Khotbah Populer

Jangan Takut Hadapi Akhir Jaman

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 14 January 2009 - 12:14 | Dilihat : 9359
Tags : Doktrin Akhir Jaman Eskatologi

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

ADA banyak kesalahpahaman tentang kehidupan, khususnya tentang akhir jaman. Melihat penderitaan demi penderitaan, perang demi perang, orang-orang lalu menafsirkan kalau Tuhan akan datang. Mari kita melihat sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan. Bagian ini memang merupakan suatu apo-kaliptis, wahyu, nubuatan. Tetapi persoalan apa ini mesti diperhatikan baik-baik. Sebetulnya kalimat ini diberikan Tuhan mengawali ayat 5 dan 6 (dalam Lukas 21) tentang keruntuhan Bait Allah yang akan dihancurkan pemerintahan Roma.  
Tetapi ini bukan akhir jaman dalam pengertian Ia akan datang kembali. Dia sendiri berkata bahwa kedatangannya tidak ada seorang pun yang mengetahui. Tetapi gereja selalu mau cari tahu lalu bicara kapan dan kapan, menghabiskan waktu, tetapi tidak punya waktu untuk menghitung berapa orang lapar yang mesti dikasih makan,  hanya menghitung berapa lama lagi Yesus mau datang. Saya kira banyak gereja terperangkap membuang waktu dan tidak punya lagi waktu mengerjakan yang sejati dari yang Tuhan mau.
Nah, karena itu kita harus memperhatikan seluruh ungkapan, perkataan yang ada dalam Akitab mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, adalah merupakan peringatan, hukuman, tetapi

ADA banyak kesalahpahaman  tentang kehidupan, khususnya tentang akhir jaman. Melihat penderitaan demi penderitaan, perang demi perang, orang-orang lalu menafsirkan kalau Tuhan akan datang. Mari kita melihat sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan. Bagian ini memang merupakan suatu apo-kaliptis, wahyu, nubuatan. Tetapi persoalan apa ini mesti diperhatikan baik-baik. Sebetulnya kalimat ini diberikan Tuhan mengawali ayat 5 dan 6 (dalam Lukas 21) tentang keruntuhan Bait Allah yang akan dihancurkan pemerintahan Roma.  
Tetapi ini bukan akhir jaman dalam pengertian Ia akan datang kembali. Dia sendiri berkata bahwa kedatangannya tidak ada seorang pun yang mengetahui. Tetapi gereja selalu mau cari tahu lalu bicara kapan dan kapan, menghabiskan waktu, tetapi tidak punya waktu untuk menghitung berapa orang lapar yang mesti dikasih makan,  hanya menghitung berapa lama lagi Yesus mau datang. Saya kira banyak gereja terperangkap membuang waktu dan tidak punya lagi waktu mengerjakan yang sejati dari yang Tuhan mau.
Nah, karena itu kita harus memperhatikan seluruh ungkapan, perkataan yang ada dalam Akitab mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, adalah merupakan peringatan, hukuman, tetapi sekaligus juga merupakan pengharapan yang Tuhan akan kerjakan di tengah kesulitan Maka yang penting bagi kita bukan kapan akhir jaman itu. Itu tidak terlalu penting tetapi bagaimana sikap hati kita menyikapi kedatangan Tuhan. Karena itu jangan repotkan dirimu untuk berbicara mengenai apa yang akan terjadi, tetapi repotkan dirimu untuk menjadikan sesuatu terjadi seperti yang Tuhan mau.

Dalam ayat 9 Dia menegaskan: “Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pem-berontakan janganlah terkejut…”  Jadi, ketika kita menyikapi akhir jaman dengan perasaan takut, itu aneh luar biasa, berarti saudara tidak mengerti Tuhan. Ketika Alkitab bilang “jangan terkejut”, maka di sini kita terus belajar. Apa yang terjadi di depan lupakan, tetapi apa yang kita lakukan, itu yang perlu kita remind, konsen dan perhatikan. Jadi jangan terkejut apa pun yang terjadi. Jangan bereaksi, tetapi beraksi. Itu dua hal yang berbeda. Bereaksi, kita hanya bergerak kalau dunia bergerak. Tetapi beraksi, kita bergerak meng-gerakkan dunia. Jangan kita kasih makan orang karena banyak orang kelaparan, tetapi pikirkan sesuatu bagaimana supaya orang tidak lapar. Jadi kita tidak digiring oleh persoalan dunia, tetapi menggiring untuk membereskan persoalan dunia. Dan itu tidak sederhana.
Dan kesalahpahaman itu terus terjadi hingga kini. Karena sikap banyak orang tentang akhir jaman menjadi sangat menyedihkan membuat kita mirip orang yang tidak mengenal Tuhan dan tidak beriman sungguh. Orang-orang ketakutan menghadapi akhir jaman, sampai ada yang senewen meninggalkan pekerjaan bahkan ada yang meninggalkan suami dan anak-anak dengan dalih Yesus mau datang. Lipat tangan dan berdoa. Kalau seperti ini, rendah sekali keberimanan kita.

