Manajemen

Perjalanan Orang Bijak

Penulis : Harry Puspito | Mon, 18 October 2021 - 14:46 | Dilihat : 193

Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Amsal 19:20

Semua orang ingin menjadi bijak dan semakin bijak dengan bertambahnya umur. Terlebih orang Kristen yang memiliki DNA Allah yang Mahabijak, diselamatkan untuk menjadi murid-Nya, yang terus belajar dari Dia. Sehingga setiap orang percaya mengalami proses pertumbuhan semakin menjadi seperti Yesus, Allah yang telah datang ke dunia itu. Dengan hikmat-Nya, orang percaya akan hidup berbuah dalam hidup-Nya, yang terwujud dalam buah Roh atau karakter, buah pujian yang berkenan, buah perbuatan-perbuatan baik, dan buah pelayanan.

Alkitab menyatakan ketika kita adalah 'orang bijak' akan mudah untuk menjadi lebih bijak lagi. Kalau kita adalah orang 'sederhana' apalagi 'pencemooh' akan sulit untuk menjadi bijak. Karena itu hati yang bijak adalah anugerah dan kerja Allah dalam hidup seseorang. Dengan demikian 'bijak' adalah perjalanan, perjalanan untuk menjadi lebih bijak dari waktu ke waktu, dalam satu dimensi kehidupan ke demensi yang lain, dari satu musim hidup ke musim hidup berikut, hingga akhir hayatnya.

Bagaimana perjalanan orang bijak? Amsal, kita bijak dalam Alkitab, dalam satu ayatnya menujukkan jalan orang bijak yang semakin bijak, yaitu 'Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan' (Amsal 19:20).

Dengarkanlah Nasehat

Orang bijak mendengarkan nasehat. Nasehat bisa dalam bentuk saran, arah tindakan, tujuan, rencana atau konsultasi. Mendengar berjenjang dari sekedar mendengar suara, mendengar dan memperhatikan, memahami yang didengar, hingga mematuhi yang didengar. Kata mendengar di Amsal 19:20 berarti mendengarkan dengan kecenderungan mematuhi apa yang didengar.

Kita mendengar bukan untuk menghakimi atau mengoreksi tapi untuk mengumpulkan hal-hal yang bisa dilakukan yang menghasilkan kepatuhan kepada Allah tertentu dengan sukacita.

Kita mendengar nasehat-nasehat Allah melaui Firman-Nya yang kita baca, yang kita dengar melalui kotbah, melalui buku-buku yang kita baca, atau melaui pengajaran-pengajaran.

Nasehat bisa disampaikan oleh orang-orang yang mengasihi Allah, orang-orang yang dewasa rohani.

Hati-hati dengan kesombongan, bisa menghalangi kita untuk mendengar nasehat. Tidak heran sarat pertama dan utama dari mengikut Yesus adalah menyangkal diri, selanjutnya 'memikul salib,' yaitu siap menderita bagi Kristus, baru mengikut Yesus, yaitu belajar dan melakukan apa saja yang Yesus ajarkan (Lukas 9:23). Dengan kerendahan hati kita bisa mendengar nasehat dari siapapun - dari mereka yang lebih muda, lebih tua, dari yang kurang pendidikan formal, dari anak buah, yaitu dari siapa saja, yang dipakai Tuhan menjadi tempat kita mendapatkan nasehat.

Kita secara aktif mencari dan mendengar nasehat, tapi bukan berarti kita menerima semua nasehat. Namun kita mendengarkan nasehat yang diberikan kepada kita dengan hati-hati, memeriksa dengan Firman Tuhan (KPR 17:11), karena tidak semua nasehat baik. Kita mendoakan (Yakobus 4:2) nasehat-nasehat yang diberikan dan mematuhi nasehat-nasehat yang sesuai dengan Firman-Nya.

Terimalah Didikan

Orang bijak menerima didikan. Didikan bisa dalam bentuk peringatan, teguran, koreksi, disiplin atau instruksi. Kata Ibrani didikan adalah 'musar.' Ini berarti seperti didikan seorang ayah kepada anak. Kita tidak hanya diberikan instruksi tapi secara praktis dipimpin pada memilih jalan yang benar.

Didikan bisa bersifat instruksi dan koreksi. Ketika kita berjalan dalam jalur-jalur moral terentu, ada koreksi dan instruksi untuk mengarahkan kita ke jalur yang tepat dan menjauhkan dari kegagalan moral. Didikan berisi pengajaran tentang prinsip-prinsip (moral) untuk kehidupan yang saleh. Walau didikan berbeda dengan nasehat, tapi keduanya beriringan. Kita 'menerima' didikan - menerima dan melakukan dengan kerelaan. Kita rela dilatih oleh didikan itu, walau itu kadang terasa sakit.

Seperti nasehat, kita tidak menerima semua nasehat begitu saja tapi membedakan didikan dunia dengan yang ilahi. Yakobu 3:17 memberikan tanda-tanda apakah suatu hikmat itu dari Allah. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Jangan sampai kita mendengar dan menerima hikmat dunia yang adalah kebodohan bagi Allah (1 Kor 3:19), hikmat itu akan membawa kita pada kebinasaan.

Dengarkan nasehat dan terima didikan tidak hanya sekali-sekali, ketika mengalami masalah, atau kebetulan, tapi kita mencari dan melakukannya terus menerus. Ini bahkan adalah perintah untuk dipatuhi. Karena itu jadikan 'mendengar nasehat dan menerima didikan' sebagai suatu kebiasaan hidup kita. Tuhan Yesus memberkati!

Lihat juga

Komentar


Group

Top