Manajemen

Menjadi Pelaku Firman

Penulis : Harry Puspito | Mon, 30 May 2022 - 12:42 | Dilihat : 1325

"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." Yakobus 1:22

Setiap minggu kita orang Kristen berbiadah ke gereja dan mendengar pemberitaan Firman Tuhan. Setiap hari kita berdoa dan membaca Alkitab. Bahkan sebagian kita belajar Firman lebih serius melalui buku, seminar, sekolah teologi, dsb. Namun satu tantangan terbesar bagi orang Kristen bukanlah masalah belajar ('mendengar') tapi adalah masalah 'ketaatan' atas Firman Tuhan yang kita belajar.

Buku Yakobus adalah tentang kehidupan praktis Kristen. Relevan untuk orang Kristen sepanjang masa karena kecenderungan orang untuk sekedar tahu, percaya tapi tidak melakukannya. Tanpa melakukan apa yang kita percaya hidup kita tidak akan diubah. Alkitab memerintahkan kita menjadi pelaku Firman.

'Menjadi Pelaku Firman' berarti Taat kepada Firman

Mendengar Firman penting tapi tidak cukup; mendengar belum menaati Firman, dia baru tahu dan mungkin mempercaya apa yang kita dengar. Misal kita mendengar uraian, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (KPR 20:35). Kita belum menjadi pelaku sampai kita mengeluarkan uang atau harta kita untuk orang lain.

Sementara 'menjadi pelaku Firman' diungkapkan dalam kalimat perintah, perintah bagi semua orang percaya. Setiap orang percaya harus melakukan Firman. Kita dipanggil untuk 'berbuat' atas dasar Firman. Kita belajar secara utuh hanya dengan mempraktekkan apa yang kita pelajari. Dengan melakukannya, Firman mengubah pikiran, hati, karakter dan akhirnya hidup kita.

Ketika kita melakukan Firman Tuhan, maka Firman itu akan lebih tertanam dalam jiwa kita. Kita bisa tahu Firman dalam pikiran kita dan tahu apa yang harus kita lakukan, tapi sebelum kita melakukan Firman itu tidak betul-betul berakar dalam hidup kita. Ketaatan melakukan Firman menjadikan Firman itu nyata.

'Hanya Pendengar Saja' adalah Pengabai Firman

Kita perlu mendengar Firman sebagai permulaan. Kitab Roma 10:17 menyatakan: "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." Namun mendengarkan Firman saja tidak cukup. Dengan mendengar kita tahu dan percaya tentang apa yang kita dengar. Dengan tidak melakukan Firman kita telah mengabaikan Firman yang bersifat imperatif.

Kita mungkin berpikir telah mendapatkan manfaat dari mendengarkan Firman, tapi sebenarnya mereka kehilangan kesempatan mendapatkan berkat Tuhan dari melakukannya.

Hanya Pendengar Saja berarti 'Menipu diri sendiri'

Jika kita hanya mendengar tapi tidak melakukan Firman maka dikatakan kita 'menipu diri sendiri.' Orang yang tahu berzina adalah salah tapi tetap saja melakukannya adalah korban penipuan dengan akibat hidup dan keluarganya rusak. Orang yang tahu lebih baik (lebih diberkati) memberi daripada menerima tetap saja tidak mau memberi menjadi korban penipuan diri sendiri sehingga tidak mengalami berkat dari memberi itu.

Firman Tuhan sebagai 'Cermin'

Firman Tuhan digambarkan berfungsi sebagai cermin untuk mengamati penampilan seseorang. Yakobus menggambarkan ada orang yang tidak peduli bagaimana penampilannya. Ini tidak normal untuk kebanyakan pemakai cermin. Biasanya mereka melihat ke cermin untuk melihat kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Orang yang abai melihat dirinya di cermin dan kemudian dia tidak peduli bagaimana penampilan dia yang seharusnya. Seperti orang yang mendengarkan kotbah, belajar Firman tapi kembali ke kesibukan sehari-hari dan melupakan apa yang telah dia dengar.

