SUAMIKU PEMALAS

Penulis : Bimantoro | Wed, 4 February 2015 - 11:24 | Dilihat : 2280

Bimantoro

Saat ini saya sedang kesel sama suami saya, dan saya berpikir sebaiknya bercerai saja. Kami sudah menikah hampir 10 tahun, dan sudah dikaruniai 3 orang anak. Masalah dalam kehidupan kami adalah suami yang tidak bisa bertanggungjawab sebagaimana suami pada umumnya. Tidak mau bekerja, senangnya main game dan sesuka suka dengan waktu. Kehidupan kami sangat dibantu oleh orang tua suami saya. Kami diberikan usaha yang cukup baik dan saya yang mengerjakan usaha ini.

Nah karena kehidupan kami memang tidak susah, kayanya suami semakin merasa bahwa dia tidak apa apa, apalagi dia dekat sekali dengan anak anak kami yang semuanya laki-laki. Ya namanya anak anak tentu lebih senang punya orang tua kaya papanya yang lebih suka main dan santai. Saya pikir kalau selama ini saya mengikuti cara hidupnya dan saya juga yang kerja, orang ini tidak akan berubah dan cara hidupnya akan ditiru sama anak-anak yang jadi susah di minta belajar. Bayangkan mereka lagi belajar papanya tidur tiduran noton tv atau main game. Saya sudah capek hidup dengan orang pemalas ini.

Y di Jakarta

Dear Y,

Terima kasih untuk surat yang dilayangkan kepada kami. Dari apa yang Y sampaikan tentang suami, rasanya memang tidak mudah menghadapi tipe suami yang seperti Y hadapi. Saya membayangkan Y dalam pernikahan selama hampir 10 tahun harus bekerja, mengatur rumah tangga, mengurus anak-anak, melayani suami dan mengambil peran ayah sekaligus ibu. Tentu ini bisa sangat melelahkan, apalagi ketika kita melihat pasangan kita yang sepertinya tidak mau berusaha untuk merubah pola hidupnya. Ini bisa menjadi kehidupan yang melelahkan, menjengkelkan bahkan membuat kita menjadi apatis, putus asa dan akhirnya memikirkan untuk keluar dari pernikahan ini. Ditengah kondisi yang sepertinya tidak ada lagi jalan keluar kecuali bercerai, saya mengajak Y untuk memikirkan beberapa hal sbeagai berikut:

1. Bercerai memang sudah menjadi pilihan  yang diharapkan akan menyelesaikan dilemma pernikahan yang  sudah sulit diselesaikan, tetapi bercerai bukan tidak memiliki resiko. Perlu dipikirkan resiko-resiko kehidupan yang akan Y hadapi setelah perceraian. Misal dari yang Y ceritakan tentang kedekatan hubungan anak-anak dengan papanya, apa kira-kira pengaruh perceraian pada kehidupan anak-anak. Bagi Y, tingkah laku suami memang tidak seperti suami pada umumnya, yang membuat Y sulit untuk menerima suami apalagi menghormati dan menghargai, tetapi bagi anak-anak, papanya merupakan papa yang luar biasa mengasihi mereka, tidak seperti papa teman-temannya yang mungkin kesulitan untuk membagi waktu dengan anak-anaknya. Jadi di mata anak-anak, tingkah laku papa mereka sangat bisa diterima, apalagi kehidupan keluarga secara financial tidak memiliki masalah. Nah ketika relasi ini di cabut atau dibatasi karena perceraian, kira-kira apa pandangan anak-anak terhadap Y, apakah Y yakin bahwa anak-anak akan memahami keputusan Y untuk bercerai atau sebaliknya mereka akan mempertanyakan keputusan Y. Belum lagi Y selama ini menjalankan usaha yang diberikan oleh mertua, yang walaupun keberhasilan usaha itu adalah karena Y, tetapi apakah perceraian tidak akan berpengaruh juga dengan relasi Y dan mertua. Y juga tetap harus melihat bahwa perceraian tidak mengakhiri relasi orang tua anak, jadi perlu dipikirkan bagaimana peran orang tua akan dikerjakan setelah bercerai, dimana peran ayah tetap perlu di berikan ruang dalam pertumbuhan anak-anak, artinya suami Y setelah perceraian tetap akan hadir dalam kehidupan Y, walaupun tidak seperti saat menikah.
2. Selain resiko perceraian, mohon Y pikirkan apakah tidak ada tingkah laku suami Y yang masih bisa di hargai, selain tingkah laku yang Y ceritakan, Dalam pernikahan memang ada stigma tertentu tentang peran seorang ayah, dan stigma yang paling kuat adalah seorang ayah harus bisa menjadi Kepala Rumah Tangga, bekerja  dan menjamin bahwa kehidupan keluarga akan berjalan baik, tetapi apakah sama sekali tidak ada tingkah laku suami atau pemikrian suami yang rasanya masih cukup baik dan bisa membuat relasi kita lebih baik. Misal apakah peran dia sebagai ayah masih bisa kita terima, atau cara dia memperlakukan kita apakah masih bisa diterima. Mengapa Y perlu memikirkan ini, secara iman kita percaya bahwa tidak ada kebetulan dalam kehidupan kita. Semua yang terjadi tentu Tuhan punya maksud dibalik semua itu. Roma 8: 28 mengatakan bahwa “Allah turut bekerja didalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”, berdasarkan firman Tuhan ini, rasanya  perlu memikirkan apa yang Allah sedangkan kerjakan bagi Y melalui suami Y?. Jangan-jangan melalui kelemahan suami ini justru Allah sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, untuk kemudian melalui Y suami juga dapat menjadi lebih baik.
3. Untuk melihat maksud dari Allah dalam kehidupan pernikahan  Y, perlu juga dipikirkan strategi lain yang belum pernah dikerjakan dalam menyelesaikan dilemma yang Y hadapi, artinya apakah masih ada upaya-upaya yang bisa kita kerjakan dalam memperbaiki relasi pernikahan ini. Untuk itu Y perlu mendapatkan bantuan dari konselor keluarga yang Y percaya. Melalui konseling Y diharapkan dapat melihat hal-hal apa saja yang masih bisa dikerjakan yang akan membuat pernikahan Y lebih baik dan al-hal apa yang harus dihindari yang dapat membuat pernikahan Y semakin sulit. Melalui konseling Y bersama suami juga dapat melatih pola komunikasi yang lebih pas khususnya ketika akan mengkomunikasikan pendapat. Melalui konseling juga diharapkan terbentuk pola baru yang bisa membantu suami memperbaiki peran dan tanggung-jawabnya.  
Kiranya Y mau memikirkan hal-hal tersebut diatas, dan kiranya Tuhan membantu dan menolong Y dalam menghadapi dilemma pernikahan yang Y hadapi.
Tuhan memberkati.

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top