Alkitab secara utuh, bukan Alkitab me-nurut pemahamanku .

Pertikaian aneh ini membuat umat semakin tidak mengerti ha-kekat gereja. Di sini bilang, begini yang benar , sementara di sana bilang, bukan (inilah akibat pe-merkosaan Alkitab). Andaikata semua umat memahami Alkitab seperti apa yang dikatakan Alki-tab, alangkah dekatnya persa-tuaan itu (maklum, Alkitab toh memang cuma satu, penafsirnya yang banyak). Bahasa gereja harus dimengerti orang banyak. Dan, bahasa itu bukan sekadar bahasa bumi atau planet, melainkan ba-hasa KASIH, yang bisa mencip-takan pengertian dan kesatuan dalam kepelbagaian. Bahasa KA-SIH sangat dimengerti oleh ma-nusia di bumi ini.

Bahasa KASIH juga sangat di-sukai karena konkrit dalam kuali-tatif dan tidak manipulatif. Ingat orang Samaria yang baik hati, semua orang tahu bahasa yang diucapkannya, bukan dengan mu-lut berbusa, melainkan hati yang berbagi. Jika bahasa gereja yang dulu, yakni bahasa KASIH yang dapat dimengerti dan dipahami se-luruh pendengarnya menjadi bahasa gereja di masa kini, tentu tidak lagi membuat umat merasa asing dan terpecah. Sekarang ini, banyak sekali gereja memakai ba-hasa yang tidak dapat dipahami umat. Mungkin mereka berang-gapan, semakin asing berarti semakin hebat, oalah. Belum lagi bahasa matre, kata kawula muda, bahasa sensasi, hingga bahasa preman yang melahirkan per-tikaian.

Hari raya Pentakosta, kiranya mengingatkan kita untuk rendah hati dalam memahami perbedaan tanpa terjebak pada pertikaian. Membangun kebersamaan untuk saling membangun bukan meng-gembosi seperti kebiasaan para politikus yang haus kekuasaan. Tapi, ini tidak berarti kita meng-abaikan ketajaman pisau bedah (Firman bagaikan pedang bermata dua), untuk membedah kesalahan dan kesesatan yang memang kini semakin menjadi-jadi seturut de-ngan mendekatnya waktu keda-tangan Yesus untuk yang kedua kali. Gereja  mempersatukan tu-buh Kristus, itu sudah semestinya. Para pemimpin gereja yang hanya menabur dan menuai pertikaian, harus berani mengoreksi diri, bukannya mencari pembenaran diri. Sementara umat dituntut un-tuk mawas diri dan tidak hanyut dalam pertikaian yang tidak bertepi.*

Komentar


Group

Top