Suara Rakyat, (Belum Tentu) Suara Tuhan

Pemilihan Umum, baik Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) yakni DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota telah dilaksanakan pada Rabu 14 Februari lalu. Sampai saat ini rekapitulasi penghitungan suara masih terus berjalan. Namun demikian, quick count (hitung cepat) dari berbagai lembaga survey sudah merilis hasil perhitungannya.

Diprediksi bahwa pasangan dengan nomor urut 02, yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memenangkan pilpres satu putaran dengan persentase sekitar 58%, disusul oleh pasangan Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Sedangkan untuk pemilu legislatif, partai PDIP diduga akan menjadi pemenang dengan mendulang sekitar 17% suara. Tentu saja ini bukan hasil resmi. Hasil resmi akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum setelah rekapitulasi penghitungan suara secara manual selesai dilakukan.

Berbicara tentang pemilu, ada sebuah adagium kesohor yang menyatakan bahwa vox populi, vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Semboyan tersebut menjadi kebanggaan negara-negara yang menganut sistem demokrasi, yang usianya relatif masih muda dibandingkan dengan sistem monarki, oligarki, dll.

Jika diperhatikan dalam Alkitab, sistem yang pertama kali dipakai oleh umat Tuhan adalah sistem teokrasi, ketika Tuhan Allah secara langsung memimpin umat-Nya. Kemudian Tuhan menunjuk, nabi-nabi, imam-imam dan hakim-hakim sebagai wakil Tuhan untuk memimpin umat. Para wakil Tuhan tersebut akan bertanya kepada Tuhan untuk meminta petunjuk ketika mereka membutuhkan pertimbangan ilahiah. Sistem ini sangat bergantung kepada keputusan Tuhan secara langsung (baca: Daulat Tuhan).

Setelah beberapa waktu, bangsa Israel menginginkan seorang raja untuk menjadi pemimpin mereka, sama seperti bangsa-bangsa di sekitar mereka. Tuhan mengabulkan permintaan umat dan akhirnya Saul diangkat menjadi raja pertama Israel.

Sistem kerajaan/monarki berlangsung berabad-abad sampai kemudian Israel menjadi negara jajahan dari bangsa-bangsa lain. Raja-raja yang pernah memerintah di Israel (termasuk Israel Utara dan Israel Selatan atau Yehuda) tidak selalu baik. Faktor pemimpin sangat memengaruhi keadaan bangsa yang dipimpinnya. Raja yang saleh membawa bangsanya diberkati Tuhan, sedangkan raja yang jahat tidak diperkenan oleh Tuhan.

Sistem kerajaan/monarki digunakan hampir di seluruh dunia dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Bahkan sampai saat ini beberapa negara masih mempraktikkannya dengan berbagai modifikasi bentuk yang digunakan. Misalnya saja ada Kerajaan Inggris Raya. Sistem kerajaan/monarki menekankan kekuasaan raja/ratu (baca: Daulat raja/ratu). Rakyat harus patuh kepada raja/ratu yang memerintah. Regenerasi kepemimpinan ditentukan berdasarkan garis keturunan. Hanya keturunan raja/ratu yang bisa menjadi penguasa selanjutnya.

Di masa modern, lahirlah sebuah sistem baru yang disebut dengan demokrasi. Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat (baca: Daulat rakyat). Para pemimpin dipilih oleh rakyat melalui sebuah mekanisme pemilihan umum. Sistem demokrasi sangat digandrungi di masa ini karena siapa saja, dari golongan mana saja, bisa menjadi pemimpin maupun wakil rakyat. Syaratnya adalah dipilih oleh mayoritas rakyat yang ikut memilih.

Indonesia sudah sejak awal berdirinya menganut sistem demokrasi, meskipun masih ada bentuk kesultanan atau kerajaan di beberapa daerah yang merupakan warisan budaya lokal sejak zaman pra kemerdekaan Indonesia.

Pemilihan umum (pemilu) pertama kali diselenggarakan di tahun 1955 sebagai mekanisme untuk memilih wakil rakyat yang nantinya akan memilih siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden. Barulah di tahun 2004 presiden dan wakil presiden di Indonesia dipilih secara langsung oleh rakyat. Kandidat yang meraih suara terbanyak, dialah yang akan terpilih menjadi wakil rakyat maupun kepala negara, dan kepala-kepala daerah, baik di tingkat provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota.

Kembali ke inti pembahasan. Apakah adagium vox populi, vox Dei selalu tepat? Mari kita periksa. Bangsa Israel sangat sering bersungut-sungut kepada Musa maupun pemimpin lainnya. Apakah suara rakyat mayoritas itu mewakili suara Tuhan? Justru Tuhan menilai mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk, alias keras kepala. Peristiwa di zaman Yesus Kristus lebih parah lagi.

Pontius Pilatus yang merupakan pemerintah sah yang berhak dan wajib mengambil keputusan dengan adil, justru tunduk dengan tekanan massa yang merupakan suara terbanyak. Walaupun Pilatus sadar bahwa Yesus Kristus tidak bersalah, namun akhirnya divonis bersalah demi memuaskan tuntutan suara mayoritas rakyat. Suara rakyat dalam kasus ini jelas bukan suara Tuhan. Alih-alih memuliakan Tuhan, mereka justru membunuh raga Tuhan yang berinkarnasi. Ini peristiwa paling memalukan dan memilukan yang tercatat dalam Kitab Suci dan juga sejarah dunia.

Sistem demokrasi adalah sistem yang sudah dipilih bangsa Indonesia. Memang masih belum matang dan banyak kekurangan di sini dan di sana. Masih dapat dipahami, karena usia demokrasi di Indonesia lebih muda lebih dari satu abad dibandingkan dengan Amerika sebagai kiblat demokrasi masa kini. Karena itu semua pemangku kepentingan musti mawas diri.

Pemerintah wajib meningkatkan kualitas demokrasi. Rakyat pun musti meningkatkan kualitas diri dalam berdemokrasi. Jangan sampai suara rakyat bisa dibeli oleh oknum yang ingin menjadi pejabat tinggi. Partai politik hendaknya benar-benar menjadi pilar demokrasi sejati, bukan menjadi alat kekuasaan dan menghamba pada bandar politik tingkat tinggi. KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) mengemban tugas penting dalam proses tahapan pemilu dari hulu sampai ke hilir.

Sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristen dipanggil untuk terus meningkatkan kualitas demokrasi, dimulai dari diri sendiri. Etika dan moral musti terus dijunjung tinggi sebagai falsafah hidup yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani. Suara rakyat bukan sekadar soal kuantitas: yang terbanyak yang menang, tapi juga soal kualitas: memilih kandidat yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang teruji dan terpuji.

Ah, ayo nikmati SUPnya. Lebih seru jika dinikmati bersama sahabat dan orang-orang terdekat. Nikmati sampai tetes terakhir, mumpung masih hangat. Kiranya raga, logika dan jiwa terus sehat. Sehingga mampu menganalisa dan bertindak dengan akurat.

Soli Deo Gloria.

Recommended For You

About the Author: Pdt Gelen Marpaung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *