Sudut Pandang (SUP)

Gereja dan Pemberitaan Injil

Penulis : Pdt Bigman Sirait |

Pemberitaan Injil adalah tugas yang melekat pada gereja. Di mana gereja berada, maka di situ Injil harus diberitakan. Gereja yang tidak memberitakan Injil sama dengan gereja yang mati suri: memiliki raga namun tanpa jiwa. Itulah sebabnya pemberitaan Injil yang didasarkan pada Matius 28:19-20 disebut sebagai amanat agung . Keagungan amanat itu terletak pada pemberi perintah, yaitu Yesus Kristus, kepala gereja yang agung. Sementara amanat-nya adalah memberitakan Injil yang berpusat pada Yesus Kristus yang datang menyatakan diri di Bumi, kepada umat manusia (I Korintus 15:1-8). Dan amanat yang agung itu ditujukan kepada orang percaya, yang sejatinya tidak agung, agar menjadi agung, dengan memberitakan Injil.

Jadi, pemberitaan Injil adalah sebuah kesukacitaan, di mana pemberita dan penerimanya sama-sama bersukacita. Sehingga tidak-lah berlebihan, bahkan sangat tepat, ketika Rasul Paulus berkata, Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik (Roma 10:15). Hanya saja, ada hal yang signifikan untuk menjadi perhatian umat Tuhan, yaitu wujud pas pemberitaan Injil itu sendiri. Di titik ini, gereja seringkali terjebak pada pola yang telah mentradisi, bahwa pem-beritaan Injil adalah kebaktian ke-bangunan rohani (KKR) atau per-sekutuan Injil (PI) pribadi, atau kelompok sel. Sederhananya, Injil diberitakan dengan cara bertutur, jarang sekali dengan perbuatan konkrit, menolong sesama,  seba-gai buah Injil.

Tindakan menolong sesama dalam wujud berbagai proyek kemanusiaan bahkan seringkali di-curigai dan dilabelisasi sebagai social gospel. Sebuah label sisnis, yang melukiskan Injil yang kehilangan kuasa pemberitaan-nya. Di sisi lain, pemberitaan Injil pun dimonopoli oleh para rohani-wan yang tidak jarang memprok-lamirkan diri sebagai agen utama kerajaan surga. Kelompok ini, sangat menikmati kebergantung-an umat kepada diri mereka sebagai pemimpin agama. Jadi, bagaimana sejatinya pemberitaan Injil itu? Menurut hemat saya, gereja harus berani memerhati-kan semangat Taurat (bukan sekadar kewajiban agama, tetapi kasih (Matius 22:37-40). Dan semangat Injil (bukan sekadar pemberitaan tetapi perbuatan (Yakobus 2:20-22).

Nah, keseimbangan sangat dibutuhkan di sini. Gereja tidak hanya harus memberitakan Injil dengan mengumandangkannya, tetapi juga harus fasih untuk mengaktualisasikannya. Dan pem-beritaan Injil itu pun harus bisa diterjemahkan ke dalam tindakan, bukan hanya monopoli kata-kata berbunga. Paulus berkata, Kamu adalah surat surat pujian yang da-pat dibaca oleh semua orang (II Korintus 2-3). Jadi, gereja tidak boleh terjebak pada retorika KKR, dan merdunya PI pribadi, atau eksklusifnya kelompok sel, tetapi juga mendemonstrasikan tindakan  nyata, agar gereja tidak ditolak sesudah memberitakan Injil (I Korintus 9: 24-27). Gereja akan ditolak jika tidak mampu mengen-dalikan diri, tidak bisa mengeks-presikan kasih, yang merupakan warna dominan berita Injil.

Untuk itu perlu perumusan konkrit, agar gereja hadir memberi-takan Injil di pentas dunia, bukan hanya di ruang gereja. Gereja memberitakan Injil dengan tinda-kan nyata, bukan hanya retorika, seimbang, pemberitaan dan per-buatan. Dan, pemberitaan Injil pun tidak lagi dimonopoli oleh para petinggi gereja, tetapi melibatkan semua umat, sebagai orang percaya, pewaris kerajaan surga. Jadi, seluruh unsur tubuh Kristus terlibat aktif. Areal pemberitaan In-jil diperluas, melintasi batas gereja, merambah ke seluruh ruang di ma-na terjadi interaksi antaranak manusia., seperti, ruang kerja, ru-ang studi, ruang gaul, ruang sosial, dan ruang lainnya.

Di areal ini gereja harus unggul. Unggul, bukan dalam bilangan kuantitas, melainkan kualitas, se-perti Yusuf di Mesir atau Daniel di Babel. Pemberitaan Injil pun tak lagi sekadar membacakan dan mengkhotbahkan ayat, tetapi menyatu dalam perilaku yang mudah dicerna. Injil yang menye-nangkan, karena peduli dan mem-bagi kasih kepada sesama tanpa batas agama. Tetapi juga Injil yang tegas, karena jelas posisinya dan tak tersentuh kompromi dengan dosa. Dan sudah barang tentu, Injil yang juga selalu siap me-nanggung seluruh konsekuensi karena warnanya yang tegas dan jelas.

Betapa elegannya seorang pemberita Injil, dan betapa menyenangkannya kehadiran para pemberita itu. Jika ini menjadi kenyataan, maka Injil hadir dan membumi. Dengan demikian, ama-nat Yesus yang tidak kalah agungnya, yaitu jadilah garam dan terang dunia dapat dijalankan semua orang percaya (Matius 5:13-14). Bukankah dengan terangnya dunia berarti terang Injil telah tersebar, menyebar merata menerangi kegelapan dunia? Dan itu berarti kehadiran orang percaya di semua lini kehidupan?

Jadi, gereja tidak boleh mengkudeta areal pemberitaan sebatas tembok gereja, sebatas KKR, sebatas PI pribadi atau sebatas seminar sehari. Sebalik-nya, gereja juga tidak perlu bertindak emosional dengan mengabaikan atau bahkan menia-dakan ruang-ruang sebelumnya. Yang dibutuhkan gereja adalah sebuah keseimbangan dalam kedewasaan pemberitaan Injil, pola pemberitaan Injil yang terus bergerak dinamis seturut perkem-bangan konteks. Selamat menjadi, dan hadir, sebagai gereja yang misioner, kritis dan kontekstual, namun senantiasa setia terikat pada konten (isi) firman yang sejati.*

Komentar


Group

Top