Konsekuensi iman
Oleh karena itu mari kita melihat bagaimana kejadian-kejadian terhadap konsekuensi hidup beriman. Di dalam ayat 10 dikatakan: “Ia berkata bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan”. Ini persoalan sosial politik. Dosa sudah mengakibatkan suatu kerusakan bukan lagi pada individu tetapi struktural, bukan lagi satu kampung, tetapi kota, negara. Lalu ayat 11 juga melukiskan bagaimana dikatakan: “Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat. Di berbagai tempat akan terjadi penyakit sampar, kelaparan, akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.” Ini membicarakan bencana alam dan sakit penyakit akan datang.
Pada pasal 12 dikatakan: “Tetapi sebab sebelum itu semua kamu akan ditangkap dan dianiaya, kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadah dan penjara-penjara”. Artinya masalah religi pun muncul. Agama pun menjadi persoalan. Ternyata agama bukan menjadi tempat perlindungan dan pembentukan manusia, tetapi menjadi topeng penganiayaan yang paling ampuh. Selanjutnya dalam ayat 16 ada problema keluarga. Ternyata keluarga bukan lagi satu konteks kebahagiaan kumpulan orang sedarah, tetapi yang terjadi adalah pertikaian dan permasalahan saling menyerahkan dan saling menghabisi. Motifnya bisa banyak: karena kecemburuan, uang, dsb. Semua yang dibicarakan Tuhan itu bergulir dari waktu ke waktu menuju titik yang sangat mengerikan.

Semua ini terjadi karena pemisahan gandum dan ilalang akan makin nyata. Mereka yang bertikai antarkeluarga akan masuk kelompok ilalang. Yang menyerah pada  realita hidup akan masuk kelompok ilalang. Yang tidak kuat mengalami penderitaan, masuk ilalang. Tetapi siapa yang kuat dan bertarung, masuk kumpulan gandum. Tuhan sedang memilah, gandum dan ilalang dipisahkan. Jika tiba waktunya ilalang akan dibakar, gandum masuk ke dalam lumbung.
Tuhan tahu masalah kita, dan Dia bisa mengatasinya. Jadi, kalau masih ada masalah itu karena Dia mau. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan. Sekarang kita belajar bagaimana menikmati apa yang Dia kerjakan. Jadikan setiap kesulitan sebagai kesaksian. Beruntunglah kalau mengalami kesulitan tetapi tetap setia pada Tuhan. Tapi me-nangislah kalau kau mengalami kesulitan lalu lari menyulitkan diri sendriri, tidak berpegang sama Tuhan. Jangan marah kalau Tuhan ijinkan kesulitan datang. Itu akan menjadi kesaksian yang hebat. Kalau Tuhan hidup di dalam hidup kita, apa pun bisa menjadi kesaksian. Maka kesulitan akhir jaman jangan dipikirkan. Ada persoalan jangan menyerah atau menangis, tetapi pikir apa yang bisa ditegakkan jadi sebuah kesaksian. Mengapa takut?

Oleh karena itu seharusnya sebagai umat percaya kita terikat dan mengikatkan diri kepada Kristus Tuhan. Seluruh tindakan dalam hidup biarlah itu merupakan aplikasi iman. Iman kepada Yesus adalah kunci kemenangan itu. Tidak penting apa pekerjaanmu, asal bukan pencuri, tidak penting berapa banyak harta asal bukan penipu. Tidak penting status duda atau janda asal kau bukan pembuat dosa. Tidak penting siapa kau, tetapi penting bagaimana sikap imanmu pada Tuhan,  bagaimana pengab-dianmu pada Tuhan. Itulah harga hidupmu, nilai hidupmu.v

(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
 

Lihat juga

Komentar


Group

Top