Cermin menjadi tidak berguna kalau kita tidak memakai untuk tujuannya - mengenali diri untuk perbaikan, atau kita tidak ingat dengan tampilan kita di cermin dan kemudian tidak melakukan sesuatu untuk memperbaiki penampilan kita.

Alkitab bertujuan tidak sekedar menampilkan diri kita, tapi membersihkan kita. Firman membersihkan orang-orang sebelum memberikan tugas-2 berikut kepada mereka. Mereka yang melihat diri di cermin dengan serius menggambarkan mereka yang 'meneliti hukum yang sempurna' - yaitu yang tidak melihat sekedarnya tapi meneliti Firman itu.

Firman adalah 'Hukum yang Sempurna'

Dia menyebut Firman itu 'hukum yang sempurna,' yang memerdekakan orang. Hukum Allah itu sempurna (Mazmur 9:7). Hukum yang sempurna ini ada dalam Kristus. Hukum Kristus memerdekakan. Hukum-huku PL, mengikat kita dalam ritual-2, perayaan-2 dan praktek-2 keagamaan, yang memberikan beban-2 dan harapan-2 yang tidak bisa kita penuhi.

Hukum dalam PB digenapi dalam Yesus Kristus dan memberikan kepada kita kemerdekaan dalam Kristus. Firman Tuhan memiliki kuasa, kuasa untuk memerdekakan kita dari ikatan-ikatan dosa, ketakutan, rasa bersalah, adiksi, dan takut akan kematian. Kita dimerdekakan untuk hidup bagi Kristus dan melakukan tujuan kita diciptakan, yaitu melayani Dia (Yoh 8:31-32).

Yakobus memberikan langkah-langkah dalam mendenganr dan melakukan Firman:

  1. Meneliti, mencari data, pengetahuan dari Firman, terus cari sampai mendapatkan sesuatu.
  2. Bertekun di dalamnya, ketika kita mendapatkan sesuatu, dapatkan lebih lagi, dalami
  3. Tidak melupakan, tidak melupakan apa yang kita dapatkan; buat catatan-catatan.
  4. Sungguh-sungguh melakukannya, lakukan apa yang kita dapatkan, dengan hati. Biarkan pelajaran Firman itu mengubah hidup kita.

Pelaku Firman Diberkati

Yakobus mengatakan kalau kita mendengar Firman dan melakukannya, tidak mengabaikan, kita akan diberkati: mendapatkan perkenanan Allah atas kita, baik secara umum, yaitu berkat dan perlindungan; kesukaan kepada kita; kemurahan; perkenanan; dan damai sejahtera-Nya; maupun secara khusus sehubungan dengan apa yang kita lakukan terhadap Firman-Nya itu (Bilangan 6:24-26; Amsal 13:13).

Penutup

Mendengar Firman dan tidak melakukan membawa kepada penipuan diri sendiri, sebaliknya mendengar Firman dan melakukannya membawa berkat bagi kita. Hanya dengan melakukan Firman maka hidup kita mengalami transformasi.

Bagaimana dengan kita? Banyak di antara kita mengaku mencintai Firman. Bagaimana kita tahu atau mengukurnya? Banyak di antara kita sudah membaca seluruh isi Alkitab, bahkan berkali-kali. Kita banyak hafal ayat-ayat Alkitab. Namun Yakobus mengatakan mendengar saja - tahu, hafal, percaya saja, tidak cukup. Cinta kita kepada Alkitab dapat sungguh-sungguh diukur dari hidup kita: bagaimana kita mengasihi keluarga kita; mengampuni orang yang menyakiti; berapa banyak kita memberi; berapa banyak waktu kita berdoa untuk sesama dan yang terhilang; dsb, dsb.

Ada ungkapan Santo Francis Asisi mengenai menjadi pelaku Firman: "Kotbahkan Injil pada setiap kesempatan dan gunakan kata-2 jika perlu." Hidup kita - sikap, perkataan, keputusan, perbuatan - harus mengkotbahkan iman kita sebab melakukan dan bertindak itu melampaui kata-kata. Ada waktunya kita menyampaikan Firman-Nya melalui kata-kata. Tuhan Yesus memberkati!

Lihat juga

Komentar


Group

Top