Konsultasi Keluarga

Menjadi Berkat

Tue, 16 December 2008 - 10:05 | Dilihat : 2730
Di tengah lilitan berbagai masalah hidup, banyak orang yang kehilangan pengharapan. Akibatnya ada yang terjerumus pergaulan bebas, obat-obatan, atau kejahatan lain. Bagaimana sikap kita seharusnya terhadap mereka?
Teks Alkitab memperlihatkan begitu banyak orang yang datang menemui Yesus, ketika Ia datang kembali ke kota mereka (1; lih. 1:21). Mereka ingin mendengar pengajaran-Nya yang penuh kuasa. Mereka juga ingin melihat Dia melakukan mukjizat (1:22, 27). Bagaimana respons Yesus? Ia memberitakan Injil kepada mereka (2).
Tiba-tiba ada gangguan. Empat orang datang menggotong seorang yang lumpuh (3). Mereka mengharapkan Yesus menyembuhkan teman mereka. Namun kerumunan orang menghalangi mereka. Menyerah?

Jangan. Yesus sudah di depan mata! Bila si lumpuh bisa dihadirkan di depan Yesus, tentu ia akan disembuhkan. Lalu bagaimana caranya? Dengan semangat pantang menyerah, mereka naik ke atap rumah dan membongkar (4). Berhasilkah usaha mereka? Ya. Si lumpuh diturunkan di depan Yesus. Iman kawan-kawan si lumpuh menye-babkan Yesus merespons lebih dari yang mereka harapkan. Ia bukan hanya menyembuhkan si lumpuh (11), melainkan juga mengampuni dosanya.
Iman keempat orang itu sungguh luar biasa. Bukan hanya percaya secara pasif, tetapi ada tindakan aktif yang menyatakan keyakinan mereka pada kuasa Yesus dalam menyembuhkan penyakit. Iman mereka berperan besar dalam hidup si lumpuh sehingga dia dapat berjalan dan menikmati hidup dalam pengam-punan Tuhan.
Bagaimanakah peranan kita bagi hidup orang-orang di sekitar kita? Bagi ayah dan ibu yang sudah berusia lanjut, bagi tetangga yang membutuhkan perhatian, bagi rekan yang perlu pertolongan, dan seterusnya. Di awal tahun ini mari kita pikirkan suatu tindakan yang dapat menjadi berkat bagi mereka. Sesuatu yang memungkinkan mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.

(Ditulis oleh GI. Christian Jonch diambil dari renungan tanggal 1 Januari 2009 di Santapan Harian Edisi Januari-Februari 2009 terbitan PPA)
Renungan di atas tadi diambil dari salah satu hari di SANTAPAN HARIAN.
Untuk berlangganan SAN-TAPAN HARIAN, Hubungi PPA di 021-3519742, HP. 0811-9910377, Up. Ibu Ana. Website: http://www.ppa@ppa.or.id

Dalam pelayanan Yesus di Galilea, Yesus harus menghadapi protes yang mewujudkan perlawanan dari para pemimpin agama Yahudi (Mrk. 2:1-3:6). Perkataan, sikap, dan tindakan Yesus menjadi sumber kritik yang tak ada habis-habisnya bagi para pemimpin agama. Bagaimana Yesus menghadapi mereka? Bagaimana Yesus menyatakan diri dan kuasa-Nya kepada mereka? Mari kita pelajari.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan si lumpuh saat mereka tidak bisa masuk menghadap Yesus (4)?
2. Menurut Yesus, apa kebutuhan si lumpuh yang terbesar (5)?
3. Bagaimana reaksi ahli-ahli Taurat (6-7)?
4. Bagaimana Yesus kemudian membuktikan kuasa-Nya (9-11)?
5. Bagaimana reaksi orang banyak terhadap kesembuhan si lumpuh (12)?
6. Siapa yang makan bersama Yesus di rumah Lewi (15)?
7. Alasan apa yang dipakai Yesus untuk menjelaskan mengapa Ia menjalin persahabatan dengan orang-orang berdosa (17)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa yang Yesus nyatakan tentang otoritas-Nya melalui firman dan tindakan-Nya?
2. Jika hanya Allah yang dapat mengampuni dosa, lalu Yesus membuktikan diri bahwa Ia dapat mengampuni dosa, apa yang dapat kita simpulkan tentang Yesus?
3. Apa “keuntungan” jadi orang berdosa dibanding para ahli Taurat dalam kaitan dengan Yesus? Bagaimana perasaan bahwa diri benar dapat menghalangi orang untuk datang pada Yesus?

Apa respons Anda?
1. Bagaimana Anda mengenal Yesus? Melalui orang lain? Ceritakan.
2. Adakah orang yang Anda ingin agar mengenal Yesus? Usaha apa yang pernah atau ingin Anda lakukan?
(ditulis oleh Rondang Sitompul)

Bandingkan renungan Anda dengan SH 1 Januari 2008 Menjadi Berkat

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top